News‎ > ‎

Melampaui Rasa Ingin Tahu

diposting pada tanggal 14 Jun 2016 16.29 oleh Jejen Musfah FITK
28 September 2015

Selamat datang era digital dan keluasan informasi, dan selamat tinggal era cetak dan kesulitan informasi. Ucapan ini terasa sangat lambat, namun penting dan relevan di saat kita memperingati Hari Hak untuk Tahu (International Right to Know Day) setiap 28 September.

Hak untuk Tahu adalah hak asasi setiap warga yang dijamin oleh konstitusi, yakni pasal 28 F UUD 1945 bahwa, “Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi, mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia.”

Kemasan Baru

Era digital mengubah kemasan informasi dan pengetahuan dari cetak ke digital, dari sulit ke mudah, dari berat ke ringan, dari jauh ke dekat, dan dari mahal ke murah, sehingga menjadikan cara belajar lebih mudah dilakukan kapan dan di mana saja. Perubahan kemasan informasi dan ilmu pengetahuan akan terus berkembang seiring kemajuan teknologi.     

Pertama, era buku dan jurnal cetak ke era e-books dan e-journals atau paperless. Keunggulan era paperless ini adalah orang bisa membawa banyak buku dan jurnal yang disimpan di gawai dalam tas bahkan sakunya tanpa khawatir merasa berat. Saat ini, tidak lagi dibutuhkan ruangan yang besar dan rak-rak buku yang panjang dan tinggi di perpustakaan kampus dan rumah untuk menyimpan buku, jurnal, dan majalah.

Bahkan, jutaan judul e-books dan e-journals disediakan secara cuma-cuma alias gratis di banyak alamat website di internet, yang bisa diunduh kapan saja oleh yang membutuhkan. Indahnya berbagi dan mengunduh banyak sumber pengetahuan secara gratis bagi insan akademik di era ini. Dunia menjadi begitu kecil dan dekat, karena orang bisa dengan mudah membaca dan mempelajari karya ilmuwan dan sastrawan dari belahan bumi mana pun.           

Entah kapan terakhir kalinya kita membuka kamus, buku, dan jurnal versi cetak? Gawai sudah menjadi “perpustakaan besar” yang menyimpan ragam e-books dan e-journals yang bisa diakses dan dibaca kapan saja saat dibutuhkan. 

Kedua, pendidik (guru dan dosen) tidak lagi menjadi satu-satunya tempat bertanya pelajar (siswa dan mahasiswa), karena mereka bisa mendapatkan jawaban dari internet melalui perangkat gawai (telepon pintar dan tablet) yang murah dan mudah dibawa ke mana saja. Informasi apa pun yang kita butuhkan, sudah tersedia dalam genggaman. 

Belajar tidak lagi identik dengan baca buku dan tatap muka di kelas. Belajar bisa dengan membaca gawai, yang hampir selalu bisa menjawab setiap pertanyaan pembelajar. Hanya dengan menulis kata kunci yang diinginkan, mesin google akan menyajikan jawaban beragam—teks dan gambar. Belajar menjadi lebih mudah, murah, dan bisa dilakukan kapan saja.

Ketiga, penyebaran informasi, ide, dan pengetahuan dari pribadi maupun kelompok bisa dilakukan dalam waktu singkat sehingga bisa langsung diterima, dibaca, dan dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang membutuhkan. Gagasan ringan seperti opini dan gagasan berat seperti hasil penelitian bisa disebarkan melalui media sosial facebook, bbm, dan whatsapp, atau melalui website berbayar atau gratis.

Penyebaran informasi dan pengetahuan yang super cepat ini jelas meningkatkan pengetahuan dan pemahaman pembaca, bahkan memanfaatkannya untuk pengembangan ilmu pengetahuan sehingga mereka bisa lebih produktif, kreatif, dan inovatif. Asal terhubung dengan internet, orang bisa menulis dan meneliti dengan sumber otoritatif yang melimpah, tanpa harus pergi ke perpustakaan atau toko buku.

Keunggulan kemasan informasi dan pengetahuan ini patut disyukuri. Seharusnya kemajuan teknologi membuat pelajar dan pendidik Indonesia lebih cerdas, lebih kreatif, dan lebih produktif. Namun, kenyataannya tak seindah yang dibayangkan.

Di era digital saat ini misalnya, saya masih sering mendengar mahasiswa pascasarjana berujar seperti ini, “Saya sulit atau tidak menemukan referensi terkait hal tersebut.” Setiap kali mendengar kata-kata seperti ini, saya biasanya menarik nafas dalam-dalam—sambil berpikir, “Di era internet saat ini, kok masih ada ya mahasiswa yang ketinggalan zaman dan gagap teknologi.”

Fenomena Negatif

Paling tidak ada empat fenomena negatif yang mengemuka pada pelajar dan pendidik Indonesia menghadapi era digitalisasi informasi saat ini. Pertama, budaya membaca dan menulis masih rendah. Maksudnya, membaca buku dan jurnal, dan menulis karya ilmiah, bukan membaca media sosial dan menulis status, serta komentar setiap ada status baru dari teman. Untuk yang terakhir ini, mungkin Indonesia adalah juaranya.        

Kedua, tidak ada waktu untuk membaca dan menulis karena kesibukan di dalam dan di luar kampus. Kumpulan materi penting, buku, dan jurnal elektronik kerap hanya tersimpan dalam laptop dan gawai, tapi tidak pernah dibaca. Orang hanya semangat saat meminta dan mengumpulkan materi dari narasumber dan internet, tapi malas membaca dan mengolahnya.     

Ketiga, tidak bisa memahami buku dan jurnal yang ditulis dalam Bahasa Inggris karena kemampuan bahasa pendidik dan pelajar kita lemah. Akibatnya, sumber belajar yang berkualitas tinggi dan berharga tersebut tidak bermanfaat bagi peningkatan kompetensi pendidik dan pelajar Indonesia.  

Keempat, tidak bisa mengolah informasi dan pengetahuan dari para penulis dalam dan luar negeri untuk melahirkan tulisan baru sesuai bidangnya masing-masing. Sepanjang tidak ada kebijakan yang berorientasi peningkatan keterampilan menulis pendidik dan pelajar di lembaga pendidikan, maka keterampilan menulis mereka akan tetap lemah seperti saat ini.

Pendekatan pembelajaran kita menitikberatkan pada hafalan, bukan penciptaan budaya kritis, kontekstual, dan pemecahan masalah di kalangan pelajar sejak dini. Tiga pendekatan belajar ini merupakan modal untuk melahirkan karya tulis yang bagus, di samping latihan dan bakat menulis. Akibatnya, bukan saja pelajar yang kesulitan menulis, tapi juga pendidiknya.      

            Akhirul kalam, diperlukan kecerdasan memilah dan memilih informasi dan pengetahuan yang terkait bidang keilmuan kita masing-masing, serta mengolahnya menjadi pengetahuan baru dan menyebarkannya kembali kepada publik yang membutuhkan. Semua ini akan berhasil, hanya jika kita mampu melampaui rasa ingin tahu (beyond curiosity).

Artinya, pelajar dan pendidik bangsa ini harus mampu menumbuhkan rasa ingin tahu dalam diri mereka. Bertanya dan bertanya, kemudian mencari jawaban dengan membaca dan meneliti lah yang memungkinkan siapa pun di dunia ini menjadi sosok penemu dan pemecah masalah kemasyarakatan. Keingintahuan yang besar adalah kunci memanfaatkan lautan informasi dan pengetahuan yang tersembunyi di gawai kita masing-masing.          

 

 

 

Comments