News‎ > ‎

Empat “Sekolah”, Satu Pemenang

diposting pada tanggal 14 Jun 2016 16.11 oleh Jejen Musfah FITK UIN Jakarta
Go Cakrawala, 09 Juni 2015

Undangan pesta bikini untuk anak SMA di sebuah hotel dan prostitusi online belum lama ini adalah dua contoh kasus yang terkait dunia pendidikan, khususnya masa depan anak-anak dan remaja. Bahkan muncul ide kontroversial dari Gubernur DKI, Basuki Tjahaja (Ahok), untuk melegalkan atau melokalisasi prostitusi.  

Bagaimana respon siswa terhadap undangan pesta bikini, dan bagaimana anak remaja terlibat prostitusi online, bukanlah persoalan yang mudah diurai. Di sini saya ingin menjelaskan bagaimana karakter anak dibentuk. Karakter anak dibentuk oleh pengalamannya di keluarga, sekolah, masyarakat, dan media (gawai dan televisi). Baik dan buruk anak sangat terpengaruh oleh siapa dan apa yang dominan dari keempat sekolah tersebut.

Empat Sekolah

Sekolah pertama adalah keluarga. Keluarga mendidik anak sejak kecil hingga dewasa, mulai perilaku, keterampilan, hingga pengetahuan. Di rumah setiap orangtua punya peraturan tak tertulis tentang baik-buruk, boleh dan tidak boleh. Namun, setiap orangtua punya caranya masing-masing dalam menyampaikan nilai tersebut kepada anak-anak.    

Masalah sering muncul dari cara orangtua mendidik. Niat baik harus dilakukan dengan cara yang baik. Niat baik yang disampaikan dengan cara keras dan kasar tidak akan berhasil. Anak bukan menerima, malah menolak. Disarankan, mendidik anak dengan filosofi main layang-layang. Tarik-ulur. Perpaduan antara sikap orangtua yang kadang perlu tegas, dan lain kali perlu lemah-lembut. Meninggalkan cara keras dan kasar. Jika hanya memakai cara tegas saja, maka anak tidak akan berhasil, seperti layang-layang yang tidak bisa terbang.   

Kasih-sayang orangtua penting bagi pertumbuhan anak, tapi jangan sampai berlebihan, sehingga malah memanjakan anak. Orangtua sering mengizinkan dan memenuhi keinginan anak yang tidak mendidik, seperti memberikan fasilitas telepon pintar, motor, dan mobil, padahal belum waktunya. Orangtua dituntut banyak belajar tentang cara mendidik anak, sehingga tidak ada konflik yang berujung pada “kekecewaan menaun” anak terhadap keduanya.     

Metode pendidikan yang dianggap efektif dalam pembentukan sikap adalah teladan. Sekuat apa pun keinginan orangtua menanamkan nilai, tanpa keteladanan dari keduanya akan sia-sia. Kebiasaan sikap dan tutur bicara orangtua membentuk karakter anak, yang baik maupun yang buruk. Tak perlu suara keras, dengan suara lembut dibarengi teladan, anak akan meniru kebiasaan orangtuanya. Orangtua sebagai teladan nilai baik-buruk; boleh dan tidak boleh.

Sekolah kedua adalah sekolah. Di sekolah anak diajarkan banyak hal yang berujung pada pembentukan pribadi yang beriman dan bertakwa. Pribadi yang saleh, berkarakter baik, berbudi luhur, sehingga menyenangkan orang lain. Tidak hanya pembelajaran di kelas, di sekolah ada ragam kegiatan untuk membentuk karakter siswa.

Akan tetapi, sekolah sering lupa bahwa bukti lebih penting daripada kata-kata atau yang tertulis. Tata tertib, visi-misi, dan buku-buku pelajaran selalu berisi hal-hal baik. Demikian juga kepala sekolah, guru, dan staf selalu bertutur kata yang baik. Namun kenyataan sering menunjukkan sebaliknya. Lebih mudah bicara tinimbang praktik.   

Mari absen seraya memberikan nilai tentang aspek-aspek berikut di sekolah: disiplin guru, budaya baca guru, cara mengajar guru, kebersihan sekolah, pelayanan staf, dan kepemimpinan kepala sekolah. Di sadari atau tidak, semua aspek itu membentuk watak siswa. Siswa belajar dan meniru apa yang dilihat dan dirasakannya di sekolah. Bohong kalau di sekolah hanya berisi hal-hal yang baik, yang buruk juga sangat nyata—yang bagi warga sekolah bisa jadi dianggap wajar-wajar saja.

Kekurangan sekolah sangat mudah dikenali dan dibaca dengan cara melihat kondisi toilet, ruang kelas, musola, bahkan ruang kerja kepala sekolah dan guru. Toilet yang tidak bersih, ruangan kelas dan jendela berdebu, dan ruangan guru yang tak rapih dan penuh dokumen yang berdebu dan tidak perlu, adalah cermin gagalnya sekolah menerapkan nilai-nilai baik. Jika mereka gagal membumikan nilai-nilai tersebut di “halamannya” sendiri, bagaimana mereka mampu menanamkan nilai-nilai baik ke siswa?        

Sekolah ketiga adalah masyarakat. Anak hidup di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Mereka punya teman bermain yang “sealiran”. Interaksinya lisan dan fisik. Jika senang mereka tertawa, jika sedih mereka menangis. Hari ini bertengkar, besok sudah baikan lagi. Mereka tidak hanya belajar dari teman sebayanya—di dalam maupun di luar rumah, tapi juga dari orangtua temannya (bagaimana mereka disambut dan diperlakukan selama bermain di rumah temannya sangat tergantung pada sikap tuan rumah).

Sekolah keempat adalah media (gawai dan televisi) sebagai bacaan dan tontonan wajib anak-anak generasi teknologi dan informasi (TI) saat ini. Di era ini anak-anak hidup dengan gawai, telepon pintar, tablet, dan laptop, yang berisi ragam bacaan, tontonan, dan permainan. Tak ada hari tanpa gawai. Gawai menjadi sekolah baru bagi anak-anak, melengkapi budaya nonton televisi yang eksis puluhan tahun lalu hingga saat ini.

Seperti televisi, gawai memiliki nilai baik dan buruk. Jika digunakan secara bijak, dengan atau tanpa bimbingan orangtua, maka gawai menjadi alat atau media yang menyediakan banyak hal positif, khususnya peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Tidak ada pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh mesin google. Belajar dan hidup menjadi lebih mudah, karena pengetahuan bisa diperoleh dalam waktu cepat. Dunia berada di ujung jari. 

Namun isi gawai tak selalu tentang informasi positif. Konten pornografi sangat mudah diakses. Konten media sosial kadang berisi hal-hal yang tidak produktif. Televisi sama. Program Keluarga Cemara, Laptop Si Unyil, Petualangan Si Bolang, Kick Andy Show, Kajian Agama dan Sejarah, dan seterusnya sangat mendidik. Tapi bagaimana dengan program sinetron dan kontes dangdut yang dalam dialog, sikap, dan kontennya tidak mendidik?           

Satu Pemenang 

Demikianlah empat sekolah secara bersama-sama membentuk anak-anak dan generasi muda Indonesia. Wajah dua generasi tersebut saat ini merupakan bukti siapa sesungguhnya pemenang (baca: pembentuk) karakter dua generasi kita tersebut. Siapakah yang lebih berpengaruh membentuk generasi muda kita? Orangtua, sekolah, masyarakat, atau media gawai dan televisi?        

Mendidik anak tak semudah yang dibayangkan. Dibutuhkan kesabaran yang besar dalam proses menjadikannya manusia dewasa yang bisa bertindak benar dalam situasi apa pun. Mendidik anak tidak semudah melukis di atas kanfas yang hasilnya sesuai dengan harapan si pelukis. Juga tak semudah bunda menyulam di atas kain dan si pemahat mengukir di atas kayu.

Mendidik tidak akan pernah mudah karena anak punya akal dan jiwa yang kapasitasnya sangat berbeda dengan orangtua dan guru. Apa yang diinginkan orangtua dan guru kadang tidak sesuai dengan anak-anak karena mereka punya dunia, akal, dan jiwanya sendiri. Orangtua dan guru harus belajar memahami dunia, akal, dan jiwa anak agar mereka bisa berdamai dengan anak-anak. Bukan sebaliknya, benturan keinginan antar keduanya.    

Saatnya orangtua, guru, masyarakat, dan pebisnis bergandeng tangan, membuat komitmen, menandatangani pakta integritas, tentang janji keberpihakan pada pembentukan karakter anak yang pintar dan berbudi pekerti luhur, sesuai kapasitas mereka masing-masing. Kesadaran bersama dibutuhkan karena saat ini yang terjadi adalah ketidaksinkronan tujuan empat sekolah, yang satu menyerukan kebaikan, namun yang lainnya menyesatkan.         

Comments