News‎ > ‎

Faktor Guru dalam Pelatihan

diposting pada tanggal 12 Jun 2016 15.42 oleh Jejen Musfah FITK
Suara Guru, Mei-Juni 2016

Kurikulum 2013 akan dilaksanakan di seluruh sekolah pada tahun ajaran baru 2016 ini. Mulai Maret diadakan pelatihan narasumber nasional (NS) yang terdiri dari guru, widyaiswara, dan dosen. Jenjang pelatihannya sebagai berikut. NS akan melatih instruktur nasional (IN) yang terdiri dari guru-guru terpilih. IN akan melatih instruktur provinsi (IP) yang berasal dari guru-guru di seluruh Indonesia. IP akan melatih guru dan kepala sekolah seluruh Indonesia. Kabarnya, K-13 dibuat lebih sederhana dibanding sebelumnya.

Narasumber dan IN berjumlah 917 orang, sedangkan guru dan kepala sekolah yang akan mengikuti pelatihan berjumlah 185 ribu orang. Metode pelatihan K-13 berbasis aktivitas dan kerja kelompok. Peserta tidak hanya mendengar dan mencatat, tetapi aktif dan praktik selama pelatihan sehingga tidak jenuh dan bosan. Pelatihan ini diharapkan selesai akhir Juni, sehingga pekan ketiga Juli guru-guru sudah bisa memulai pembelajaran menggunakan K-13.  

Tujuan pelatihan adalah menambah pengetahuan dan keterampilan, dan mengubah sikap peserta melalui pengajaran teori dan praktik keterampilan. Pelatihan yang baik terdiri dari teori dan praktik, menyenangkan, dan memberikan waktu yang cukup bagi peserta untuk istirahat dan olahraga. Pelatihan dari pagi hingga malam tidak efektif. Bosan dan melelahkan.      

 

Keberhasilan Pelatihan

Keberhasilan pelatihan sangat ditentukan oleh banyak faktor. Dalam tulisan ini hanya akan dibahas dua faktor saja, yaitu pelatih dan peserta. Pertama, pelatih harus menguasai materi. Keseriusan calon pelatih dalam mengikuti pelatihan sangat perlu. Tidak meninggalkan kelas saat pelatihan. Menghargai pelatih dan peserta lainnya. Mendengarkan penjelasan narasumber dengan baik. Calon pelatih harus kompeten. Dia adalah pembelajar. Cepat belajar ilmu dan keterampilan baru. Bertanya jika tidak paham. Berlatih dengan sungguh-sungguh.

Pelatihan lima hari tidak cukup untuk menguasai dengan baik K-13, sebaik apa pun pelatihnya. Maka peserta calon pelatih harus belajar mandiri atau kelompok setelah pelatihan berakhir. Belajar mandiri untuk memastikan bahwa ia siap menjadi pelatih yang kompeten, menarik, menyenangkan, dan inspiratif. Buku-buku dan file-file pelatihan dibaca dan dipelajari sampai khatam.

Proses perekrutan pelatih menjadi penting. Apakah para calon pelatih memiliki kriteria pembelajar? Apakah selain kompeten, ia juga punya integritas? Punya bakat sebagai pendidik. Menjadi pelatih bukan karena berharap materi an sich, tetapi semangat berbagi ilmu, sekaligus wahana belajar tiada henti saking cintanya kepada ilmu pengetahuan. Maka, dia senang meskipun bayarannya tidak seberapa, misalnya.

Pada saat pelatihan, pelatih benar-benar menjadi guru yang baik bagi peserta. Dia mengeluarkan seluruh kemampuannya agar peserta pulang dengan pemahaman K-13 yang baik. Pemanfaatan waktu sangat baik. Tidak lebih dan tidak kurang. Menutup terlalu cepat sesi pelatihan sama buruknya dengan melebihi waktu yang telah ditentukan. Apalagi mengurangi jumlah hari pelatihan.

Biasanya, peserta senang pelatihan ditutup lebih cepat dari jadwal semula, tetapi tidak senang pelatihan melebihi jam sesuai jadwal. Ironis, bukan? Pelatih dan panitia memegang peran penting dalam hal ini. Tidak ada kebaikan sedikit pun dalam mengurangi dan melebihkan waktu pelatihan. Pelatih jangan merasa ia harus mengajar dengan baik hingga lewat dari waktunya. Lihat dan rasakan pesertanya, mereka bosan dan lelah.       

Pelatih harus sabar karena kompetensi peserta beragam. Dia harus memastikan bahwa semua peserta sudah paham sebelum menutup sesi. Pengenalan kemampuan peserta penting agar pelatih bisa menjadikan peserta yang sudah mahir sebagai asisten, terutama mengajari peserta yang belum mahir dan sulit menangkap materi.

Kedua, peserta (baca: guru). Siapa guru kita? Apakah ia manusia pilihan? Apakah ia manusia pembelajar, bukan pemalas? Apakah ia guru biasa? Apakah ia orang yang benar-benar mengabdikan dirinya untuk pendidikan? Guru sebagai satu-satunya profesi, tidak ada yang lain, seperti bertani, berdagang, atau berpolitik.

Tidak semua guru kita pembelajar yang baik, sehingga pelatihan akan sia-sia atau tidak membekas. Guru pembelajar menyambut pelatihan dengan hati riang karena ia akan belajar hal-hal baru. Tidak dengan guru biasa. Dia menyambutnya dengan hati dingin. Biasa saja. Hanya senang karena meninggalkan sekolah, tidur di hotel, makan enak, ketemu wajah-wajah baru, dan dapat uang saku—meski kecil.

Keberhasilan pelatihan ditentukan oleh kondisi dan tipe gurunya. Guru pembelajar tidak akan berhenti belajar meski pelatihan telah usai. Dia akan belajar lagi dan lagi. Haus ilmu. Semakin banyak ia mengikuti pelatihan, maka ia semakin pintar. Tanpa pelatihan pun ia akan belajar sendiri dari koran, buku, majalah, jurnal, dan media daring (on line).

Kemajuan teknologi-informasi telah mengubah sumber dan cara belajar. Belajar tidak identik dengan menenteng buku, majalah, dan jurnal. Guru bisa membaca dan belajar tentang ragam informasi dan pengetahuan melalui telepon pintar dan tablet yang sangat mudah dan ringan dibawa ke mana dan kapan saja. Kini, belajar tidak lagi sesulit dulu, maka tidak ada alasan guru tertinggal informasi dan terkendala belajar. Hal ini terkecuali guru-guru di daerah terpencil yang sulit mendapatkan akses internet. Namun guru-guru tersebut tetap harus giat membaca dan belajar meski dalam keterbatasan.     

Guru biasa  keluar-masuk pelatihan demi pelatihan, tetapi tidak mengubahnya menjadi pintar dan pembelajar. Sebenarnya ia tidak cocok jadi guru, tetapi keadaan membuatnya jadi guru. Kesalahannya sudah dimulai sejak dari perekrutan guru. Kriteria menjadi guru sudah jelas dalam kertas atau regulasi tetapi tidak jelas dalam praktik. Pemerintah dan sekolah bisa menentukan siapa saja menjadi guru meskipun sebenarnya tidak layak.

Apakah kita harus menyerah? Tentu saja tidak. Nasi memang sudah menjadi bubur. Demikianlah faktanya guru kita. Siapa saja bisa menjadi guru. Misalnya belum sarjana, belum dewasa, tidak cakap, dan tidak punya ilmu pedagogik, tetapi bisa menjadi guru. Tidak apa-apa karena upahnya pun tidak seberapa. Mereka mau mengajar saja sekolah beruntung. Sarjana, apalagi magister, mana yang mau mengajar dengan upah kecil?

Sarjana bermutu tidak akan mau menjadi guru. Kalau pun mau, ia memilih sekolah yang memberikan upah yang layak. Tentu ada sarjana bermutu yang bersedia menjadi guru di sekolah meskipun upahnya tidak layak. Tetapi berapa jumlahnya?   

Oleh karena itu, tidak mudah menjamin keberhasilan pelatihan K-13. Pesertanya tidak semua guru pembelajar. Pelatihan harus mampu mengubah paradigma guru biasa menjadi guru pembelajar. Kalau mau menjadi guru harus berubah. Cinta baca, cinta belajar. Ilmu terus berkembang. Informasi dan kebijakan pendidikan tumbuh dengan sangat cepat. Guru harus membaca dan mengikuti perkembangan pendidikan. Fokus pada isu-isu pendidikan, bukan terjebak pada isu-isu privat dan lainnya di media sosial, seperti Facebook dan WhatsApp.

Guru kita harus berubah karena sekuat apa pun orang lain ingin mereka berubah, tidak akan berhasil jika mereka sendiri tidak mau. Pelatihan menghabiskan dana yang besar. Semua itu demi mengubah kompetensi guru. Mengubah pendidikan generasi muda ke arah yang lebih baik. Generasi muda berkarakter baik. Asa itu akan menggantang asap jika pendidikan diserahkan kepada guru-guru biasa. Guru yang malas belajar. Guru adalah faktor utama kemajuan pendidikan. (Jen)                  

Comments