News‎ > ‎

Menata Hati, Memetik Honesty

diposting pada tanggal 2 Mar 2015 18.30 oleh Jejen Musfah FITK   [ diperbarui2 Mar 2015 18.32 ]
Dimuat di Harian Cakrawala, 2/3/2015

Pangkal segala persoalan yang mendera bangsa ini adalah langkanya kejujuran (honesty). Ketidakjujuran yang dilakukan oleh individu maupun kelompok melahirkan penyakit kronis bangsa yang tak kunjung sembuh, bahkan bertambah parah, yaitu: korupsi, pembakaran hutan, mafia migas, dan mafia beras. Saya pikir tepat slogan KPK ini, bahwa “Berani jujur itu hebat.”

Belajar dari kasus-kasus tersebut, yang tak menunjukkan tanda-tanda segera menyusut, meski peraturan telah dibuat dan hukuman telah dilaksanakan, maka diperlukan penyiapan generasi yang mampu mengatakan tidak pada segala sikap yang tidak jujur. Bertentangan dengan hati nurani. Terbukti, generasi pejabat, anggota DPR, dan pengusaha yang ada saat ini banyak yang menghuni hotel prodeo.    

Sebagus apa pun peraturan yang dibuat, tanpa sumber daya manusia yang jujur, maka ragam penyakit di atas tak kan pernah berkurang, bahkan bertambah masif. Ketika para penegak hukum bisa dibeli dan manusia semakin rakus, maka cita-cita menjadi bangsa yang bebas korupsi dan bebas mafia hanya mimpi di siang bolong.   

Penyiapan generasi yang jujur dan amanah merupakan tanggung jawab bersama, terutama orangtua dan guru. Keduanya perlu berjalan seiring dalam memastikan perkembangan anak menjadi orang dewasa yang jujur. Usaha ini tak kan mudah di tengah banjir informasi dari internet, tontonan yang tak mendidik, pergaulan remaja yang bebas—jauh dari adat ketimuran, dan minimnya teladan dari pemimpin di negeri ini.  

 

Orangtua

Rumah adalah sekolah pertama bagi anak, dengan orangtua sebagai gurunya. Laiknya sekolah, di rumah perlu ada peraturan hasil kesepakatan bersama antara orangtua dan anak-anak. Ada ganjaran bagi yang mematuhi, dan sebaliknya ada hukuman bagi yang melanggar. Peraturan tidak akan menjadikan rumah sebagai tempat yang menyeramkan, tapi menentramkan dan menyenangkan.

Di antara peraturan rumah misalnya, dilarang mencuri, menceritakan kejadian di sekolah dan tempat bermain—yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, dan berkata jujur. Orangtua bisa melakukan beberapa hal berikut: membimbing anak mengerjakan Pekerjaan Rumah (PR) anak, bukan mengerjakannya; meminta anak belanja di warung, dan menanyakan kembaliannya; melatih anak menceritakan pengalamannya di sekolah, tentang temannya, mata pelajaran, makanan, atau gurunya.

Terpenting dari semua itu adalah pribadi orangtua. Mengembangkan sikap akan mudah dengan contoh. Anak adalah cermin orangtuanya. Mendambakan anak yang jujur akan sia-sia jika orangtua sendiri tidak berlaku jujur. Seperti akan mudah menjadikan anak terbuka, jika orangtua biasa terbuka kepada mereka. Demikian pula sikap bertanggung jawab perlu dimulai dari orangtua.   

Contoh lain, bagaimana pentingnya orangtua menunjukkan hidup yang alami dan tak berlebihan. Mencari uang dengan cara halal dan menerima upah (hanya) yang sesuai dengan haknya. Ia memilih hidup sederhana daripada mewah namun hasil korupsi; memilih menjadi rakyat biasa atau bawahan daripada menjadi pejabat atau pemimpin karena menghalalkan segala cara. Sophocles menulis, “Better to fail with honor than succeed by fraud.”

       

Guru

Kecuali di rumah, sekolah merupakan tempat kedua bagi pembentukan karakter anak. Disadari bersama bahwa pengembangan karakter lebih utama daripada pengetahuan dan keterampilan anak. Kurikulum 2013 misalnya, dalam setiap silabus mata pelajaran terdapat kompetensi inti pertama adalah spiritual dan kompetensi inti kedua adalah sosial. Disusul ketiga dan keempat adalah pengetahuan dan keterampilan. Keberhasilan penanaman karakter dalam proses belajar mengajar di kelas sangat tergantung kepada guru.

Di luar kelas, guru merancang program-program yang tujuannya pengembangan sikap jujur siswa, seperti kantin kejujuran. Jual beli yang mengandalkan kejujuran siswa dan guru, tanpa ada kasir atau penjual. Suatu cara mendidik siswa untuk merasakan kehadiran Tuhan yang Maha Melihat dan Mengetahui setiap laku lampah manusia, sehingga di mana dan kapan pun ia harus berbuat semata yang baik dan benar.

Seperti orangtua di atas, keberhasilan pengembangan karakter kejujuran siswa akan tergantung pada pribadi guru. Guru terlebih dulu berupaya menjadi orang jujur dalam setiap ucapan dan perbuatannya. Jujur tidak hanya berkata sesuai kenyataan dan kebenaran, tapi juga bertindak sesuai kebenaran.

Maka, perlu dihindari praktik pembiaran siswa mencontek saat ujian sekolah dan ujian nasional (UN), penjualan buku yang berorientasi kepada meraup keuntungan daripada kebutuhan siswa, dan penilaian yang tidak objektif terhadap hasil belajar siswa dan kelulusan siswa. Pembelaan terhadap masa depan siswa harus melalui penyelenggaraan pembelajaran dan pendidikan yang bermutu, bukan dengan (misalnya) memberikan nilai tinggi yang tidak sesuai dengan kenyataan siswa di lapangan (objektif).  

 

Menata hati

Sering muncul pertanyaan, apakah karakter seorang anak bisa diubah? Kalau bisa diubah, bagaimana caranya? Tak jarang orangtua dan guru menyerah dalam memperbaiki perilaku anak, karena sudah beragam cara dilakukan tapi tak juga berhasil. Ujungnya, anak kerap dibiarkan hidup sesuai pilihannya. “Terserah kau mau menjadi apa.”    

Pernyataan ini menjawab soal pertama, bahwa, “Honesty and integrity are absolutely essential for success in life—all areas of life. The really good news is that anyone can develop both honesty and integrity.”

Karakter bisa diubah dengan cara mendidik yang tulus, optimis, dan dengan teladan—seperti dijelaskan di atas. Karakter lahir dari kualitas hati, maka pendidikan harus menyentuh aspek hati setiap siswa. Ia tidak akan berhasil dengan cara memasang slogan “Honesty is the best teacher” di dinding sekolah, atau ceramah tentang baik-buruk di depan siswa, tetapi melupakan perbaikan karakter guru dan staf.     

Centang perenang problem kebangsaan saat ini bertemali dengan miskinnya teladan guru dan orangtua di masa lalu, bahkan hingga saat ini. Maka tiada pilihan lain bagi pendidik kecuali menata hati diri masing-masing, agar mampu menyinari hati gelap peserta didik. Pengetahuan terkait dengan otak, dan keterampilan terkait otot, sedangkan sikap terkait dengan hati. Brigham Young berkata, “Honest heart produce honest actions.”

Akhirnya, kejujuran adalah kunci keberhasilan individu dalam menapaki kehidupan sementara dan fana ini. Keberhasilan individu-individu akan mengantarkan kejayaan dan kemajuan bangsa. Kesuksesan yang tidak ditopang oleh akar kejujuran akan roboh secara perlahan, bahkan bisa menjadi malapetaka bagi individu dan bangsa ini—seperti yang kita rasakan bersama saat ini.

Para pemimpin, anggota dewan, dan pengusaha masa mendatang adalah harapan bersama menuju kehidupan berbangsa dan bernegara yang adil dan beradab. Saatnya orangtua dan guru bergandengan tangan menata diri menjadi pribadi yang mulia, demi tugas maha berat: melahirkan generasi berkarakter jujur. Generasi bijaksana yang tak akan (pernah) menukar harga diri dengan jabatan atau uang milirian. Thomas Jefferson bersenandung, “Honesty is the first chapter in the book wisdom.”

Comments