News‎ > ‎

Ilusi Belajar yang Menyenangkan

diposting pada tanggal 15 Mar 2015 20.25 oleh Jejen Musfah FITK UIN Jakarta
Dimuat di Harian Go Cakrawala, Senin, 16/3/2015

Indonesia harus punya banyak guru hebat, dan sedikit sekali guru yang bermasalah. Guru hebat menguasai materi, ragam metode, dan memiliki kepribadian yang baik. Ben Franklin menulis, “Tell me and I’ll forget. Teach me and I’ll remember. Involve me and I’ll learn.” Siswa senang belajar bersama guru seperti ini. Mereka semangat berangkat ke sekolah karena belajar akan menyenangkan jiwa dan mencerahkan pikiran. Bukan sebagai beban.     

Menurut Colin Marsh dalam Becoming A Teacher (2008), guru harus punya keterampilan komunikasi yang baik, yaitu dalam menyampaikan pengetahuan (expository teaching), bertanya dan menjawab pertanyaan siswa (question-and-answer sessions), dan memimpin diskusi (discussion session). Apakah guru di kelas melakukan tiga hal ini dengan baik?

Masih kencang tersiar kabar bahwa guru tidak profesional. Guru dominan ceramah, karena siswa dianggap seperti gelas kosong yang tidak tahu apa pun (Saya paling tahu segalanya. Kalian anak baru kemarin sore. Tak tahu apa pun). Ia tidak membuka ruang bertanya kepada siswa, karena menganggap penjelasannya cukup, dan siswa sudah paham. Ia tidak menghargai pendapat siswa, apalagi jika berbeda dengan pendapatnya.

Guru hampir tidak pernah mengapresiasi kelebihan dan prestasi siswa di kelas, meski sekedar berupa ucapan (you’re excellent, you’re amazing, you’re awesome, I’m proud of you my son, and so on) atau sekedar tepuk tangan. Akhirnya, penilaian guru seperti ini cenderung subyektif—mudah tidak meluluskan, atau pelit nilai, karena senantiasa mengukur kompetensi siswa dengan kompetensinya. George Evans menulis, “Every student can learn. Just not on the same day or the same way.”

Guru macam ini yang mengakibatkan pembelajaran tidak menyenangkan, sehingga siswa malas belajar di sekolah. Siswa sudah tidak percaya kepada gurunya. Tidak ada musibah paling besar di sekolah kecuali guru yang kehilangan kepercayaan dari siswanya. Pembelajaran seperti apa yang akan terjadi ketika siswa sudah kehilangan antusiasme di kelas karena pengaruh guru yang tidak bisa menarik hati siswa-siswanya. Namun demikian, menarik membaca pernyataan Maya Watson, “Learning is a gift. Even when pain is your teacher.”

Colin Marsh menulis, “Communication is a key component of classroom life. Communicating effectively in the classroom requires giving particular attention to the element of explaining, questioning and listening. It is important to remember that communication is a two-way process and that teachers and students need to acquire skills associated with sending and receiving message.”     

 

Passion

Guru demikian bisa ada di mana saja, di sekolah negeri maupun swasta. Sepertinya kita tidak punya kuasa menyingkirkan guru semacam ini, karena sistem pendidikan kita penuh pengampunan alias tidak tegas. Celakanya, guru seperti ini tak mempan dinasihati. Meski acapkali diperingati secara lisan maupun tulisan, semuanya berlalu bagai pungguk merindukan bulan.

Di sekolah tidak akan ada guru seperti ini jika perekrutan dilakukan secara profesional. Sistem perekrutan yang memadukan syarat kemampuan akademis sekaligus passion orang menjadi guru. Passion guru maksudnya adalah orang yang punya bakat mengajar dan mendidik siswa dengan sepenuh jiwa-raga, seperti halnya ia menyayangi anak-anaknya sendiri. Tak ada marah, hardikan, cacian, cemoohan, apalagi pukulan.  

Scot Hayden menulis, “Teachers love three loves: love of learning, love of learners, and the love of bringing the first two loves together.”

Di negeri ini, yang terjadi siapa saja bisa menjadi guru asal mau dibayar seadanya (Gaji yang akan langsung habis dengan sekali masuk pasar untuk membeli sembako). Maka tidak heran jika di sekolah-sekolah masuk orang-orang yang menyerupai monster pembunuh masa depan generasi muda daripada sosok guru yang melapangkan jalan masa depan mereka.                     

Guru tidak mungkin mampu menyenangkan siswa di kelas dan di sekolah jika ia tidak senang dengan dirinya sendirinya dan profesinya.    

 

Simbol

Hadirnya guru perusak citra pendidikan itu disebabkan kepala sekolah tidak mampu melaksanakan perannya dengan baik, karena ia juga merupakan korban buruknya sistem dan miskinnya sekolah (Saya tidak ingin mengatakan, di sekolah yang berduit kepala sekolah dan semua gurunya bagus). Karena itu, kepala sekolah tidak lebih sekedar simbol. Perannya nihil dalam peningkatan kemampuan guru.

Sesuai perannya, kepala sekolah melakukan supervisi akademik. Di antaranya mengunjungi kelas untuk mengevaluasi kemampuan mengajar guru. Siswa bisa diberi angket untuk menilai kemampuan dan kepribadian guru. Evaluasi guru terkait aspek di luar pengajaran, bisa dilakukan teman sejawat. Gabungan hasil evaluasi guru dari ragam sumber tersebut bisa dijadikan bahan oleh kepala sekolah untuk perbaikan mutu guru di masa depan.

Hasil evaluasi bisa disampaikan kepada guru, sehingga guru tahu di mana kelebihan dan kekurangannya. Guru harus bisa menerima masukan dan kritik dari orang lain—sepanjang positif dan membangun. Menerima pujian itu menyenangkan dan mudah diterima, tetapi mendapatkan kritikan tidak mudah dan tidak menyenangkan. Maka, guru hebat adalah guru yang bisa menerima kritikan dengan hati lapang—tanpa dendam.

Kritikan itu seperti obat yang pahit rasanya namun menyembuhkan di kemudian hari. Guru yang mampu menerima dan menjadikan kritik sebagai cermin untuk perbaikan, akan mendapatkan dirinya jauh lebih baik dari keadaan sebelumnya. Guru pembelajar.  

Acapkali, guru sulit menemukan atau tidak merasakan kekurangan dalam dirinya. Ia memerlukan pihak lain di sekitarnya untuk menunjukkan kelebihan dan kekurangannya. Inilah pentingnya evaluasi atau supervisi oleh kepala sekolah. Evaluasi guru harus dianggap biasa di lingkungan sekolah, bukan suatu hal yang menakutkan apalagi dianggap tabu.

Jika supervisi akademik bisa dijalankan di sekolah secara teratur dan hasilnya ditindaklanjuti dengan perbaikan, niscaya kompetensi guru terus berkembang. Ujungnya, belajar yang menyenangkan bukan sekedar ilusi.       

Comments