News‎ > ‎

Membeli Waktu Ayah

diposting pada tanggal 14 Jun 2016 15.53 oleh Jejen Musfah FITK

Go Cakrawala, 05 Mei 2015

Ramai berita menyambut Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh pada Sabtu, 2 Mei kemarin, menghadirkan tanya: bagaimana potret wajah pelajar Indonesia? Siapa yang paling bertanggung jawab terhadap perilaku menyimpang pelajar?

Seorang siswa kelas VIII SMP di Jakarta Selatan ditemukan tewas akibat gantung diri di rumahnya (14/1/2015). Belum diketahui pasti penyebab korban melakukan aksi tersebut. Kecuali gantung diri, perilaku menyimpang di kalangan pelajar adalah tawuran dan narkoba. Sepanjang 2013, sebanyak 20 pelajar Indonesia tewas sia-sia karena tawuran. Dari jumlah tersebut, 12 di antaranya merupakan pelajar Jakarta.

Komnas PA mencatat, sepanjang 2013 ada 255 kasus tawuran antar-pelajar di Indonesia. Angka ini meningkat tajam dibanding tahun sebelumnya, yang hanya 147 kasus. Dari jumlah tersebut, 20 pelajar meninggal dunia saat terlibat atau usai aksi tawuran, sisanya mengalami luka berat dan ringan. Sedangkan di Jakarta, pada 2013 angka tawuran pelajar mencapai 112 kasus. Jumlah ini meningkat dibanding 2012, yang hanya 98 kasus dengan 12 orang meninggal dunia.

Sebuah sumber menyebutkan, dari empat juta orang di Indonesia yang menyalahgunakan narkoba, 22 persen di antaranya merupakan anak muda yang masih duduk di bangku sekolah dan universitas. Umumnya pengguna yang berada di kelompok 15–20 tahun menggunakan narkotika jenis ganja dan psikotropika seperti Sedatin (Pil BK), Rohypnol, Megadon.

Sejak 2010 sampai 2013 tercatat ada peningkatan jumlah pelajar dan mahasiswa yang menjadi tersangka kasus narkoba. Pada 2010 tercatat ada 531 tersangka narkotika, jumlah itu meningkat menjadi 605 pada 2011. Setahun kemudian, terdapat 695 tersangka narkotika, dan tercatat 1.121 tersangka pada 2013.

 

Pembentuk Perilaku

Perilaku anak dipengaruhi oleh banyak faktor, di antaranya orangtua, guru, teman, bacaan, dan tontonannya. Semuanya berpengaruh membentuk kepribadian anak. Lazimnya anak lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah. Pertanyaannya, apakah di rumah anak belajar hal-hal yang positif seperti yang diajarkan di sekolah? 

Anak adalah tanggung jawab orangtua. Kebutuhan anak tidak hanya jasmani, tetapi juga ruhani. Selain perlu diberi minuman dan makanan yang bergizi, anak juga memerlukan bimbingan bagaimana menjadi anak yang baik. Pengembangan kecerdasan anak juga tidak boleh hanya fokus pada intelektual, melupakan spiritual dan emosionalnya.

Jika orangtua sibuk, anak akan menghabiskan waktunya dengan teman, bacaan, atau tontonannya. Sedikit waktu berinteraksi dengan orangtua. Teman sangat mudah ditemui oleh anak, dan bacaan atau tontotan mudah diakses oleh anak. Sedangkan orangtua belum tentu ada setiap anak membutuhkannya. Alasan bekerja sering membuat orangtua tidak punya waktu untuk bersama anak. Kesibukan orangtua menyebabkan hubungan orangtua dengan anak tidak baik.      

Masalahnya, apakah orangtua tahu siapa teman-teman bermain anaknya, dan apa yang mereka lakukan saat bermain? Demikian juga bacaan dan tontonan anak bisa jadi diluar kontrol dan sepengetahuan orangtua. Misalnya, internet menyajikan segala hal (informasi, gambar, dan video), yang baik maupun yang buruk.

Orangtua dalam posisi tidak bisa menolak kehadiran internet dalam kehidupan anak. Internet membantu kemajuan belajar anak, tapi juga mengandung hal-hal yang bisa merusak konsentrasi belajar. Orangtua bisa hadir sebagai pendidik utama dalam mencegah dampak negatif internet terhadap anak.

Perilaku menyimpang anak bisa jadi merupakan ciri retaknya bangunan keluarga abad ini. Pertama, tidak ada peraturan dalam keluarga. Kapan waktu belajar anak, menonton tv, dan bermain gawai. Tanpa peraturan, anak akan melakukan hal-hal yang belum tentu baik. Sebaliknya, peraturan mengarahkan anak ke hal-hal positif. Orangtua menjelaskan mengapa ini boleh dan ini tidak boleh.

Kedua, sedikit atau bahkan tidak ada waktu untuk bersama. Orangtua kadang terlalu sibuk bekerja demi karir sehingga jarang bicara dengan anaknya. Pada saat sarapan, makan malam, dan menjelang tidur sebenarnya orangtua bisa berbincang-bincang dengan anak. Namun orangtua sering tidak ada saat momen tersebut, bahkan masih bekerja pada Sabtu dan Minggu. 

Anak memerlukan orangtua sebagai pendengar yang baik. Dia bisa bicara tentang keinginan, pergaulan, dan hal apa pun yang perlu dibagi. Orangtua bisa mengarahkan anak pada pilihan yang semata baik dari setiap masalah yang dihadapi anak. Berbeda dengan di Negara Barat dan Amerika, tradisi komunikasi terbuka antara anak dan orangtua inilah yang belum terbentuk di Indonesia.

Sama dengan orangtua, anak juga mengalami stres, sehingga diperlukan mengajaknya berlibur. Aktivitas anak sehari-hari di sekolah, rumah, dan lingkungan rumah bisa membuatnya mengalami kebosanan. Pergi keluar rumah bersama anggota keluarga untuk makan, nonton bioskop, atau ke tempat wisata bisa diagendakan sesuai kemampuan orangtua.

 

Teladan

Membentuk perilaku anak akan efektif melalui teladan dan praktik. Membaca buku tentang perilaku baik dan buruk atau mendengar ceramah guru dan orangtua pengaruhnya hanya sedikit. Tapi jika anak dibiasakan berbuat baik di rumah, maka pengaruhnya akan besar. Habituasi di rumah itu misalnya berkata baik, membuang sampah pada tempatnya, mengucapkan terima kasih, meminta maaf, dan merapihkan tempat tidur.

Orang yang paling efektif dalam mengajarkan anak hal-hal baik di rumah tersebut adalah orangtua. Memberikan contoh perilaku baik dimulai sejak kecil sehingga ketika anak sudah dewasa sudah terbiasa. Pembelajaran melalui contoh itu tidak akan terjadi jika orangtua pergi saat anak masih tidur dan datang saat anak sudah tidur.

Saatnya para orangtua merevolusi mental mereka tentang makna bekerja. Douglas Williams bertutur, “Spending time with children is more important than spending money on children.” Dr. APJ Abdul Kalam menulis tentang pentingnya always leave office on time. 1. Work is a never-ending process. It can never be completed. 2. Interest of a client is important, so is your family. 3. If you fall in your life, neither your boss nor client will offer you a helping hand; your family and friends will.     

Last but not least, ada kisah seorang anak yang ingin meminjam uang kepada ayahnya, dan akan membayarnya dengan hasil uang tabungannya. Sang anak sebelumnya menunggu ayahnya pulang kerja di malam hari untuk bertanya berapa perusahaan membayarnya per-jam. Sang ayah heran, untuk apa uang tersebut dan mengapa harus pinjam. “Ayah akan belikan apa pun yang kau inginkan; tidak perlu meminjam.” Sang anak menjawab, “Ayah, dengan uang tersebut aku ingin membeli waktu ayah dua jam saja untuk bisa main bersamaku.”    

Perilaku menyimpang anak merupakan potret relasi orangtua dengan anak di rumah. Anak adalah cermin orangtuanya. Tidak ada kata terlambat menyusun kembali bangunan keluarga yang retak karena kesibukan bekerja. Siapa lagi yang akan peduli akan masa depan anak kecuali orangtua. Keseimbangan antara bekerja dan keluarga adalah pilihannya.   

 

Comments