News‎ > ‎

Kecerdasan Ekologis di Kampus

diposting pada tanggal 14 Jun 2016 16.04 oleh Jejen Musfah FITK UIN Jakarta
Go Cakrawala, 01 Juni 2016

Meski tidak sering, kita pernah mendengar istilah pemanasan global (global warming), green peace, penghijauan, tas plastik, sampah organik, dan sampah anorganik. Dari beberapa istilah di atas, kita mengetahui pentingnya sikap ramah lingkungan, seperti mengurangi atau meninggalkan penggunaan tas plastik, hemat listrik, dan hemat air.

Apakah seruan gerakan hidup hemat, hidup hijau, dan hidup cerdas itu berhasil di level masyarakat, pemerintah, sekolah, bahkan kampus—yang notabene masyarakat terpelajar? Tidak. Mayoritas kampus punya visi menjadi universitas bertarap dunia, tapi melupakan penghijauan kampus, pemilahan sampah, hemat kertas, dan hemat listrik.             

Karena itu, diperlukan pemahaman civitas kampus tentang apa itu kecerdasan ekologis? Kecerdasan ekologis adalah suatu pemahaman akan dampak ekologis tersembunyi dan pemecahan untuk memperbaiki hal tersebut (Amirullah, 2015). Dari pemahaman ini, diharapkan terwujud aksi nyata civitas kampus untuk melakukan hal tepat, baik, dan benar dalam upaya mendukung lingkungan yang hijau dan nyaman untuk hidup bersama.

Beberapa pandangan berikut mungkin bisa dijadikan pertimbangan rektor dan dekan dalam memimpin kampus saat ini dan di masa mendatang. Pertama, penghematan kertas (paperless). Skripsi, Tesis, dan Disertasi—selanjutnya disingkat STD—dalam bentuk hard cover, kertas A4, dua spasi, dan penggunaan satu sisi kertas harus segera ditinggalkan. Skripsi dikemas sehemat mungkin dalam penggunaan kertas, seperti soft cover, kertas B5, dan bolak-balik. Penggandaan STD akhir untuk kampus cukup dua saja, selebihnya—sesuai kebutuhan—diserahkan dalam bentuk soft file.

Atas kordinasi lembaga penjaminan mutu, setiap satu semester, masing-masing konsorsium dosen melakukan penilaian terhadap STD yang layak diterbitkan oleh lembaga pers kampus, sehingga mahasiswa bisa belajar dari buku-skripsi tersebut. Buku ini disebarkan di perpustakaan internal dan eksternal kampus. Disamping manfaat penyebaran ilmu, langkah ini juga bisa menaikan ranking webomatrics kampus.

Surat-menyurat internal kampus yang selama ini menggunakan kertas bisa digantikan dengan surat elektronik, seperti sms, whatsapp, dan email. Misalnya, surat undangan, surat penunjukkan pembimbing, surat menguji STD, dan pengumuman.  

Saya yakin, dari prinsip paperless ini, kampus bisa menghemat puluhan bahkan ratusan juta rupiah per-tahun. Intinya, bagaimana kampus melihat hal-hal terkait penggunaan kertas selama ini yang mungkin bisa digantikan dengan surat elektronik semisal, sms, whatsapp, facebook, dan email. 

Kedua, penghematan listrik. Apakah di kampus, infokus, ac, lampu, dan air sering dibiarkan menyala, padahal sudah tidak digunakan lagi? Membiarkan hal-hal tersebut menyala terus menyebabkan penggunaan listrik menjadi besar. Berapa bahan bakar pembangkit listrik terbuang secara percuma?    

Air bersih sering dibiarkan terbuang, karena kebocoran kran atau pipa tidak segera diperbaiki, atau orang yang membuka lupa menutupnya kembali. Meski kebocoran kecil, kran atau pipa harus segera diperbaiki. Tidak harus office boy, semua orang di kampus harus sadar mematikan lampu jika masih menyala di pagi, siang, atau sore hari. 

Mahasiswa, staf, dan dosen dibiasakan tidak menggunakan lift jika masih memungkinkan naik atau turun tangga. Misalnya naik atau turun satu atau dua lantai. Kapan lagi punya budaya jalan kaki selain naik turun tangga kampus? Hampir semua aktivitas kita dari bangun tidur hingga sore—bahkan malam—hari adalah duduk, baik di mobil, motor, kelas, kantor, dan kantin.   

Penggunaan fasilitas kampus di atas secara cerdas di atas akan memperpanjang usia pemakaiannya. Namun kadang kita mengabaikan hal-hal kecil di sekitar kita, karena merasa bukan tanggung jawab kita. Pengadaan fasilitas kampus mungkin sulit, namun lebih sulit lagi melakukan pemeliharaannya. Tanggung jawab pemeliharaan fasilitas kampus menjadi tanggung jawab bersama, bukan semata tugas unit tertentu.    

Ketiga, pemilahan sampah. Sampah adalah suatu bahan yang terbuang atau dibuang dari sumber hasil aktivitas manusia maupun alam yang belum memiliki nilai ekonomis. Pemilahan sampah adalah salah satu proses dalam pengolahan sampah, yaitu dengan memisahkan menjadi kelompok sampah tertentu. Kelompok sampah ini biasanya berupa sampah organik dan anorganik atau sampah basah dan sampah kering (Rahayu, 2013).

Sampah kampus tidak bisa dibilang sedikit. Karena itu, mendesak segera menyediakan tempat sampah dengan kategori organik, anorganik, dan B3 (bahan berbaya dan beracun). Jika sampah sudah terbagi ke dalam tiga kategori tersebut, bukan tidak mungkin kampus tidak perlu memikirkan bagaimana membuang sampah tersebut. Sebaliknya, melalui kerjasama dengan pihak tertentu, mungkin sampah bisa dijemput dari kampus.      

Sampah dari kampus seperti kertas dan botol minuman merupakan sampah yang bisa didaur ulang menjadi benda baru yang bernilai ekonomis. Bayangkan, dari sampah ini berapa rupiah yang bisa dikumpulkan kampus yang salah satunya bisa untuk kesejahteraan karyawan.  

 

Pemimpin Sejati

Bagaimana memulai perubahan budaya hemat kertas dan listrik di kampus tersebut? Siapa pun bisa melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Mulai dari diri sendiri. Mahasiswa, staf, dan dosen bisa melakukan perubahan. Akan tetapi, perubahan yang dilakukan secara individu-individu pengaruhnya kecil dan membutuhkan waktu yang lama.

Perubahan budaya lembaga pendidikan jauh akan lebih efektif jika ada kemauan baik (political will) atau tekad kuat dari pemimpin tertinggi. Di kampus adalah rektor dan dekan. Maka, yang dibutuhkan sesungguhnya adalah kehadiran rektor dan dekan yang punya visi hemat kertas dan listrik. Titik. Sederhana tapi membumi.

Maksudnya, inilah sesungguhnya persoalan global yang pemecahannya bisa dilakukan di lingkungan kampus. Sebagai contoh logika, jika kampus belum bisa menemukan pengganti bahan bakar minyak melalui riset, mengapa tidak melakukan penghematan listrik dan kertas, sehingga bisa memperlambat kehabisan bbm.  

Pemimpin sejati bukan lah pemimpin yang selalu berpikir besar dan tinggi tapi tidak pernah bisa mewujudkannya dalam kenyataan. Pemimpin sejati adalah pemimpin yang memikirkan hal-hal kecil di sekitarnya, dan mampu menjawab permasalahan global melalui tindakan-tindakan kecil di lingkungannya.

Pemimpin sejati adalah pemimpin yang mampu melihat hal-hal konkrit—kecil maupun besar—di sekitarnya, dan dengannya ia mampu menyelesaikan persoalan-persoalan global. Perubahan besar dimulai dari hal-hal sederhana, ringan, dan kecil, serta dilakukan secara bertahap dan konsisten. Pemimpin sejati bersedia menengok ke dalam organisasi sendiri, memperbaiki kekurangan, dan belajar dari orang lain.     

Comments