News‎ > ‎

Menimbang Bimbingan Tesis

diposting pada tanggal 14 Jun 2016 16.26 oleh Jejen Musfah FITK
Go Cakrawala, 06 Agustus 2015

“Sebaiknya, hanya tesis bagus yang dipajang di perpustakaan kampus.” Kira-kira demikian pendapat beberapa dosen terkait mutu tesis yang buruk. Pasalnya, tesis yang ada di perpustakaan menjadi rujukan mahasiswa saat menulis tesis. Mahasiswa belajar dari tesis-tesis yang buruk, sehingga keburukan menjadi turun-temurun.

Idealnya, banyak tesis yang bagus, baik aspek teknis maupun isinya. Faktanya, banyak tesis tidak hanya buruk dari segi isi tapi juga buruk dari segi teknis penulisan. Ada yang sudah bagus dalam teknis, tapi masih buruk dalam isi. Jarang sekali ditemukan tesis yang bagus aspek teknis dan isinya. Jika tidak bagus atau standar, mengapa tesis disetujui pembimbing, penguji, dan pimpinan Prodi?

Mutu Bimbingan

Tesis buruk karena keterampilan menulis mahasiswa buruk dan bimbingan dosen yang buruk. Tidak semua mahasiswa magister punya keterampilan menulis yang baik. Peran pembimbing meluruskan logika berpikir mahasiswa tentang apa yang ditulisnya. Judul, pendahuluan, teori, metode, instrumen, temuan, hingga kesimpulan harus saling terkait.

Bimbingan harus serius tapi santai agar mahasiswa benar-benar memperoleh sesuatu dari dosen. Dosen menyelami apa yang dimaui mahasiswa, dan mahasiswa mencerna apa yang disarankan dosen. Ada dialog terbuka antara dosen dan mahasiswa, untuk menemukan hal-hal baik terkait fokus penelitian tesis. Masing-masing menjadi pendengar yang baik, sehingga tercipta kesamaan pandangan.

Karena itu, dosen harus menyediakan waktu untuk menerima mahasiswa, bukan “meninggalkan” mahasiswa berpikir sendiri. Sepertinya ini tidak terjadi. Membaca tesis mahasiswa, terasa ada yang salah: “Tidak ada sentuhan bekas bimbingan”. Ditemukan banyak kesalahan teknis dan substantif.  

Tidak semua tesis buruk akibat bimbingan yang buruk. Meski dosen membimbing dengan baik, jika keterampilan menulis mahasiswa buruk, maka tesis akan tetap buruk. Kecuali itu, mahasiswa sering tidak mengindahkan saran-saran pembimbing dan penguji. Bilangnya sudah diperbaiki padahal belum. Pembimbing setuju saja, entah karena sedang sibuk atau karena kasihan.

Pada mahasiswa magister, penyebab kasihan itu beragam, mulai dari habis masa studi, menjelang akhir semester, hamil, punya balita, ditinggal suami atau istri, hingga habis masa izin belajar. Hal tersebut seharusnya tidak memengaruhi persetujuan pembimbing terhadap tesis, tetapi itulah faktanya. Bimbingan tesis sering tidak maksimal karena faktor-faktor non-akademik. Bimbingan yang sedang di puncak kegairahan terhenti karena mahasiswa datang dengan “permohonan” non-akademik di atas—kadang disertai air mata.

Tidak semua mahasiswa buruk dalam penulisan tesis. Di antara sekian mahasiswa, ada saja mahasiswa yang sudah bagus dari sononya. Tesis mahasiswa tipe ini bagus meski dibimbing ala kadarnya, apalagi jika dibimbing dengan serius. Mahasiswa memahami buku pedoman penulisan tesis dengan baik, membaca disertasi, tesis, jurnal, dan buku yang relevan dengan tesisnya.

Dia mampu menangkap arahan pembimbing dengan baik. Tradisi membaca dan belajar mahasiswa ini sudah mapan. Rasa ingin tahunya tinggi. Dia juga bersedia mengoreksi setiap kata, kalimat, dan paragraf dalam tesisnya, tanpa menunggu teguran pembimbing. Namun, mencari atau mendapatkan mahasiswa tipe ini tidak mudah, khususnya bagi Prodi baru.

Sibuk dan Komitmen

Mengapa sebagian dosen tidak serius membimbing mahasiswa dalam penulisan tesis? Menurut saya, dosen terlalu sibuk di dalam atau di luar kampus, sehingga sedikit punya waktu untuk membaca dan mengoreksi tesis, serta berdialog dengan mahasiswa. Bimbingan tesis sering dikalahkan oleh kegiatan lain karena honornya kecil—tidak sebanding dengan “keringat” yang keluar.

Kecuali sibuk, faktor lainnya adalah komitmen dosen yang rendah. Kesibukan bukan kendala bagi orang yang punya komitmen untuk melaksanakan tugas, termasuk membimbing tesis. Dosen yang hanya sekedar tanda tangan tesis—tanpa minta perbaikan ini dan itu, mungkin disukai mahasiswa tertentu, tetapi tidak mendidik mahasiswa.    

Demikianlah, beberapa program magister menjawab problem tersebut dengan mengadakan ujian tesis berlapis, hingga tiga kali. Misalnya, tahap satu menguji bab satu, bab dua, bab tiga, dan instrumen; tahap dua dan tiga menguji tesis secara utuh. Setiap tahap ujian diuji oleh tiga penguji bergelar profesor dan/atau doktor. Setiap kali akan maju ke ujian berikutnya, mahasiswa harus memperoleh persetujuan pembimbing dan tiga penguji—tentu setelah memperbaiki tesisnya.

Efektifkah langkah tersebut? Tidak, karena kebijakan itu berdiri sendiri, tidak diikuti oleh komitmen dosen dan mahasiswa. Dosen menyediakan waktu untuk membimbing pada satu sisi, dan mahasiswa (jujur) memperbaiki tesis sesuai saran-saran penguji dan pembimbing pada sisi yang lain. Tanpa komitmen bersama, tesis hanya akan menjadi sekedar pajangan di perpustakaan alias tidak bermutu.    

Maka, kebijakan pemerintah seperti pembatasan masa studi magister yang empat tahun (termasuk cuti) perlu ditinjau ulang. Selaiknya tidak ada pembatasan masa studi dan mahasiswa dibebaskan dari uang semester pada masa non-aktif. Jika tidak, yang terjadi mahasiswa semangat mengerjakan tesis pada awal semester delapan (akhir), dan meminta dosen segera menyetujui tesisnya karena batas studinya segera habis.

Betul, mahasiswa tiba-tiba muncul pada semester tujuh, padahal sebelumnya pada semester empat hingga enam menghilang entah ke mana. Minimnya waktu penelitian dan penulisan tesis mahasiswa menyebabkan bimbingan tesis tidak efektif. Tesis bukan hasil penggalian data yang serius, apalagi pembacaan dan pemikiran yang mendalam sehingga menghasilkan ide-ide “baru”. Tesis dikerjakan dengan “sistem kebut semalam”.

Terakhir, diperlukan evaluasi kinerja bimbingan tesis oleh mahasiswa. Berdasarkan data hasil evaluasi tersebut dilakukan pembahasan di level pimpinan Prodi dan fakultas, dan hasilnya disampaikan ke setiap dosen. Harus ada penghargaan dan hukuman bagi kinerja bimbingan tersebut. Jika tidak, kita akan kembali ke jargon lama: “Peraturan dibuat untuk dilanggar”.                    

               

Comments