News‎ > ‎

Keluarga Pembelajar

diposting pada tanggal 11 Jul 2016 20.22 oleh Jejen Musfah FITK
Amanah, Selasa, 12/7/2016

Ada dua perilaku anak-anak dan remaja yang mengkhawatirkan akhir-akhir ini. Kekerasan seksual terhadap anak dan perundungan (bullying) di sekolah. Anak-anak dan remaja dalam dua kasus tersebut tidak hanya menjadi korban tetapi juga sebagai pelaku. Baik sebagai korban maupun sebagai pelaku, keduanya menyiratkan masalah yang tidak ringan.

Menjawab persoalan tersebut melalui pembenahan pendidikan di sekolah tentu benar, tetapi itu saja belum cukup. Mendidik keluarga menjadi tempat yang kondusif bagi pertumbuhan kecerdasan dan karakter anak juga sangat penting dan utama. Menyalahkan pendidikan sekolah semata, tetapi mengabaikan pendidikan keluarga adalah keliru.

Keluarga merupakan tempat pertama dan strategis penumbuhan kecerdasan dan karakter anak karena di sanalah pertama kali anak tumbuh sebelum masuk sekolah dan di sana pula anak paling banyak menghabiskan waktunya. Maka, kualitas keluarga sangat penting dalam tumbuh-kembang setiap anak.

Di samping tanggung jawab pemenuhan kebutuhan anak yang bersifat fisik, seperti makan-minum, pakaian, dan tempat tinggal, keluarga memiliki tanggung jawab yang lebih utama kepada anak, yaitu mengembangkan kecerdasan dan karakter anak. Ironisnya, baik keluarga mapan secara ekonomi maupun keluarga lemah, sering mengabaikan pembentukan karakter anak.

Pertama, orang tua adalah guru pertama yang mengajarkan anak berbicara, membaca, menulis, dan berhitung. Kelambanan anak dalam kemampuan calistung bisa jadi karena mereka menyerahkan sepenuhnya hal tersebut kepada guru-guru di sekolah, sementara di rumah tidak pernah ada pembelajaran sama sekali.  

Orang tua juga membantu anak menyelesaikan tugas-tugas sekolah dengan cara membimbing dan mengarahkan, bukan dengan cara mengerjakan tugas anak. Orang tua bisa saja menyediakan guru khusus untuk anak di rumah, tetapi bimbingan orang tua tetap diperlukan. Di samping itu, orang tua sejak dini mengenali bakat anak dan mengembangkan bakat tersebut sesuai kemampuan mereka masing-masing.     

Kedua, orang tua adalah guru utama dalam mengembangkan karakter anak sejak dini melalui teladan mereka, pembiasaan anak, dan disiplin seluruh anggota keluarga. Justeru, di masa-masa anak sebelum sekolah lah pembentukan karakter ini sangat penting. Membentuk karakter menjadi anak yang baik tidak mudah di zaman penuh serba-serbi bacaan dan tontonan tidak mendidik yang tersedia sangat dekat dengan anak.  

Keberhasilan pendidikan karakter anak di rumah akan melahirkan anak yang tidak hanya mampu berbuat baik pada dirinya sendiri tetapi juga mampu berbuat baik kepada orang lain. Anak yang dibiasakan mengasihi sesama tidak akan mampu menyakiti orang lain, apalagi sesama siswa teman satu sekolah atau lain sekolah, seperti pada kasus perundungan dan tawuran yang terus terjadi.

Tidak hanya itu, anak yang terbiasa terbuka di rumah kepada orang tua akan terhindar dari kejahatan yang dilakukan berulang kali kepada dirinya, seperti dalam kasus perundungan atau kejahatan seksual yang dilakukan sampai berkali-kali dan dalam jangka waktu yang cukup lama. Mungkin juga, kedekatan anak dengan orang tua bisa menghindarkan anak dari kasus kekerasan, karena orang tua segera bertindak.     

Singkatnya, anak yang tumbuh baik di rumah bersama orang tua yang baik akan mencegah mereka berbuat buruk kepada orang lain sekecil apa pun apalagi kejahatan besar, sekaligus akan terhindar dari kejahatan yang dilakukan berulang terhadap dirinya, bahkan bisa mencegah tindak kekerasan atau kejahatan.      

 

Hubungan yang Baik

Kenyataannya, tidak semua keluarga mampu mendidik anak-anak dengan baik karena beragam alasan, seperti sibuk, tidak berpendidikan, tidak paham ilmu pharenting, dan pernikahan dini. Solusinya dua. Pertama, orang tua memperbaiki hubungan dengan anak. Anak adalah cermin orang tuanya meskipun setiap anak lahir membawa bakat dan karakter mereka masing-masing. 

Meski orang tua sibuk, mereka harus menyempatkan waktu mendengarkan cerita, harapan, dan keluh-kesah anak. Orang tua yang sering meninggalkan rumah bersedia menelepon rumah. Anak boleh menonton televisi tetapi dibatasi jam dan programnya. Anak diberi fasilitas internet melalui telepon atau komputer tetapi diberi pengertian apa saja yang layak dibaca dan ditonton.     

Kedua, orang tua memperbaiki hubungan dengan guru. Orang tua tidak bisa menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak kepada guru, karena waktu guru terbatas. Satu atau dua guru mendidik 20 hingga 40 peserta didik, bagaimana bisa efektif? Komunikasi dan dialog antara orang tua dan guru dibutuhkan pada saat-saat tertentu, terutama pada saat anak mengalami masalah—kecil maupun besar. Kasus pemenjaraan seorang guru oleh orang tua tidak perlu terjadi jika orang tua memahami kesulitan guru dan menanggalkan egoisme.

Orang tua harus mencari tahu bagaimana perilaku anaknya di sekolah melalui guru langsung, tidak semata dari apa yang dikatakan anak. Menelepon atau mengirim sms bisa dilakukan jika memang betul-betul tidak sempat ke sekolah. Jika ada masalah dengan anak di sekolah atau di rumah, orang tua bisa menjadikan guru sebagai tempat bertanya dan berdialog.       

Inti dari dua solusi tersebut adalah kemauan orang tua untuk belajar. Belajar dari kasus kekerasan pada anak yang sering terjadi. Belajar di mana pun selagi sempat. Belajar melalui media apa pun tentang ilmu pharenting, baik dari buku, ceramah, maupun internet. Mungkin saja, cara mendidik anak yang kita terapkan di rumah selama ini kita anggap benar padahal sejatinya salah.  

Kemendikbud melalui direktorat pembinaan pendidikan keluarga misalnya, menyediakan buku petunjuk teknis bagi orang tua dan guru terkait pendidikan anak. Tujuannya adalah terbentuknya keluarga hebat melalui kemitraan dengan sekolah. Sumber belajar menjadi orang tua bijak sangat melimpah. Maukah kita para orang tua belajar membangun keluarga hebat?       

Comments