News‎ > ‎

Kompetensi Sarjana Keguruan

diposting pada tanggal 14 Jun 2016 16.46 oleh Jejen Musfah FITK
Republika, 29 September 2015

Ketika masyarakat ramai antri melamar kerja sebagai ojek motor di Senayan, tersiar kabar bahwa banyak dari mereka yang menyandang gelar sarjana. Kabar tersebut menyiratkan nada sinis: bagaimana mungkin seorang sarjana bekerja lebih rendah dari kualifikasi pendidikan dan kompetensinya.     

Ketika banyak sarjana memilih ojek sebagai pekerjaan, pimpinan PT patut mengevaluasi kurikulum dan proses pembelajarannya. Kecuali faktor minimnya lapangan kerja, kompetensi sarjana merupakan faktor penting dalam memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya. Bagaimana bisa kompetensi sarjana tidak sesuai dengan profil lulusan program studinya?    

Sebagai gambaran, saya kemukakan sarjana keguruan yang jauh dari kompeten, sehingga mayoritas sulit mengajar di sekolah yang bagus atau menjadi guru di sekolah dengan standar biasa, namun keberadaan mereka tidak inspiratif dan tidak mencerdaskan. Sarjana keguruan, banyak yang bekerja selain guru karena merasa tidak nyaman menjadi guru.

Pertama, guru tidak mampu melaksanakan pembelajaran aktif dan menyenangkan (active and enjoy learning). Metode mengajar yang digunakan masih dominan ceramah dan satu arah. Seolah-olah siswa tidak tahu apa-apa tentang materi yang akan disampaikan guru. Guru mendominasi kelas, sementara siswa banyak diam dan mendengarkan. Padahal di kampus, mereka sudah belajar dan praktik pembelajaran aktif melalui micro-teaching.   

Kedua, cara mengajar guru terpaku pada buku pelajaran (book oriented). Materi belajar tidak dikaitkan dengan kehidupan dan lingkungan siswa, sehingga tidak kontekstual. Penyampaian materi yang “apa adanya” seperti ini menimbulkan kebosanan dan tidak menimbulkan antusiasme siswa dalam pembelajaran, karena jauh dari jangkauan siswa.     

Ketiga, banyak guru yang memberikan hukuman fisik terhadap kealfaan dan kesalahan siswa, sehingga mengakibatkan luka ringan hingga luka berat. Banyak guru yang menganggap dan meyakini bahwa hukuman fisik lebih efektif daripada hukuman non-fisik. Meski secara teoritis hukuman fisik tidak dibenarkan, guru bergeming. Perkuliahan dan pelatihan pedagogik tidak bisa mengubah paradigma guru.       

Keempat, guru tidak pandai menyampaikan gagasannya secara lisan dengan baik. Penyampaian materi di kelas sangat kaku, sehingga siswa tegang dan tidak merasa senang dalam belajar. Intonasi suara guru sangat datar, tidak enak di dengar. Guru harus belajar bagaimana menjadi sosok humoris—tanpa berlebihan—di depan siswa saat mengajar, agar mereka bisa menikmati pelajaran sebagaimana halnya bermain.  

Kelima, guru tidak pandai menyampaikan gagasannya secara tulisan. Meski terbiasa membuat makalah dan membuat skripsi di akhir kuliah, guru kerap kesulitan membuat penelitian tindakan kelas (PTK) sebagai syarat kenaikan pangkatnya. Akibatnya, guru “membeli” PTK demi kenaikan pangkatnya. Padahal, dalam regulasi jelas bahwa guru harus memiliki keterampilan menulis. 

Kelima, kemampuan bahasa Inggris dan Arab guru rendah sehingga tidak bisa mengajar di sekolah dengan sistem bilingual atau di sekolah unggulan. Mahasiswa LPTK sering mengalami kendala pemenuhan skor nilai minimal TOEFL dan TOAFL sebagai syarat ujian skripsi, sehingga waktu kuliah lebih lama.    

Evaluasi LPTK

Beberapa kelemahan sarjana keguruan tersebut bisa dijadikan bahan evaluasi pengelolaan LPTK, mulai dari masukan, proses, hingga keluarannya. Kelemahan LPTK bukan semata mutu mahasiswa yang lemah, tapi juga fasilitas, dosen, dan prosesnya.    

Pertama, jumlah mahasiswa LPTK dibatasi sesuai kebutuhan guru dan diseleksi secara ketat untuk memperoleh mahasiswa yang cerdas, unggul, dan berbakat jadi guru. Mahasiswa baru LPTK sering tidak yakin bahwa mereka siap menjadi guru, bahkan ada yang tegas menjawab tidak mau menjadi guru. Di sini, pasti ada yang salah dengan sistem penerimaan mahasiswanya.

Kecuali itu, jumlah LPTK perlu dibatasi. Pemerintah terlalu mudah membuka LPTK tanpa mempertimbangkan standar mutu. Padahal, banyak LPTK menerima mahasiswa sebanyak-banyaknya tanpa mempertimbangkan kualitas, demi memperoleh dana besar. Akibatnya, mutu guru tidak terkontrol, meskipun ada pendidikan dan latihan profesi guru oleh lembaga terpercaya.       

Fasilitas belajar seperti buku, jurnal, laboratorium Bahasa dan komputer, disediakan dengan standar yang baik, sehingga mahasiswa merasa nyaman, mudah, dan terbantu dalam belajar. Mahasiswa harus terbiasa dengan sumber-sumber berbahasa asing, sehingga kemampuan Bahasa asing mereka teruji.

Optimalisasi dan efektivitas sekolah laboratorium (lab-school) mutlak dilakukan, karena di sanalah mahasiswa dan dosen praktik mengajar, dan melakukan penelitian belajar dan pembelajaran. Melalui penelitian di sekolah laboratorium inilah sesungguhnya diharapkan lahir temuan-temuan baru dalam praktik pengajaran.     

Kedua, memastikan dosen menyusun rencana pembelajaran semester (RPS), dan mengajar sesuai dengan RPS tersebut. Perkuliahan minimal 14 kali tatap muka. Tugas kuliah diarahkan untuk mengembangkan daya kritis dan pemecahan masalah oleh masing-masing mahasiswa. Karena itu, wajib dilakukan evaluasi dosen oleh mahasiswa dan oleh rekan sejawat. 

Hasil evaluasi dosen dimanfaatkan untuk perbaikan di semester berikutnya. Selain fasilitas yang memadai, untuk menjamin proses pembelajaran yang baik, dosen perlu mendapatkan pelatihan minimal dua kali dalam setahun, sehingga dosen beradaptasi dengan perubahan kebijakan dan perkembangan ilmu pengetahuan. 

Ketiga, kurikulum Prodi LPTK memuat mata kuliah yang mampu melahirkan profil lulusan yang diharapkan. Tidak sekedar menyusun kurikulum berbasis KKNI (Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia)—sebagaimana dilakukan banyak kampus belakangan ini, tapi harus mampu menciptakan budaya akademik, khususnya tradisi menulis dan penelitian pembelajaran dan pengajaran.         

Perubahan kurikulum penting, tapi jauh lebih penting membangun budaya akademik warga kampus. Budaya akademik akan mudah diciptakan jika para dosen memiliki kompetensi yang unggul dan jiwa akademis yang mantap. Pengembangan kompetensi dosen akan lebih mudah jika didukung oleh pimpinan kampus yang visioner.

Demikianlah gambaran masalah kompetensi guru dan sedikit cara mengatasinya. Selamat Hari Sarjana Nasional, 29 September 2015. Semoga ke depan, LPTK mampu melahirkan sarjana keguruan yang memiliki kompetensi sesuai dengan sebutannya, guru profesional. Dengan demikian, guru bisa mengajar di sekolah yang bagus, mendapatkan pendapatan yang bagus, dan bukan bekerja yang jauh sekali dari profesi guru.          

    

 

   

 

Comments