News‎ > ‎

Menakar Kompetensi Guru

diposting pada tanggal 27 Jan 2015 02.53 oleh Jejen Musfah FITK   [ diperbarui27 Jan 2015 02.53 ]

Di penghujung 2014, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anis Baswedan, akhirnya membatalkan penerapan k-13. Penetapan K-13 oleh M Nuh, Mendikbud sebelumnya, menimbulkan polemik panjang, baik terkait teknis maupun substansi. K-13 yang belum matang dipaksa diterapkan di sekolah meski pelatih dan guru belum paham betul tentang K-13. Buku juga belum sampai ke semua sekolah. Akibatnya, banyak guru yang bingung, sehingga pembelajaran tidak berjalan baik. 

Pengalaman penulis menjadi pelatih KTSP dan K-13 bagi guru-guru menyimpulkan bahwa perubahan kurikulum tidak akan menjadikan pendidikan kita lebih baik tanpa perbaikan mutu guru. Sebaik apa pun kurikulum tidak akan berdampak positif jika kita melupakan peningkatan kompetensi guru. Kunci kemajuan pendidikan di mana pun adalah mutu guru yang baik.  

Ketertinggalan pendidikan kita dari negara-negara lain tidak cukup dijawab dengan merubah kurikulum, tetapi melupakan pengembangan kompetensi guru sebagai pelaksana kurikulum di kelas. Permasalahan guru kita sangat kompleks, sehingga membutuhkan waktu tak sedikit untuk memecahkannya. Misalnya, kualifikasi belum S-1, miss-match, dan kompetensi rendah.  

Nilai rata-rata kompetensi guru di Indonesia hanya 44,5. Padahal, nilai standar kompetensi guru adalah 75. Sampai akhir 2013, masih terdapat 1.034.080 orang guru yang kualifikasi pendidikannya di bawah S-1 atau D-4. Untuk memenuhi kualifikasi akademik minimal tersebut, guru diberi waktu sampai akhir tahun 2015. Besar dugaan bahwa pada 2016 akan masih banyak guru yang belum S-1.   

Pemerintah sudah punya kebijakan untuk menjawab masalah tersebut seperti pelatihan guru, sertifikasi guru, dan beasiswa S-1 dan S-2. Program-program ini belum mampu meningkatkan kompetensi guru. Pertama, pelatihan guru. Pelatihan guru belum menyentuh semua guru yang jumlahnya sekitar 2,6 juta. Banyak guru yang tidak pernah mendapatkan pelatihan dari pemerintah. Padahal sekolah mereka di Jakarta, Bogor, dan Bekasi, apalagi guru-guru yang sekolahnya berada jauh dari ibu kota.    

Kedua, sertifikasi guru. Pencairan uang sertifikasi guru tidak berjalan lancar, dan belum semua guru mendapatkan sergur—apakah karena belum S-1 atau belum mendapat panggilan PLPG (pendidikan dan pelatihan profesi guru). Jadi masih banyak guru non-PNS yang penghasilannya rendah, sehingga sulit mengembangkan kompetensinya.   

Ketiga, beasiswa guru. Beasiswa S-1 dan S-2 bagi guru belum sepenuhnya bisa meningkatkan kompetensi guru. Di samping jumlahnya terbatas, perkuliahan sambil tetap mengajar lima hari dalam seminggu juga membuat guru tak maksimal dalam belajar. Maka, tak sedikit yang tidak mampu menyelesaikan studinya alias dropout—terutama S-2.

 

Rasa ingin tahu

Kelemahan guru bukan semata karena kegagalan program pemerintah di atas. Pengalaman saya mengajar guru di program dual mode sistem, PLPG, PPG (pendidikan profesi guru), S-1 kedua, magister, dan pelatihan-pelatihan pengembangan guru, dapat disimpulkan bahwa rasa ingin tahu (curiosity) guru sangat rendah. Budaya baca lemah, padahal informasi sangat melimpah, baik cetak maupun non-cetak.

Pengetahuan bisa diperoleh dari buku maupun internet. Mengajar guru di kelas-kelas tersebut, nampak bahwa mereka tak suka membaca. Buku, internet, dan laptop penuh file-file tersedia, namun tak pernah dibaca dan dipelajari. Tidak hanya guru yang tua, yang muda pun sedikit saja yang menunjukkan gemar membaca. Kesibukan mengajar di sekolah dijadikan alasan tak sempat membaca.

Kemampuan menulis guru juga rendah. Mutu makalah dan skripsi di bawah standar—untuk tidak mengatakan plagiasi. Meski contoh karya ilmiah yang baik banyak dan diajarkan mata kuliah metodologi penelitian, pemahaman guru masih sangat lemah, baik teknis maupun substantif.

Menjadi pintar kuncinya adalah membaca karena rasa ingin tahu yang besar. Belajar hal-hal baru merupakan kewajiban guru. Guru akan mencari tahu apa-apa yang dirasa penting diketahui dan dipahami sebagai bekal mengajar di kelas. Maka, perubahan kurikulum tidak akan menjadi masalah besar jika guru sudah gemar membaca dan belajar. Ia akan belajar bersama guru lainnya atau belajar mandiri agar memahami hal-hal baru seputar pendidikan.

Fakta guru tidak senang belajar akibat pertama, tidak standarnya sistem perekrutan di banyak sekolah kita. Terkesan, siapa saja bisa menjadi guru. Tidak S-1 (alumni SMA) dan miss-match pun tetap bisa mengajar. Toh, bisa mengajar sambil kuliah S-1 di hari Sabtu-Minggu atau satu hari saja dalam seminggu. Karena keuangan sekolah lemah, maka ia tidak bisa merekrut guru bermutu atau S-1. Meski kenyataannya banyak guru sarjana mendapat gaji yang sangat rendah.  

Kedua, banyak lembaga pendidikan tenaga keguruan (LPTK) yang menyelenggarakan pembelajaran tidak standar. Jumlah pertemuan, kualitas pembelajaran, kualifikasi dosen, sarana-prasarana, dan masa studi, tidak sesuai standar minimal. Akibatnya, guru-guru alumni LPTK semacam ini tidak bermutu. Alasannya, kampus negeri atau swasta yang bagus jauh dari sekolah atau tempat tinggal, juga lama dan susah lulusnya. LPTK ini tak lebih dari jual beli ijazah. Patut dipertanyakan fungsi pembinaan Kopertis dan Kopertais.

Pembenahan perekrutan guru dan LPTK harus segera dimulai. Sekolah harus dibenahi dan diberdayakan supaya keuangannya kuat melalui manajemen berbasis sekolah (school based management). Keuangan yang kuat akan menimbulkan kepercayaan diri untuk merekrut guru yang bermutu. Sedangkan pembenahan LPTK dilakukan melalui penindakan secara tegas bagi yang melanggar ketentuan standar nasional pendidikan tinggi, dan tidak mudah memberikan izin bagi pembukaan LPTK baru. Kopertis dan kopertais memaksimalkan fungsi pembinaannya.    

   Guru akan sulit menerima perubahan jika kompetensinya rendah. Setiap kebijakan baru dari pemerintah atau pengetahuan baru ditemukan, akan mudah diterima oleh guru yang pembelajar. Jeritan sebagian besar guru terhadap K-13 atau kurtilas, bukan semata belum matangnya konsep kurikulum atau belum sampainya buku ke sekolah, tetapi karena mutu guru kita memang lemah—untuk tidak mengatakan sangat lemah.   

 

Comments