News‎ > ‎

Kecerdasan Berkembang dalam Kegembiraan

diposting pada tanggal 5 Agt 2016 07.03 oleh Jejen Musfah FITK UIN Jakarta

Resensi Buku, Majalah Suara Guru, Edisi September-Oktober 2016

Ketiadaan buku dan media, bahkan ruang kelas tidak boleh menyurutkan pembelajaran sepanjang masih ada guru. Guru tidak akan tergantikan dalam pembelajaran. Siswa bisa belajar mandiri melalui buku dan media, tetapi melalui bimbingan seorang guru, siswa lebih cepat memahami pengetahuan atau menguasai keterampilan tertentu. Menurut Skinner, mengajar adalah mempercepat proses belajar (h.177).

Belajar harus sampai pada penguasaan siswa terhadap keterampilan-keterampilan yang khusus. Praktik harus lebih dominan dalam pembelajaran, paling tidak seimbang dengan pengkajian teori. Oakeshott menulis, pendidikan terutama ditujukan untuk mendapat keterampilan (h. 96). Selanjutnya, siswa difasilitasi dan dilatih untuk menemukan dan menciptakan hal-hal baru dalam bidangnya masing-masing. Piaget menilai, pendidikan berarti menghasilkan pencipta, sekalipun tidak banyak (h. 77).

Tujuan dari setiap temuan baru sejatinya untuk menciptakan kehidupan manusia yang lebih baik. Terbukti, kemajuan teknologi abad 21 mampu mengubah aspek ekonomi, politik, pertahanan, dan pendidikan ke arah yang lebih baik. Akan tetapi, kemajuan itu tidak ada artinya ketika sebagian manusia modern membunuh manusia lainnya melalui perang atau terorisme—dengan alasan apa pun. Padahal seharusnya, kehidupan akan lebih baik melalui pendidikan (Broudy, h. 131).

Maka, mengajar berarti merangsang berpikir siswa, seperti kata Heidegger, guru selaiknya menerima pemikiran atau menantang pemikiran anak (h. 55). Siswa dibiasakan memecahkan sejumlah masalah. Buku pelajaran memuat sekumpulan materi, tetapi guru yang akan memilih metode, strategi, dan pendekatan mengajar sehingga materi itu menjadi menarik dan mudah dimengerti oleh siswa.

Di kelas guru harus percaya pada kemampuan siswa, agar ia sukses menjadi fasilitator (Rogers, h. 99). Belajar-mengajar membutuhkan ketekunan dan kesabaran guru, disamping fasilitas yang memadai dan lingkungan yang kondusif. Maka, guru harus fokus dan punya waktu yang cukup untuk membina siswa. Jika tidak, maka pembelajaran tidak akan efektif.

Guru juga merupakan kunci pembelajaran yang menyenangkan. Simone Weil menulis, kecerdasan hanya tumbuh dan berkembang dalam kegembiraan (h. 142). Ciri murid gembira di kelas adalah ketika mereka merasa belajar bukan sebagai beban dan bukan aktivitas yang membosankan. Guru adalah salah satu alasan suka atau tidak suka para siswa belajar di kelas.

Mata pelajaran yang terlalu banyak juga berakibat buruk pada mental siswa. Siswa belajar banyak hal yang belum tentu berguna bagi kehidupan mereka kelak. Oleh karena itu, Sizer menawarkan, kurikulum yang “sedikit berarti banyak”, atau pentingnya kualitas belajar dibandingkan kuantitas mengajar (h. 457). Jika yang sedikit tapi utama, maka lebih baik, dibanding banyak tapi tidak utama.

Kecuali itu, guru harus menghindari hukuman fisik, karena menurut Neil, hukuman akan selalu menjadi tindakan kebencian (h. 11). Mengajak siswa yang bersalah berbicara dan berdialog empat mata jauh lebih baik daripada langsung menghukum siswa di depan teman-temannya. Tujuan dialog adalah menggali informasi mengapa anak berbuat yang tidak seharusnya. Dengan demikian, guru tahu akar masalahnya, dan bagaimana seharusnya masalah tersebut diselesaikan.

Dari pemaparan di atas cukup jelas bahwa tugas guru tidaklah ringan. Karena itu, guru layak mendapatkan gaji yang memadai untuk hidup sejahtera. Suatu hal yang masih menjadi mimpi bagi sebagian besar guru di republik ini. Linda Darling-Hammond menjelaskan, doronglah dan hargailah pengetahuan dan keterampilan guru (h. 544).

Di negeri ini guru tidak dihargai. Hakim yang menjatuhkan vonis 3 bulan penjara kepada guru Samhudi karena mencubit siswanya (4/8/2016), sungguh ia tidak memahami tugas dan kondisi guru yang sebenarnya. John White menulis, setiap warga bertanggung jawab memikirkan tujuan pendidikan (h. 478). Sikap hakim tersebut membuktikan bahwa seolah-olah tanggung jawab pendidikan hanya ada pada guru dan orangtua. Sebagai hakim, seharusnya ia menjadi pendidik bagi masyarakat dengan mengambil keputusan yang adil.      

 

Judul:

Ide-ide Brilian 50 Pakar Pendidikan Kontemporer Paling Berpengaruh di Dunia Pendidikan Modern

Editor: Joy A. Palmer

Penerbit: IRCiSoD, Yogyakarta

Tahun: 2015

Tebal: 571 halaman

 

 

 

 

Comments