News‎ > ‎

Menakar Wacana Impor Rektor

diposting pada tanggal 16 Jun 2016 22.54 oleh Jejen Musfah FITK UIN Jakarta
SINDO, 15 Juni 2016

Wacana pemerintah mendatangkan dosen luar negeri untuk menjadi rektor universitas negeri di Indonesia menimbulkan pro dan kontra. Ide impor rektor itu bertujuan meningkatkan kinerja universitas, terutama bidang penelitian yang masih rendah. Asumsinya, kualitas rektor berpengaruh signifikan terhadap kemajuan suatu universitas, khususnya penelitian.

Apakah rektor dari dosen luar negeri yang kompeten akan menjamin kinerja universitas Indonesia menjadi lebih baik? Melihat faktor kualitas rektor dalam kelemahan kinerja universitas Indonesia sah-sah saja, tetapi terlalu menyederhanakan persoalan. Kinerja dan keunggulan universitas dipengaruhi oleh banyak faktor, rektor sebagai pimpinan tertinggi sebagai salah satunya.

Kriteria Rektor

Pengalaman universitas-universitas di Indonesia berikut ini menjelaskan bagaimana banyak faktor yang perlu dibenahi dalam tata kelola universitas di sini, sebelum kebijakan impor rektor benar-benar terjadi. Indonesia tidak kekurangan dosen yang kompeten. Banyak dosen berprestasi dalam bidang akademik, kreatif, inovatif, bereputasi internasional, dan keluaran universitas terbaik dalam dan luar negeri.

Dosen teladan atau terbaik universitas bisa terpilih menjadi rektor, bisa juga tidak. Masalah kita sesungguhnya bukan pada terkotak-kotaknya dosen ke dalam organisasi kemasyarakatan (NU, Muhammadiyah, HMI), almamater, atau  kesukuan. Akan tetapi, bagaimana mereka bisa sepakat memilih rektor kompeten yang dianggap mampu membawa kampus produktif melahirkan karya-karya inovatif dan diakui di dunia internasional.     

Kriteria kompeten bagi rektor berbeda dengan kriteria kompeten seorang dosen yang ilmuwan. Seorang ilmuwan yang menghasilkan banyak karya ilmiah di jurnal internasional, menjadi pembicara di banyak seminar internasional, dan karenanya terkenal, belum tentu cocok sebagai rektor universitas.

Mampu melahirkan program kreatif dan inovatif terkait publikasi ilmiah, sekaligus mampu mempengaruhi dosen berorientasi menjadi ilmuwan dengan reputasi internasional misalnya, adalah dua kriteria yang harus dimiliki setiap calon rektor. Pemilihan rektor dengan kriteria kreatif dan inovatif inilah yang seharusnya dilakukan oleh dosen universitas di Indonesia, dari kelompok mana pun mereka.      

Dalam hal ini, dua menteri yang menangani pendidikan tinggi harus pula mengacu pada kriteria pemimpin di atas. Suara menteri dalam pemilihan rektor, baik yang memiliki kuota 35 suara (Menristek Dikti) atau yang memiliki kuota penuh (100 persen/ Menag), harus diberikan kepada calon dengan kualifikasi terbaik di antara calon-calon yang dimajukan oleh universitas. Menggunakan wewenang menteri tersebut untuk memilih calon yang benar-benar bermutu dan berintegritas jauh lebih baik daripada mengimpor rektor.                         

Kemampuan Meneliti

Mengundang dosen luar negeri menjadi rektor universitas negeri di Indonesia tidak otomatis akan meningkatkan reputasi univeritas di level internasional, karena kendala rektor kita adalah lemahnya kemampuan meneliti dan menulis dosen. Publikasi ilmiah univeritas negeri yang rendah bukan semata “kesalahan” rektor, tetapi lemahnya kompetensi meneliti para dosen.

Peluang penelitian bagi para dosen sudah terbuka lebar, baik di Kemenristek Dikti, di Kemenag, maupun di kampus masing-masing. Dananya cukup besar meskipun masih terbilang kecil jika dibandingkan dengan rasio jumlah dosen dan apalagi dengan dana riset negara-negara berkembang lainnya. Banyak dosen memperoleh dana penelitian, dari yang 10 juta hingga 200 juta bahkan lebih, tetapi hasil penelitiannya tidak menghasilkan sesuatu yang baru, sehingga tidak “dibaca” ilmuwan dunia. Penelitian mereka hanya berakhir di jurnal atau di lemari perpustakaan.       

Maka, para rektor universitas negeri saat ini sedang mendorong para dosen untuk meningkatkan kemampuan meneliti, meneliti, dan menulis karya ilmiah pada satu sisi, dan mengirim para dosen kuliah S2 dan S3 pada sisi yang lain. Demikian pula yang dilakukan oleh Kemenristek Dikti, Kemenag, dan LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan). Di Indonesia baru ada 5.109 profesor, padahal yang dibutuhkan 22 ribu. Saat ini, masih ada sekitar 50 ribu dosen yang masih lulusan S1.

Sesungguhnya Indonesia sedang dalam fase bergerak maju dalam bidang penelitian dan publikasi internasional. Memang belum sesuai harapan. Peringkat universitas-universitas ternama Indonesia masih jauh di bawah Malaysia dan Singapura.

Berbagai pihak tidak berpangku tangan menanggapi ketertingalan tersebut. Dana penelitian tersedia, langganan jurnal internasional sudah dilakukan, penelitian kolaboratif dengan dosen luar negeri mulai dijalin, penerbitan jurnal internasional sudah menggeliat, dan workshop penulisan artikel ilmiah bertebaran. Lalu apa yang harus dibenahi dalam pendidikan tinggi kita, khususnya bidang penelitian dan publikasi ilmiah, selain mengganti rektor?

Dosen-Peneliti

Pertama, dosen dan menteri terkait memilih calon rektor univeritas negeri dari dalam negeri dan bisa dosen dari dalam atau luar universitas, yang benar-benar kompeten dan memiliki kriteria pemimpin yang kreatif dan inovatif. Calon rektor dipilih bukan karena ia berambisi terhadap jabatan itu tetapi minim prestasi dan lemah integritas.

Dosen dan menteri harus berjiwa layaknya seorang ilmuwan yang keputusannya harus objektif dan tindakannya profesional. Tidak memaksakan seseorang yang tidak kompeten dalam jabatan sangat strategis, semisal rektor. Sekali lagi, kriteria rektor berbeda dengan kriteria seorang ilmuwan. Rektor yang terbukti tidak mampu meningkatkan publikasi ilmiah kampusnya di level internasional berkenan mengundurkan diri, atau tidak dipilih lagi pada periode kedua. Pada saat dilantik, rektor menandatangani pakta integritas tentang hal ini.       

Kedua, rektor menyeleksi dosen dalam rumpun ilmu masing-masing untuk fokus pada penelitian dan publikasi artikel di jurnal nasional terakreditasi dan jurnal internasional, selain mengajar tentunya. Selama mereka tergabung dalam “dosen-peneliti”—katakanlah demikian, mereka tidak boleh menjabat di kampus, seperti rektor, dekan, ketua Prodi, kepala pusat bahasa, kepala perpustakaan, dan kepala pusat penelitian.

Dosen kompeten dalam penelitian dan menulis artikel ilmiah sering mandul dalam menghasilkan karya ilmiah setelah menduduki jabatan strategis di kampus. Dosen-peneliti juga tidak diberi jam mengajar yang banyak—seperti dosen dengan jabatan, tetapi wajib menghasilkan penelitian yang berpotensi publikasi nasional terakreditasi atau internasional, minimal satu tahun satu artikel. Dosen-peneliti yang kemampuan menelitinya masih standar ditingkatkan melalui pelatihan intensif di bawah bimbingan dosen-peneliti yang sudah ahli dan berpengalaman.

Indonesia memiliki banyak dosen yang kompeten, kreatif, dan inovatif. Tugas menteri dan rektor merangkul mereka, menempatkan mereka ke dalam posisi yang tepat, mengarahkan, memberi ruang dan fasilitas yang memadai untuk lahirnya karya-karya baru, dan mengembangkan yang belum matang. Untuk memperkuat dosen dan universitas negeri, bisa juga memanggil sebagian kecil anak-anak bangsa yang “bersinar terang” di universitas dan perusahaan luar negeri.               

Comments