News‎ > ‎

Film Bermutu yang Mendidik

diposting pada tanggal 12 Jun 2016 15.48 oleh Jejen Musfah FITK
Amanah, 06 April 2016
            Film sangat lekat dengan kehidupan manusia. Masyarakat membutuhkan hiburan setelah seharian bekerja atau belajar. Film hadir di rumah dan di bioskop—biasanya di mall-mall. Di rumah, film bisa disaksikan di televisi atau melalui alat pemutar dvd. Masyarakat dan anak-anak menonton lebih sering daripada membaca. Paradigma mereka dibentuk oleh tontonan.      

            Menonton film adalah hobi semua orang, tua-muda, dan remaja-anak-anak. Hobi yang murah-meriah. Ada waktu senggang, tekan remote on, pilih film sesuai selera. Waktu pun berputar terasa cepat. Tidak beranjak dari tempat duduk, mata fokus pada layar, bahkan saat jeda iklan—yang kadang sangat banyak. Di antaranya iklan rokok. Ironis.

            Menonton itu candu. Tidak bisa berhenti, selalu menunggu karena rindu. Jika filmnya berseri seperti sinetron, membuat penonton penasaran. Apa yang akan terjadi pada tokoh pujaan di episode berikutnya? Hal terindah dalam hidup adalah menanti detik-detik jam tayang film kesayangan, bukan saat adzan menggema memanggil. Sakitnya minta ampun saat nonton film drama seri listrik padam.

Film adalah sihir yang menggeser budaya bercengkrama anggota keluarga. Seru dan ramai di layar, tetapi sepi dan bisu di dalam keluarga. Candu film juga mengalahkan budaya baca yang seharusnya dimiliki masyarakat, apalagi anak-anak dan remaja yang masih mengenyam pendidikan. Membaca adalah kunci pengetahuan dan pembentuk kearifan manusia.

            Anak-anak menonton lebih banyak daripada orangtua. Tidak semua film layak ditonton oleh anak-anak. Sedikit pembuat film yang berorientasi pendidikan. Pada malam hari orangtua bisa mengontrol tontonan anak-anak. Tetapi, siang hingga sore hari anak-anak bisa menonton apa saja tanpa sepengetahuan mereka. Kedua orangtua tidak ada di rumah. Pembantu sering kalah oleh anak-anak.

            Anak-anak perlu diajar memilih film yang cocok buat mereka. Tegur dengan cara yang baik saat mereka menonton film yang tidak baik. Orangtua menjelaskan mengapa film-film tertentu tidak layak ditonton. Anak-anak mungkin tidak sependapat, atau membangkang. Tetapi jangan pernah bosan mengajari anak. Ironisnya, pilihan film para orangtua juga kadang tidak semuanya baik.    

Insan perfilman memiliki tanggung jawab membuat film bermutu yang mendidik. Wajah perfilman kita harus berubah agar masyarakat dan anak-anak tidak hanya mendapatkan hiburan tetapi pendidikan. Film-film kita harus menyampaikan pesan-pesan cinta tanah air, menghargai keragaman suku dan agama, hidup damai dalam perbedaan, cinta lingkungan, cinta baca, semangat belajar, kejujuran, sabar, anti korupsi, tanggung jawab, menjunjung tinggi moralitas, dan punya rasa malu.

Perilaku kekerasan dan pergaulan bebas anak dipengaruhi oleh film-film yang mereka tonton. Film-film yang bermuatan kekerasan dan percintaan selaiknya dikurangi. Pemerintah harus turun tangan mengelola film-film yang ditayangkan stasiun televisi, khususnya pada jam 12 siang hingga sore hari. Jam di mana orangtua tidak ada di rumah, sementara anak-anak bebas menonton film.

Jika perguruan tinggi dan sekolah diwajibkan pemerintah mengajarkan mata kuliah dan mata pelajaran tertentu yang dianggap perlu untuk membentuk warga negara yang baik, maka stasiun televisi pun wajib menayangkan film-film bermutu yang mendidik pada jam-jam tertentu. Bukan tidak ada film yang bermutu, masalahnya apakah pemilik stasiun televisi punya perhatian terhadap masa depan anak-anak dan remaja kita? Seharusnya, kebijakan perfilman mereka senafas dengan tujuan pendidikan nasional, melahirkan manusia yang berakhlak terpuji.   

Tidak semua orangtua punya keberanian anti televisi di rumah mereka, meski tahu benar dampak negatif film dan tayangan televisi. Orangtua harus mengajari anak bagaimana cerdas memilih tontonan, karena tidak semuanya di televisi buruk. Pemerintah dan pemilik stasiun televisi bekerjasama menghadirkan film dan tayangan bermutu yang mendidik, sehingga ke depan bangsa ini memiliki generasi penerus yang dapat membawa negeri ini menjadi bangsa yang maju dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, damai, dan dirahmati Allah Swt. 

Comments