News‎ > ‎

Guru Itu Kunci

diposting pada tanggal 12 Jun 2016 15.21 oleh Jejen Musfah FITK UIN Jakarta

Suara Guru, Maret-April 2016

Medio Februari 2016, anak saya mengikuti tes seleksi salah satu SMPIT di Bogor. Anak saya mengikuti tes tulis untuk beberapa mata pelajaran, membaca Al-Quran, dan wawancara. Orangtua juga diwawancara. Istri saya mendapat pertanyaan dari panitia seleksi (seorang ibu guru), “Mata pelajaran apa yang paling disukai oleh anak ibu?”

Jawabannya mengejutkan saya—tepatnya saat ia bercerita di rumah. Ternyata, istri saya lebih tahu tentang anak-anak daripada saya. Dia menjelaskan kepada guru tersebut, bahwa Neila (anak kami), persis seperti dirinya saat sekolah dulu. Masalahnya bukan pada mata pelajarannya, tapi siapa gurunya. Misalnya, pada saat kelas IV SDIT nilai mata pelajaran X-nya bagus, tapi di kelas V nilainya turun drastis.

Setelah ditanya kenapa turun drastis, gurunya berbeda. Menurutnya, cara mengajar kedua guru mapel tersebut berbeda. Guru di kelas IV menyenangkan dan tidak galak, sedangkan guru di kelas V tidak menyenangkan dan galak. Demikianlah, pengalaman di atas semoga menjadi catatan sekolah di mana pun.

Tentu banyak variabel yang menentukan perolehan nilai siswa, bukan semata kompetensi dan kepribadian guru. Tapi saya sepakat bahwa peran guru sangat penting dalam proses belajar-mengajar di kelas dan pendidikan di lingkungan sekolah. Guru ibarat sopir. Caranya mengemudi akan menentukan respon para penumpang. Semakin nyaman cara mengemudinya, maka semakin nyaman para penumpang.

Idealnya semua guru di sekolah menyenangkan siswa, entah saat mengajar maupun saat di lingkungan sekolah. Tapi tidak semua guru kompeten, karena tidak semua sekolah selektif dalam memilih guru. Guru kita banyak yang belum sarjana, dan pengalaman mengajarnya masih kurang. Di banyak sekolah, guru “keluar-masuk”. Wajar jika mereka lemah dalam kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional.

Pengajaran

Guru kompeten bisa dilihat dari, pertama, pengajaran. Guru menyiapkan pengajaran dengan baik mulai dari materi, metode, media, hingga penilaiannya. Ia menyiapkan skenario pembelajaran dari pembukaan, inti, hingga penutupan. Pembelajaran pun akan menyenangkan dan efektif.

Menciptakan pembelajaran menyenangkan tidak mudah. Setidaknya guru harus terampil memilih metode, berbicara, dan punya cita rasa humoris. Kedalaman pengetahuan guru harus dibungkus dengan sedikit daya humor, jika ingin siswa betah atau tidak jenuh di kelas. Jika guru merasa tidak mampu membuat siswa tertawa kecil, maka jangan khawatir karena hal itu bisa dilatih asal mau.

Guru harus melihat siswa sebagai individu yang unik dan memiliki potensi yang beragam. Mustahil semua bagus nilainya dalam mata pelajaran tertentu. Pengembangan ragam potensi siswa itulah yang harus disiapkan oleh sekolah, dan gurulah di kelas dan di luar kelas sebagai pelaksananya. Tidak dibenarkan sama sekali seorang guru memaksa siswa memperoleh nilai bagus dalam mata pelajaran tertentu—apalagi semua mapel, karena bertentangan dengan teori kecerdasan jamak.

 

Pendidikan

Kedua, pendidikan. Setiap sekolah memiliki tata tertib yang bertujuan melatih disiplin, tanggung jawab, dan kejujuran. Di Republik ini masih banyak sekolah yang menghukum siswa secara fisik (dari yang ringan hingga yang berat), meskipun menurut serangkaian penelitian hal itu tidak efektif. Efektifitas hukuman fisik hanya sesaat, tapi tidak baik dalam jangka panjang bagi perkembangan jiwa anak. Siswa patuh karena takut hukuman, bukan karena sadar bahwa taat aturan itu adalah sikap mulia dan menguntungkan.

Kecuali itu, sekolah sering fokus pada hukuman, tapi melupakan hadiah bagi siswa yang disiplin—bahkan sekedar ucapan atau piagam. Pujian kepada siswa yang berprestasi akademik dan non-akademik tidak cukup sekedar memberi pujian, tepuk tangan, sertifikat, tapi namanya layak diabadikan dan ditampilkan di lingkungan sekolah, baik berupa poster maupun saat upacara bendera. Penghargaan dan promosi prestasi siswa akan berdampak positif bagi penegakan disiplin dan belajar siswa di dalam dan luar sekolah.

Sangat disayangkan jika masih ada guru yang menghukum siswa dengan kekerasan, baik verbal maupun fisik. Kepala sekolah harus mengetahui sejak dini jika ada gurunya yang berpotensi menyiksa siswa. Pembinaan guru perlu dilakukan secara rutin agar guru memahami dengan baik fungsi dan perannya sebagai pendidik.

Tugas guru lainnya adalah mengawasi dan mendeteksi perilaku siswa yang membuat siswa lainnya tidak nyaman, terancam, dan terintimidasi. Penindasan siswa terhadap siswa lainnya tidak hanya bersifat fisik, tapi juga psikis seperti kata-kata yang merendahkan, menghina, dan mencaci-maki, sehingga membuat korbannya merasa stres.

Guru harus mampu meminimalisir terjadinya penindasan antar siswa agar siswa merasa aman dan nyaman di sekolah. Jika terjadi penindasan, maka guru harus menyelesaikannya dengan baik, melibatkan guru BK dan orangtua siswa. Penindasan (bullying) tidak boleh dianggap hal yang kecil dan sepele oleh guru dan sekolah.

Terakhir, guru harus memperlakukan semua siswa dengan adil. Tidak boleh ada perlakuan diskriminatif, baik karena latar belakang ekonomi, status sosial, agama, ras, dan golongan, bahkan kecerdasan. Guru harus menyayangi, mendekati, dan berinteraksi dengan semua siswa. Guru harus memperhatikan siswa yang pintar, sedang, dan lamban. Guru juga harus memberikan penilaian yang objektif terhadap siswa yang misikin maupun yang kaya.

Tidak diragukan lagi bahwa kompetensi guru memengaruhi kecintaan dan keberhasilan siswa dalam mata pelajaran tertentu. Sesungguhnya, memang materi pelajaran itu ada yang mudah dan ada juga yang sulit, tapi lebih sulit lagi adalah menemukan guru yang bisa menyampaikan materi sulit dengan cara yang simpel dan mudah dimengerti siswa. Di tangan guru biasa, materi sulit menjadi lebih sulit dimengerti siswa.  

       

 

Comments