News‎ > ‎

Menimbang Gawai

diposting pada tanggal 12 Jun 2016 15.35 oleh Jejen Musfah FITK
Amanah, 02 Maret 2016 

Hasil jajak pendapat Harian Kompas menunjukkan bahwa 64,9 persen masyarakat setuju siswa dilarang membawa gawai ke sekolah, 33,7 persen tidak setuju, dan 1,4 persen tidak tahu/ tidak menjawab. Ketika ditanya manfaat atau pengaruh gawai bagi siswa sekolah, 77,1 persen menjawab berpengaruh negatif, 17,3 persen bermanfaat positif, dan 5,6 persen tidak tahu/ tidak menjawab.     

Data tersebut tidak mengherankan karena dampak negatif gawai (telepon genggam dan tablet) yang terhubung internet bagi anak-anak tidaklah ringan. Pertama, anak-anak mudah—sengaja atau tidak—mengakses materi yang tidak layak dilihat, dibaca, atau ditonton. Tidak sedikit anak melakukan kejahatan atau perilaku menyimpang setelah menonton film biru (dewasa) atau adegan kekerasan.

Kedua, anak-anak bisa kecanduan bermain games offline maupun online. Pada umumnya anak-anak menyukai games. Ketiga, anak-anak bisa kecanduan media sosial, seperti facebook, whatsapp, line, dan bbm. Kegemaran pada media sosial tidak hanya menjangkiti remaja dan orangtua, tetapi juga anak-anak.

Keempat, mengurangi komunikasi tatap muka siswa dengan siswa, dan siswa dengan guru. Siswa lebih tertarik bermain gawai dibanding berinteraksi dengan teman sebaya atau guru, karena gawai menyajikan banyak hal yang menarik mereka. Gawai memuat tulisan, games, musik, bahkan video. Di depan gawai para siswa bisa “lupa waktu”.   

Anak-anak mengisi sebagian waktunya bersama gawai hingga lupa shalat, mengaji, belajar, membaca buku, dan bermain dengan teman. Seperti halnya menonton televisi, jika tidak dibatasi oleh orangtua, gawai akan bahkan sudah merenggut “waktu emas” anak-anak kita. Akan tetapi, sampai kapan kita melarang anak-anak membawa gawai ke sekolah? Kecuali sisi negatif di atas, gawai juga memiliki sisi positif.

Pertama, gawai yang terhubung internet bisa digunakan untuk mencari informasi, saat belajar dan mengerjakan tugas-tugas sekolah. Gawai mampu menyimpan kamus, kalkulator, e-book, dan segala informasi yang dibutuhkan siswa—semua mata pelajaran dan semua ekstra kurikuler! Dalam hal ilmu pengetahuan, gawai bisa menyimpan jutaan bahkan lebih halaman buku, jurnal, majalah, atau koran.

Berbeda dengan pengetahuan guru yang terbatas, pengetahuan gawai tidak terbatas. Guru bisa lupa dan salah, tetapi gawai tidak pernah lupa dan tidak pernah salah. Guru tidak bisa menjawab soal semua bidang, tetapi gawai bisa. Tanpa perlu bersusah-payah, siswa bisa mendapatkan jawaban hanya dalam hitungan detik melalui alat atau mesin pencari google (googling).  

Gawai juga berisi banyak tutorial keterampilan, di mana siswa bisa belajar secara autodidak. Ketika siswa mendapat tugas membuat kerajinan tertentu, ia bisa belajar dari YouTube. Belajar keterampilan tertentu bisa dilakukan di mana saja, dan kapan saja, tanpa (selalu harus) menghadirkan seorang guru atau pelatih di hadapan siswa.

Meski sekolah melarang siswa membawa gawai ke sekolah, faktanya banyak siswa bergawai di rumah. Siswa SD sekalipun sudah tidak asing dengan gawai, bahkan lebih mahir dibanding orangtua mereka. Gawai sudah menjadi kebutuhan dan bagian hidup anak-anak, baik untuk komunikasi, bermain games, maupun belajar. Gawai sudah menjadi sumber dan media belajar yang efektif dan efisien.

Sudah saatnya belajar-mengajar di sekolah memanfaatkan kecanggihan gawai, agar anak-anak melek literasi digital. Gawai di sekolah dibutuhkan untuk menunjang pembelajaran, namun perlu pengaturan ketat agar siswa terhindar dari dampak negatif gawai. Kecuali pembatasan waktu pemakaian, guru dan staf mengawasi siswa saat memakai gawai. Edukasi literasi digital bisa dilaksanakan secara berkala dan sungguh-sungguh. Peran guru adalah membentuk sikap siswa yang mampu memanfaatkan gawai untuk pengembangan ilmu dan prestasi, bukan menjadi korban kemajuan teknologi. 

 

Comments