News‎ > ‎

Jiwa Guru

diposting pada tanggal 12 Jun 2016 15.24 oleh Jejen Musfah FITK UIN Jakarta
SINDO, 20 Februari 2016

Ada dua pandangan di masyarakat tentang sosok guru. Pertama, guru harus ikhlas. Mengajar dan mendidik adalah tugas mulia, maka tidak boleh mengharapkan imbalan sekecil apa pun. Guru harus pandai mencari kerja sampingan di luar mengajar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Jika motif guru adalah semata materi dan kesejahteraan, maka sebaiknya ia mencari pekerjaan lain selain guru. 

Guru tipe ini bisa ditemukan di banyak sudut wilayah pertiwi. Mereka adalah guru-guru di daerah pedalaman, guru-guru ngaji, guru-guru anak jalanan, dan bahkan guru-guru di sekolah. Mereka mengajar tanpa pamrih selama belasan bahkan puluhan tahun. Hingga ajal menjemput. Meski upah mereka kecil, bahkan ada yang tidak dibayar, mereka tetap setia mengajar dalam serba kekurangan.

Film Laskar Pelangi yang laris itu di antaranya mengisahkan bagaimana perjuangan seorang ibu guru bertahan mengajar di sebuah sekolah yang siswanya sedikit, meski peluang menjadi guru dengan upah lebih baik sangat terbuka. Dia menolak “kelimpahan materi” demi mengajar anak-anak miskin, meskipun harus hidup sederhana. Harus ada yang peduli kepada pendidikan anak-anak duafa. “Kalau bukan saya, siapa yang mau?”

Menanggapi demo guru honorer K-2 baru-baru ini, seorang guru tipe ini menulis pengalamannya mengajar bertahun-tahun dengan upah kecil, bahkan meminta kepala sekolah tidak membayarnya. Ia menilai apa yang dilakukan guru-guru tersebut sebagai memalukan marwah guru. Guru ikhlas dipahami bahwa mengajar tidak boleh mengharap imbalan materi karena akan merusak pahala dan kredibilitas guru.        

Kedua, guru adalah profesi. Seperti profesi lainnya, dokter, pengacara, hakim, dan notaris, guru berhak mendapatkan upah yang menjamin kesejahteraan. Guru pantas memperoleh kehidupan yang layak. Demikian tersurat dalam UU Guru dan Dosen Tahun 2005. Karena itu, guru harus memiliki kualifikasi sarjana dan bersertifikat. Tidak sembarang orang bisa menjadi guru. Dia harus mengikuti pendidikan minimal empat tahun, dan satu tahun pendidikan profesi guru (PPG).

Guru PNS dan guru sekolah-sekolah berbiaya mahal, serta guru bersertifikat, telah mendapatkan upah bulanan yang cukup memadai. Kebijakan sertifikasi guru yang berdampak pada perbaikan kesejahteraan menaikan animo masyarakat untuk menjadi guru. Mahasiswa Prodi Keguruan melimpah meskipun diragukan keterpanggilan jiwa gurunya.

Guru Indonesia terbelah, sebagian guru berupah besar di satu sisi, dan sebagian guru berupah sangat kecil di sisi yang lain. Pemerintah dianggap diskriminatif. Ketika pemerintah mengabaikan nasib guru, maka guru berhak melakukan demo. Guru dari berbagai daerah berkumpul di depan Istana Negara selama tiga hari (11-13/02), bahkan lima guru meninggal karena kelelahan atau sakit. Memperjuangkan nasib dalam bentuk demo besar-besaran seperti ini, karena guru sadar bahwa pemerintah wajib menjalankan amanah regulasi, dan tentu saja janji kampanye presiden.  

Guru tipe ini sadar bahwa guru bukan profesi sampingan yang bisa dibayar di bawah standar upah minimum. Mengajar penuh selama enam hari dalam seminggu, pantas mendapatkan upah yang layak agar bisa menjalankan tugas dengan baik. Menjadi guru yang baik membutuhkan persiapan materi, metode, media, dan penilaian, dan pengembangan diri seperti membaca, berorganisasi, dan mengikuti pelatihan.

 

Tanggung Jawab Bersama

Meski diupah tidak layak, baik guru tipe pertama maupun guru tipe kedua, tetap menjalankan tugasnya dengan baik. Tidak ada cerita guru mogok mengajar karena diupah kecil. Guru-guru non-PNS Indonesia berupah kecil karena iuran bulanan orangtua siswa kecil, bahkan tidak membayar sama sekali, karena sudah ada dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Masyarakat sesat pikir atau disesatkan tentang makna sekolah gratis.

Menjawab masalah upah kecil guru honorer K-2 dan guru-guru lainnya diperlukan langkah serius yang melibatkan tidak hanya pemerintah pusat, tetapi juga pemerintah daerah, dan masyarakat. Pemerintah pusat bisa saja mengangkat mereka menjadi PNS dengan syarat mengikuti ujian atau bersedia ditempatkan di daerah terpencil. Kompetensi merupakan syarat disamping masa pengabdian guru. Tawaran pemerintah ini cukup realistis, asal dilakukan dengan transfaran, jujur, dan adil.

Jika pengangkatan PNS tidak bisa dilakukan bagi semua guru honorer K-2, maka solusi lain harus segera dibuat pemerintah. Misalnya, pemberian sertifikat pendidik melalui “jalur khusus” bagi mereka yang sudah mengabdi di atas tiga tahun. Dengan demikian, guru berhak memperoleh dana Tunjangan Profesi Guru (TPG), dan tidak terlambat.  

Pemerintah daerah bisa memberikan Tunjangan Kinerja Daerah (TKD) atau tunjangan fungsional—apapun namanya—kepada semua kategori guru sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Pemda juga bisa menerbitkan kartu khusus guru yang bisa digunakan untuk berobat gratis dan pendidikan gratis. Prinsipnya, tidak boleh ada keluarga guru yang tidak bisa berobat dan tidak bisa sekolah dan kuliah karena tidak mampu membayar.

Masyarakat mampu harus bersedia membayar iuran sekolah secara rutin karena di sekolah negeri tidak semua guru PNS, apalagi sekolah swasta yang mengandalkan seluruh biaya operasionalnya dari wali murid. Pendidikan tidak hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga masyarakat mampu.     

Upah dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan sekolah tersebut akan membuat pendapatan guru membaik. Pemerintah dan masyarakat harus bisa menghapus kesenjangan upah antara guru PNS dan non-PNS, guru bersertifikat dan belum bersertifikat, sehingga guru merasa diperlakukan adil dan dihargai. Upah yang memadai akan melahirkan guru kompeten.

Guru yang ikhlas juga membutuhkan makanan dan pendidikan yang baik untuk keluarganya. Mereka menolak bekerja selain mengajar karena jiwanya di sekolah, di dunia pendidikan, bukan di dunia bisnis atau kerja lainnya. Mereka sadar tidak akan menjadi kaya karena menjadi guru. Jika guru sudah banyak yang menaruh jiwa-raganya untuk mendidik generasi republik ini, maka kapan pemerintah serius mengelola dan mensejahterakan mereka?             

 

Comments