News‎ > ‎

Merintis Kampus Hijau

diposting pada tanggal 7 Sep 2016 21.22 oleh Jejen Musfah FITK

Dimuat di Qureta.com, 3 September 2016

 

Jejen Musfah, Dosen Pascasarjana Manajemen Pendidikan UIN Jakarta


Taman berumput hijau dan pepohonan besar nan rindang adalah dua di antara pembeda kampus di luar negeri dan kampus di Indonesia saat ini. Pada awal berdiri kampus-kampus besar milik pemerintah memiliki taman dan pepohonan besar, tetapi seiring bertambahnya mahasiswa, lahan-lahan hijau sebagai resapan air dan pengindah kampus berubah menjadi bangunan bertingkat, baik untuk perkantoran, ruang pertemuan, maupun untuk ruang kelas. Akibatnya, kampus tidak lagi hijau dan tidak nyaman untuk belajar.

Kampus hijau tidak hanya terkait dengan tersedianya lahan hijau tetapi komitmen kampus dalam mewujudkan lingkungan kampus yang ramah lingkungan melalui beragam program dan budaya yang dijalankan secara konsisten sehingga warga kampus merasa nyaman berada di dalamnya. Faktanya, kampus-kampus kita sepi dari kampanye dan komitmen melahirkan kampus hijau, bahkan menunjukkan kondisi sebaliknya.      

 

Masalah

Pertama, lahan hijau berkurang karena bertambahnya bangunan kampus. Gedung-gedung kampus saat ini pasti ber-AC karena umumnya kampus besar terletak di perkotaan yang cuacanya panas menyengat. AC membuat suasana belajar nyaman tapi dampak penggunaan AC sangat buruk bagi pencemaran udara. Sedangkan jika tidak menggunakan AC, kegiatan belajar-mengajar sangat tidak nyaman. Konsumsi listrik tinggi karena penggunaan AC tersebut, juga lift, lampu, komputer, dan air.

Kedua, penggunaan kertas meningkat tajam karena jumlah mahasiswa banyak. Makalah dan skripsi mahasiswa menghabiskan berim-rim kertas setiap bulan dan tahun. Belum lagi penggunaan kertas di kantor seperti undangan rapat dan berkas-berkas laporan kegiatan untuk bagian keuangan yang sangat tebal. Intinya, sampah kertas dan lainnya dari kampus besar melonjak tinggi yang perlu segera dikurangi seminimal mungkin.

 Ketiga, mahasiswa, staf, dan dosen ramai membawa kendaraan pribadi ke kampus, baik roda dua maupun roda empat sedangkan lahan parkir tidak memadai. Banyaknya kendaraan di kampus menimbulkan masalah polusi udara di area kampus dan menganggu kenyamanan. Banyaknya kendaraan itu menunjukkan kemapanan ekonomi dosen, gaya hidup, juga buruknya transfortasi umum di Indonesia.

 

Solusi

Berikut beberapa ide mewujudkan kampus hijau. Pertama, mulai membangun gedung di area baru yang tanahnya luas secara bertahap karena lokasi kampus lama sudah tidak kondusif. Setiap bangunan baru tidak lebih dari tiga lantai agar tidak memerlukan lift. Bangunan dirancang agar setiap ruangan mendapat pencahayaan dari sinar matahari sehingga akan meminimalisir penggunaan lampu di pagi, siang, dan sore hari. Kemudian, secara bertahap 20 hingga 30 tahun ke depan pindah ke kampus baru yang lebih kondusif, hijau, luas, dan representatif.

Kedua, menyediakan bis kampus untuk dosen dan staf sehingga bisa mengurangi penggunaan kendaraan pribadi. Sebelum transfortasi umum bagus dan nyaman, warga kampus akan memilih naik motor dan mobil pribadi kecuali pihak kampus menyediakan bis khusus.

Ketiga, membangun asrama mahasiswa, staf, dan dosen juga akan mengurangi kendaraan di kampus. Pembangunannya di area kampus yang bisa dijangkau dengan sepeda atau berjalan kaki. Di samping mengurangi kendaraan pribadi di area kampus, ia juga akan meningkatkan kinerja staf dan dosen. Mahasiswa juga bisa tepat waktu mengikuti perkuliahan. 

Keempat, tempat parkir kendaraan di luar kampus sehingga suasana kampus nyaman dan bersih. Warga kampus harus dibiasakan berjalan kaki satu hingga dua kilo. Perlu disiapkan atap penghubung gedung atau kendaraan khusus pengantar antar gedung untuk musim hujan. Kelima, mengurangi penggunaan kertas (paperless) untuk makalah, karya ilmiah, dan administrasi perkantoran dengan memanfaatkan teknologi dan lainnya. 

 

Memulai

Pengembangan universitas adalah cita-cita bersama warga kampus. Setiap kampus penting berkembang dalam banyak hal tetapi lebih penting bagaimana mengelola perkembangan sehingga kampus kita tetap hijau dan nyaman untuk belajar. Pembangunan kampus-kampus di Indonesia sepertinya tidak memerhatikan konsep go green atau pemanasan global.

Kampus hijau bukan saja akan membuat belajar dan pengajaran menjadi nyaman tetapi juga memperlambat pemanasan global. Kampus tidak hanya melaksanakan seminar go green, penghijauan, dan pemanasan global tetapi menerapkannya di lingkungan, melalui program, dan budaya kampus.

Kampus seharusnya menjadi contoh gerakan penghijauan dan melakukan upaya-upaya nyata terwujudnya label kampus hijau. Saatnya pemerintah menjadikan kampus hijau sebagai indikator penilaian akreditasi. Rektor harus dipaksa menata ulang dan merintis desain kampus yang berorientasi pada kampus hijau dan ramah lingkungan.

#LombaEsaiKemanusiaan

Comments