News‎ > ‎

Direktorat bagi Orangtua Galau

diposting pada tanggal 9 Feb 2015 20.40 oleh Jejen Musfah FITK
Dimuat di Sastra Harian Cakrawala, Senin, 9 Februari 2015     

Meski menuai kontroversi, Mendikbud Anies Baswedan akhirnya tetap melahirkan direktorat keayahbundaan. Anies berargumen bahwa di samping guru, orangtua juga bertanggung jawab terhadap pendidikan anaknya. Agar pendidikan di rumah berhasil diperlukan pedoman dan program bagi orangtua tentang apa dan bagaimana mendidik anak yang baik, baik perspektif agama, psikologi, maupun sosiologi-antropologi. Mick Karabegovic menulis, “Responsible parenting is the most valuable tool of our society.”

Kebijakan kontroversial itu dilatar belakangi lemahnya peran orangtua dalam membentuk karakter anak, rumah yang tidak nyaman bagi pertumbuhan anak, dan lemahnya kordinasi guru dan orangtua dalam memantau dan menangani masalah-masalah anak. Meski tugas direktorat keayahbundaan (seharusnya) bisa dijalankan dengan mengefektifkan tugas komite sekolah dan dewan pendidikan nasional—sebagaimana masukan dari berbagai pihak, namun Anies bergeming.           

Bagi pihak yang kontra, selain akan memerlukan dana yang besar, mendirikan direktorat baru jauh lebih rumit dibanding memberdayakan lembaga yang sudah ada sebelumnya, namun tidak efektif karena kurang perhatian dari pemerintah. Alih-alih memilih jalan yang sederhana, Anies malah memilih jalan yang berliku. Ada kesan, ia ingin menunjukkan kepada publik bahwa ia juga—seperti menteri kabinet kerja yang lainnya—punya program baru yang orisinil dan menggebrak. Berhasil atau tidak, biar waktu yang menjawabnya. Yang pasti, kebijakan ini terkesan tanpa persiapan yang matang—cara kerja yang kerap dikritik Anies sendiri.   

 

Keliru pikir

Namun, fakta buruknya pendidikan di rumah benar adanya. Perilaku menyimpang anak-anak usia sekolah seperti pacaran, seks bebas, merokok, memakai narkoba, ikut geng motor, dan tawuran, merupakan cermin buruknya hubungan, bimbingan, dan perhatian orangtua terhadap anak. Orangtua beranggapan bahwa guru dan kepala sekolah sudah menyelesaikan semua masalah anak, dari baca, tulis, hitung, hingga soal moral anak.

Sementara orangtua sibuk dengan urusannya sendiri. Seolah tanggung jawabnya hanya mencari uang untuk bayaran sekolah, liburan, dan kebutuhan sandang dan papan anak. Anak membutuhkan kehadiran orangtua secara fisik agar mereka bisa belajar langsung dari keduanya. Jesse Jackson menyatakan, “Your children need your presence more than your presents.” Cara orangtua membahagiakan anak tidak selamanya sesuai dengan keinginan anak.  

Mereka tidak belajar dari telpon, sms, e-mail, atau ceramah dari orangtua, tetapi dari perilaku keduanya. Anak adalah cermin orangtuanya. Jika ingin anak-anak tumbuh menjadi anak yang saleh, maka orangtua harus menjadi orang saleh. Menunaikan salat, mengaji, sabar mendidik anak, berkata lemah-lembut, memberikan pelukan, pujian, dan doa, mengatur waktu belajar, dan membatasi waktu dan tontonan anak, merupakan contoh sikap orangtua yang saleh.

Kekeliruan lain orangtua adalah menganggap warisan harta lebih utama dibanding ilmu. Keliru pikir ini menyebabkan anak tidak mengenyam pendidikan sebagaimana mestinya. Meski orangtua mampu, anak tidak sampai ke perguruan tinggi atau mengalami pernikahan dini. Harta bisa habis seiring bergulirnya waktu, sedangkan ilmu itu bertambah dan berkembang. Harta tidak mendatangkan ilmu, sedangkan ilmu mendatangkan harta. Orang kaya tanpa ilmu membawa keburukan, sedangkan orang kaya berilmu membawa kemaslahatan.

Mewariskan ilmu kepada anak lebih berharga dari apa pun di dunia ini. Ilmu melahirkan akhlak anak, baik kepada Allah, sesama manusia, maupun kepada alam. Kejahatan terjadi karena orang tidak atau kurang berilmu. Jika ada orang berilmu tapi melakukan kejahatan, itulah yang disebut ilmu yang tidak bermanfaat. Inti ilmu pengetahuan adalah tindakan yang semata baik.

Orangtua juga keliru dalam melihat masa depan anak. Dengan dalih masa depan yang cerah, ia sering memaksakan kehendak kepada anak. Sekolah, kursus, kuliah, dan liburan bukan inginnya anak, tapi inginnya orangtua. Ini bukan berarti bahwa orangtua tidak boleh mengarahkan anak. Justru orangtua wajib mengarahkan anak untuk memilih di antara sekian pilihan yang baik. Orangtua menyediakan pilihan, bukan memaksakan kehendak.

Anak berbeda dengan orangtuanya dalam hal kebutuhan dan keinginan. Anak bisa galau antara menjadi dirinya sendiri atau menuruti keinginan orangtua. Jika tak pandai mengambil jalan tengah (win-win solution), orangtua bisa mengalami konflik dengan anak. Disebutkan bahwa mendidik anak harus seperti main layang-layang: kadang menarik benang, kadang mengulur benang. Orangtua harus punya sikap keras dan lembut, tinggal menempatkan diri kapan bersikap keras dan kapan bersikap lembut.

Akhirnya, saya sepakat dengan C. Everett Koop bahwa, “Life affords no greater responsibility, no greater privilege, than the raising of the next generation.” Menjadi orangtua bukan tugas mudah di tengah maraknya fasilitas dan ajaran yang bertentangan dengan moralitas. Anak bisa kapan saja mengakses hal-hal yang tidak perlu, sementara orangtua tidak bisa selalu bersama anak.

Agar berhasil melahirkan generasi yang saleh, saatnya orangtua menjadikan rumah sebagai tempat menyemaikan benih akhlak mulia. Menurut Gandhi, “There is no school equal to a decent home and no teacher equal to a virtuous parent.” Artinya, keberhasilan dan karakter anak berhubungan dengan bagaimana kualitas orangtua memperlakukannya di rumah. Sebagus apa pun sekolahnya, jika rumah tidak nyaman bagi anak, dan orangtua tidak memberikan contoh yang baik, maka anak akan tumbuh tidak sesuai harapan.           

Pendidikan orangtua sangat berpengaruh terhadap kualitas pendidikan di rumah. Masih banyak orangtua yang tidak berpendidikan (not well educated), sehingga melahirkan anak-anak yang berperilaku menyimpang. Namun, saya percaya bahwa well educated tidak selalu identik dengan tingginya pendidikan (formal) orangtua. Orangtua yang mau belajar dari mana pun, dan bertanggung jawab terhadap pendidikan anaknya, itulah yang disebut well educated.

Seperti anak, orangtua juga bertumbuh. Ia harus bersedia belajar tanpa henti untuk menjadi guru bagi anak-anaknya. Jangan-jangan benar, direktorat keayahbundaan merupakan sumber dan media belajar (baru) efektif bagi orangtua yang galau sekaligus butuh bimbingan dalam mendidik anak. Wallahu a’lam bish-shawab.    

Comments