News‎ > ‎

Merdeka Mendidik Siswa

diposting pada tanggal 7 Sep 2016 21.44 oleh Jejen Musfah FITK UIN Jakarta

Dimuat di SINDO, 26 Jumat 2016

 

Hubungan orang tua siswa dengan guru kembali tercoreng. Orang tua siswa di Makassar memukul bagian muka sang guru (10/8). Baju putih yang dikenakan guru dipenuhi bercak darah. Hidung guru pun patah sehingga harus menjalani operasi, dan hingga saat ini masih di rawat di rumah sakit bahkan kondisinya kritis (15/8). Padahal, belum lama orang tua se-Indonesia mengantar anak ke sekolah, menemui guru dan menitipkan anak mereka untuk dididik dengan baik (18/7). Diharapkan, program mengantar anak di hari pertama sekolah menciptakan hubungan yang baik antara guru dan orang tua sehingga pendidikan berjalan sesuai harapan.

Rupanya ruh dan pesan program mengantar anak ke sekolah belum dipahami dengan baik oleh orangtua. Bahwa mendidik anak membutuhkan kerjasama guru dengan orangtua, dan diperlukan kedewasaan berpikir dari setiap orang tua. Memukul guru berdasarkan informasi sepihak dari anak bukti kelemahan berpikir. Alih-alih mendidik anak, sang bapak melahirkan masalah baru bagi anak. Anak dikeluarkan dari sekolah, dan entah sekolah mana yang akan menerimanya. Padahal, tugas sekolah adalah memperbaiki akhlak.

Kasus guru-orang tua siswa bukan pertama kali ini terjadi. Sebelumnya, tercatat Muhammad Arsal di Benteng Selayar ditahan karena memukul siswanya (7-27 April 2016, diperpanjang sampai 12 Mei), Nurmayani Salam di Bantaeng Sulawesi Selatan ditahan karena mencubit siswanya (12/5/2016), guru yang juga Kepala SDN 1 Ciwareng, Sakri ditampar orang tua siswa sebagai balasan atas tindakan serupa yang dilakukan guru kepada siswa (3/6/2016), dan Mubasysyir di Sinjai Selatan ditahan karena menggunting rambut siswanya (4/6/2015), sekedar menyebut beberapa contoh.

 

Mendidik Siswa

Memilih sekolah tertentu buat anak bukan sekedar memercayakan perkembangan fisik dan kecerdasan anak kepada guru, tetapi juga perkembangan karakternya. Orang tua percaya bahwa anaknya akan memperoleh pendidikan yang baik. Landasan filosofis saling percaya antara orang tua dan guru ini yang tidak boleh dilupakan ketika terjadi masalah di sekolah. 

Desain kurikulum sekolah menitikberatkan peningkatan karakter daripada akademik, seperti tertera dalam Nawacita bahwa 70 persen materi pembelajaran bermuatan budi pekerti, dan 30 persen bersifat akademis (SD), dan 60/40 (SMP). Karakter siswa dikembangkan melalui mata pelajaran (kurikuler), kokurikuler, dan ekstrakurikuler. Dalam praktiknya, guru sebagai pendidik siswa melalui tiga aspek tersebut menghadapi respon siswa (dan orangtua) yang beragam.

Umumnya siswa menaati tatatertib dan perintah guru, tetapi ada juga yang membangkang. Di sinilah masalah guru dengan orang tua kerap muncul, yaitu bagaimana cara guru mendisiplinkan siswa di satu sisi, dan respon siswa dan orang tua di sisi yang lain.
Pertama, orang tua menganggap wajar, memaafkan guru, dan tidak mengklarifikasi. Kedua, orang tua mengklarifikasi dan memaafkan guru. Ketiga, orang tua mengklarifikasi, tidak memaafkan guru, bahkan melaporkan guru ke pihak berwajib. Keempat, orang tua main hakim sendiri dengan cara melakukan kekerasan kepada guru.


Merdeka Mendidik

Belajar dari kasus guru dengan orang tua siswa dengan ragam bentuknya di atas, maka catatan berikut bisa dipertimbangkan. Pertama, orang tua adalah mitra guru dalam mendidik siswa/ anak. Dikatakan, guru adalah orang tua kedua. Orang tua harus membaca dan memahami tatatertib sekolah. Masalahnya, orang tua sering tidak peduli dengan segala peraturan di sekolah. Keduanya perlu sepakat tentang pentingnya disiplin siswa berikut segala konsekwensinya. Pelanggaran disiplin oleh siswa bukan semata tanggung jawab guru tapi juga orangtua. Keduanya harus diskusi mencari jalan keluar, bukan saling menyalahkan, apalagi melakukan kekerasan.

Kedua, orang tua hati-hati menyikapi pengaduan anak tentang sikap guru. Sebelum bertindak, ia seharusnya melakukan mediasi dengan guru dengan melibatkan kepala sekolah dan Komite Sekolah. Tindakan orang tua harus mencerminkan seorang pendidik, bukan orang tua yang membela anak (meski salah). Ia harus berpikir jernih, merdeka dari nafsu amarah yang merugikan dirinya, anaknya, dan orang lain. Orang tua dan siswa tidak boleh merendahkan guru hanya karena sudah membayar mahal, misalnya.

Ketiga, guru menghindari hukuman fisik yang terbukti menjadi sumber konflik guru dengan orangtua. Brumbaugh dan Lawrence dalam Philosophers on Education: Six Essays on the Foundations of Western Thought, menegaskan bahwa, “If we wish to establish morality, we must abolish punishment”. Dua orang anak saja berbeda tingkat kedewasaan dan karakternya, apalagi 30 anak. Butuh kesabaran dan ketekunan mendidik dan mendisiplinkan puluhan siswa. Jika ada satu, dua, atau lebih siswa yang tidak patuh, maka tugas guru menemukan cara untuk mendidik anak-anak tersebut, seraya bersabar dan berdoa.

Guru merdeka memilih cara mendidik siswanya yang beragam karakter tetapi jangan sampai melukai fisik dan psikis siswa. Faktanya, guru bisa salah dalam mendidik siswa, bukan saja karena ia manusia tapi masih banyak guru yang tidak kompeten. Guru harus terus belajar demi peningkatan kompetensi mendidik siswa. Demikian juga siswa bisa melakukan pelanggaran, karenanya butuh bimbingan tanpa lelah (apalagi sampai menyerah) dari guru dan orang tua. Day dalam Developing Teachers; the Challenges of Lifelong Learning (2002: 191), menulis bahwa “Professional development is changing thinking and practice of teaching”.

Orang tua yang memenjarakan guru, menampar guru, apalagi memukul guru hingga berdarah-darah, karena "kesalahan kecil" guru tidak boleh terjadi lagi. Setiap persoalan yang timbul dari proses pendidikan antara guru dengan siswa/ orang tua sebaiknya diselesaikan dengan cara musyawarah dan kekeluargaan. Menghukum balik guru dengan cara kekerasan atau membuatnya merasakan dinginnya hidup di balik jeruji besi adalah bukti bahwa orang tua belum merdeka dari sifat kebodohan, sombong, dan tidak pandai bersyukur. Orang tua dan guru harus merdeka dari sifat-sifat buruk dalam mendidik anak/ siswa.

Comments