News‎ > ‎

Memenjarakan Guru

diposting pada tanggal 11 Jun 2016 07.56 oleh Jejen Musfah FITK UIN Jakarta

Majalah Suara Guru, Juli-Agustus 2016

Kasus orangtua murid memenjarakan guru marak terjadi akhir-akhir ini. Orangtua melaporkan guru ke polisi, polisi memeriksa pelapor dan terlapor, lalu polisi memenjarakan guru. Seharusnya polisi tidak mudah dan sembarangan memenjarakan guru, sebelum masalahnya benar-benar jelas.

Muhammad Arsal di Benteng Selayar ditahan karena memukul siswanya (7-27 April 2016, diperpanjang sampai 12 Mei), Nurmayani Salam di Bantaeng Sulawesi Selatan ditahan karena mencubit siswanya (12/5/2016), dan Mubasysyir di Sinjai Selatan ditahan karena menggunting rambut siswanya (4/6/2015), sekedar menyebut beberapa contoh.

Merdeka Mendidik

Setiap sekolah memiliki tata tertib yang harus dipahami oleh orangtua dan siswa. Pelanggaran terhadap tata tertib ada hukumannya, bahkan ketaatan terhadap tata tertib ada imbalannya. Tujuan tata tertib adalah melatih siswa berperilaku baik di lingkungan sekolah dan di rumah. Guru bertindak sebagai pengawas dan pemberi hadiah atau hukuman kepada siswa, yang taat atau yang melanggarnya.    

Demikianlah, tugas guru mendidik siswa dengan perilaku-perilaku baik, disamping mengajarkan ilmu pengetahuan. Mendidik lebih sulit daripada mengajar, karena mendidik terkait merubah pikiran dan kesadaran serta perilaku siswa, sedangkan mengajar terkait menambah pengetahuan.

Dengan demikian tugas guru tidaklah mudah, sama seperti yang dirasakan oleh para orangtua saat mendidik anaknya di rumah. Tidak mudah karena setiap anak memiliki karakter berbeda dalam menyikapi arahan untuk berperilaku baik. Jika orangtua pernah merasakan beratnya mendidik satu, dua, atau tiga anak di rumah, bagaimana dengan seorang guru yang bertanggung jawab mendidik puluhan siswa?    

Memiliki siswa yang disiplin, bertanggung jawab, jujur, dan sopan-santun, tidaklah semudah membalik telapak tangan. Guru harus selalu belajar, tekun, dan penuh kesabaran. Siswa yang datang ke sekolah memiliki latar belakang keluarga yang berbeda-beda, seperti status ekonomi, budaya, dan kondisi keluarga.

Perbedaan latar belakang keluarga tersebut melahirkan beragam karakter siswa, dan cara guru dalam menghadapi setiap siswa. Dalam proses mendidik siswa di sekolah, guru bisa jadi melakukan kesalahan kecil maupun besar sama seperti orangtua saat mendidik anak di rumah. Kesalahan itu wajar karena mereka manusia bukan malaikat.

Setiap guru pasti menyesal manakala salah dalam cara mendidik siswa, demikian juga orangtua. Penyesalan muncul karena mereka sesungguhnya menyayangi siswa, dan sadar bahwa tidak seharusnya berbuat salah untuk tujuan yang baik. Tujuan yang baik harus dilakukan dengan cara-cara yang baik.

Meski guru bisa salah, para guru perlu diberi kemerdekaan dalam menentukan cara mendidik siswa di sekolah. Kesalahan guru dalam cara mendidik siswa bisa dikoreksi dengan cara-cara atau jalan yang baik, dialog, bukan dengan memenjarakan mereka. Di mana hati nurani orangtua yang tega memenjarakan guru yang telah mendidik anaknya?       

Tanggung Jawab Bersama

Guru menghukum siswa karena siswa bersalah. Ada sebab dan akibat. Jenis hukuman siswa berbeda-beda tergantung kebijakan sekolah. Hukuman yang dilarang di satu sekolah bisa jadi diterapkan di sekolah lain. Cara guru menghukum atau mendidik siswa ditanggapi berbeda-beda oleh setiap orangtua.

Menuntut akibat hukuman guru terhadap siswa boleh saja, tetapi jangan lupa memikirkan sebab hukuman itu terjadi. Mengapa anak saya melanggar tata tertib? Jika rambut anak laki-lakinya panjang mengapa orangtua membiarkan padahal sekolah melarang? Jika siswa kurang sopan santun di sekolah, apakah di rumah juga sama? Apakah orangtua sudah mendidik anak dengan baik?

Anak-anak dan remaja, siswa sekolah itu sedang dalam proses pertumbuhan karakter. Sikapnya tidak selalu sesuai dengan apa yang diharapkan oleh guru dan orangtua. Dalam mendidik siswa, guru dan orangtua harus punya banyak strategi dan seribu kesabaran. Mendidik siswa adalah proses yang tidak akan mudah, memerlukan waktu, mengharuskan pengorbanan, dan pasti melelahkan.        

Oleh karena itu, penumbuhan karakter siswa adalah tanggung jawab bersama, orangtua dan guru. Jika mereka bersatu dan bekerjasama serta saling memahami, maka tugas berat dan melelahkan itu akan terasa ringan. Jika anak berhasil tumbuh menjadi anak yang baik, maka itu hasil kerja orangtua dan guru. Demikian juga anak yang belum taat perintah merupakan tugas bersama untuk menyadarkannya.    

Solusi

Solusi terhadap kasus pemenjaraan guru sebagai berikut. Orangtua tidak terburu-buru melaporkan guru ke polisi jika mendapati anaknya “terluka” atau mengadukan kesalahan guru. Orangtua bisa datang ke sekolah untuk mendapatkan informasi dari guru. Menyikapi kesalahan guru—jika dianggap salah—tidak dengan cara pandang seolah-olah guru adalah “orang lain” yang tidak ada apa-apa sama sekali dengan orangtua.

Guru dan siswa punya ikatan yang kuat sebagai anak dan orangtua kedua. Guru mengajar dan mendidik siswa hingga pintar dan “dewasa”. Egoisme orangtua jangan sampai seperti pepatah “air susu dibalas dengan air tuba”. Saling memahami dan saling memaafkan antara keduanya seharusnya menjadi kata kunci ketika kesalahan sudah terjadi.     

Guru harus belajar dari kesalahan mendidik siswa. Guru harus lebih sabar dalam menghadapi kesalahan siswa. Jangan kesalahan dibalas dengan kesalahan yang baru. Guru harus terus belajar bagaimana menghadapi anak-anak yang tidak disiplin. Mendidik dengan cara-cara yang lemah-lembut, meski kadang perlu tegas. Guru harus meningkatkan kompetensi kepribadian dan sosialnya.   

Polisi tidak mudah memenjarakan guru. Hubungan guru dan siswa bukan hubungan biasa, di mana guru bisa dengan mudah melakukan kekerasan kepada siswa. Di mana hati nurani polisi yang memenjarakan guru karena mencukur rambut siswa atau mencubit siswa? Polisi tidak bisa hanya bersandar pada hukum positif, mengabaikan proses dialog antara guru dan orangtua siswa.   

Organisasi guru seperti PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia), FGII (Federasi Guru Independen Indoensia), IGI (Ikatan Guru Indonesia), atau FSGI (Federasi Serikat Guru Indonesia), harus menjadi organisasi pelindung guru. PB PGRI misalnya, telah menandatangani MoU dengan Kapolri bahwa guru yang melakukan pelanggaran profesi ditengahi oleh PGRI bersama Dewan Kehormatan Guru (DKG).

Jika ada pengaduan dan kasus yang terkait dengan tugas guru, pihak kepolisian tidak akan serta merta langsung memenjarakan guru tetapi menyerahkannya kepada PGRI. Jika orangtua berhasil memenjarakan guru karena kesalahan kecil guru terhadap anak kesayangannya, apakah ini merupakan cara tepat orangtua memberikan pendidikan keadilan kepada anak sekaligus guru?      

Comments