News‎ > ‎

Menjual Kecerdasan Instan

diposting pada tanggal 12 Jun 2016 15.37 oleh Jejen Musfah FITK UIN Jakarta

Suara Guru, Mei-Juni 2016

Menjelang seleksi siswa dan mahasiswa baru, sebagian siswa dari keluarga menengah-kaya mengikuti bimbingan belajar agar bisa masuk sekolah atau kampus favorit. Persaingan ketak masuk sekolah atau PT memicu orangtua untuk menyiapkan anak mereka dengan sebaik mungkin. Kebutuhan orangtua tersebut ditangkap jeli oleh pemilik modal dengan mendirikan bimbel.

Memiliki guru yang kompeten, buku latihan soal, kelas yang kondusif, dan mungkin jurus sakti tertentu, pengelola bimbel menjamin kelulusan siswanya, baik ujian nasional, tes masuk sekolah, maupun tes masuk kampus ternama. Jika tidak lulus, uang kembali—tentu dengan tanda bintang kecil. Orangtua kaya mana yang tidak tergiur dengan janji manis seperti ini.

Berkembangnya bimbel menunjukkan bahwa mereka berhasil melahirkan generasi penjawab soal-soal ujian masuk sekolah dan kampus dengan cara yang instan. Dalam hal menjawab soal pilihan ganda, model pembelajaran bimbel lebih efektif daripada pembelajaran di sekolah. Kelebihan bimbel lainnya adalah siswa bisa fokus pada mata pelajaran tertentu saja, sementara di sekolah siswa belajar banyak mata pelajaran. 

Orientasi Akademik

Fenomena bimbel bisa dipahami dari beberapa hal berikut. Pertama, siswa harus bisa menjawab soal secara tertulis untuk bisa diterima di sekolah dan kampus favorit. Tidak peduli siswa suka atau tidak belajar di sekolah tertentu, atau cocok atau tidak belajar di Prodi tertentu, asal bisa mengisi soal, ia akan diterima. Yang diukur kemampuan akademik siswa bukan minat dan bakatnya. Sistem seleksi masuk sekolah dan PT hanya fokus pada aspek akademik, menafikan aspek kecerdasan jamak, yaitu bakat setiap anak yang beragam.

Kedua, guru tidak berhasil membuat siswa percaya diri dengan kemampuan akademik mereka. Siswa minder mengikuti tes tanpa mengikuti bimbel. Guru juga tidak berhasil dalam pembelajaran di kelas. Meski nilai rapot siswa sesuai atau di atas kriteria ketuntasan minimal, belum tentu siswa menguasai materi pelajaran.

Bimbel menjelaskan kepada kita dua hal, siswa tidak menguasai materi-materi pelajaran di sekolah pada satu sisi, dan soal-soal seleksi masuk sekolah atau kampus berbeda dengan apa yang dipelajari siswa di sekolah pada sisi yang lain. Apakah yang pertama atau yang kedua yang benar, sudah saatnya guru dan pembuat soal seleksi memperbaiki kinerjanya masing-masing. Perkembangan bimbel adalah bukti kegagalan pembelajaran (guru) di sekolah.

Ketiga, orangtua sangat ingin anaknya masuk sekolah dan kampus favorit sehingga mereka rela mengeluarkan dana untuk bimbel. Hanya orangtua kaya yang mengikutkan anaknya bimbel karena biayanya tidak murah, sekitar 2 hingga 10,5 juta rupiah. Biaya sebesar itu tidak bisa dijangkau oleh anak-anak berbakat dari keluarga miskin.

Jika sistem pendidikan kita bisa “dibeli” oleh kecerdasan instan hasil bimbel yang mahal itu (bukan oleh pengajaran guru), maka sekolah atau kampus yang bagus hanya milik mereka yang kaya. Anak-anak miskin yang kemampuan akademiknya sedang-sedang saja tidak mendapatkan tempat di sekolah dan kampus bonafid. Telah lama, sekolah dan PT favorit merekrut siswa yang tidak hanya cerdas tapi juga kaya.

Kecerdasan Jamak

Membubarkan bimbel tentu saja bukan tindakan yang baik dan melawan hukum. Bimbel akan terus tumbuh selama pembelajaran di sekolah gagal mencapai tujuannya. Justeru, guru seharusnya bisa belajar dari model pembelajaran bimbel, selama sistem penerimaan siswa dan mahasiswa baru lebih mengutamakan akademik. Guru dan orangtua harus mereview pembelajaran di sekolah, yang telah gagal mengalihkan pengetahuan kepada siswa.

Pertama, penerimaan siswa dan mahasiswa baru mempertimbangkan prestasi akademik dan non-akademik. Dengan demikian, guru dan orangtua tidak hanya fokus pada akademik siswa, tapi juga bakat-bakat mereka. Pengabaian kemampuan non-akademik siswa dalam seleksi siswa atau mahasiswa, menunjukkan bahwa sekolah dan kampus mengerdilkan makna pendidikan dan proses pendidikan, yang tidak hanya mengembangkan pengetahuan siswa, tapi juga spiritual, sosial, dan keterampilan mereka.    

Perubahan sistem itu mendesak karena sudah terang-benderang bahwa, kesuksesan belajar, bekerja, bahkan hidup tidak hanya dipengaruhi oleh kecerdasan intelektual, tapi juga kecerdasan emosional, sosial, dan spiritual. Kecuali itu, bakat anak tidak hanya dalam bidang akademik, tapi juga non-akademik, seperti sepak bola, bulu tangkis, berenang, menari, qari, menyanyi, dan lain sebagainya.  

Kedua, meningkatkan kompetensi guru, sehingga pembelajaran berlangsung efektif. Guru kompeten akan melahirkan banyak siswa yang pintar, bahkan melebihi kemampuan gurunya. Guru harus sabar dalam mengajar. Ia tidak berhenti atau menyerah sebelum para siswa memahami suatu materi. Meski sibuk dan sudah berpengalaman, guru tidak boleh berhenti belajar hal-hal baru melalui media apa pun.

Dengan demikian, siswa yang akan melanjutkan sekolah dan PT merasa cukup mampu mengikuti ujian masuk tanpa bimbel karena pembelajaran di sekolah sudah cukup baik. Kenyataannya, meski sekolah dari pagi hari hingga siang atau sore hari, siswa tetap harus bimbel atau memanggil guru privat agar lulus seleksi siswa baru atau mahasiswa baru.

Ketiga, orangtua harus mengenali bakat anak, baik akademik maupun non-akademik. Orangtua tidak boleh memaksa anak belajar terlalu keras hingga mereka kehilangan waktu bermain. Kecerdasan tumbuh secara bertahap dan secara alamiah melalui belajar yang berkelanjutan. Dengan demikian, pencapaian prestasi non-akademik sama pentingnya dengan prestasi akademik. Jika anak tidak menonjol dalam bidang akademik, mungkin saja ia memiliki kelebihan dalam bidang non-akademik.  

Orangtua perlu mengetahui seandainya bimbel menjadi beban berat anak karena jadwal belajar yang padat sehingga mereka tidak punya waktu bermain dan beristirahat. Rajin belajar merupakan kunci sukses, tapi harus diimbangi aktivitas lain yang disukai siswa dan dapat mengembangkan bakat non-akademik mereka.

Setiap anak itu istimewa. Orangtua jangan khawatir jika anaknya tidak masuk sepuluh besar di kelas, tidak masuk sekolah model, tidak masuk kampus beken, dan tidak giat belajar. Menjadi pintar dan dewasa memerlukan proses panjang dan berliku, sehingga pendidik (guru dan orangtua) harus sabar dan terus berdoa dalam masa menunggu itu.

Ikut-tidak ikut bimbel adalah pilihan kita masing-masing. Pelibatan anak sangat penting dalam memilih bimbel atau tidak. Selama sekolah dan kampus hanya berorientasi pada nilai akademik, mereka akan terus menjual kecerdasan instan. Kecerdasan akademik. Kecerdasan benar-salah. Sebuah kecerdasan tingkat rendah yang tidak berhasil ditunaikan oleh guru. Apakah mereka yang cerdas secara akademik adalah juga orang-orang yang kreatif, inovatif, dan tahan banting?           

Comments