News‎ > ‎

Mimpi Menuju PT Kelas Dunia

diposting pada tanggal 9 Feb 2015 20.44 oleh Jejen Musfah FITK
Dimuat di Koran Media Indonesia, Senin, 9 Februari 2015
            Selasa, 6 Januari 2015, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin melantik lima Rektor dan lima Ketua Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAIN). Tantangan PT kita tidak mudah karena masih tertinggal jauh dari PT di Asia apalagi Barat. Mungkin visi semua PT secara eksplisit atau implisit mengarah ke PT kelas dunia. Masalahnya, apa yang dilakukan sering tidak sejalan dengan visi yang telah ditetapkan.      

Di antara kriteria PT kelas dunia adalah riset-riset unggulan. Jika PT kita tidak mampu mencapai kriteria tersebut—meski berkali-kali ganti pimpinan, maka tak salah dikatakan bahwa kita bukan individu atau komunitas pembelajar. Mewujudkan PT kelas dunia jelas bukan pekerjaan yang mudah. Dibutuhkan kerja keras dan waktu yang lama.

Kecuali mutu penelitian, kriteria PT kelas dunia adalah mutu dosen. Pemerintah sudah membuat standar mutu dosen dan mutu penelitian (Permendikbud No 49 Tahun 2014) yang kompatibel dengan standar PT kelas dunia. Pimpinan dan dosen PT sudah tahu hal ini, namun terlalu banyak faktor penghambat untuk mewujudkan kerja-kerja ideal di PT kita.

Kita memang terkenal dengan banyak peraturan namun lemah dalam tindakan nyata. Visi tidak akan bisa dicapai jika kita tidak mengetahui kondisi kita saat ini. Membaca kondisi PT saat ini menyadarkan kita tentang kelemahan yang harus segara ditingkatkan.

Kelemahan umum PT kita adalah kekurangan profesor dan doktor. Minimnya jumlah profesor karena dosen doktor kita tidak memiliki artikel ilmiah yang dimuat di jurnal internasional. Standar hasil penelitian dosen kita tidak sesuai dengan standar penelitian di luar negeri. Sulitnya menembus jurnal internasional karena dosen kita lemah dalam Bahasa Inggris.     

Survey oleh Scientific American di Tahun 1994 menunjukkan bahwa kontribusi ilmuwan Indonesia pada khasanah pengembangan dunia ilmu setiap tahunnya hanyalah sekitar 0.012%, yang jauh berada di bawah Singapura yang berjumlah 0.179%, apalagi kalau dibandingkan dengan USA yang besarnya lebih dari 20%.

Menurut data Bloomberg Rankings, negara yang paling inovatif di dunia pada 2014 adalah Korea Selatan dan Swedia di urutan satu dan dua. Kemudian urutan ketiga sampai sepuluh adalah Amerika, Jepang, German, Denmark, Singapura, Swiss, Finlandia, dan Taiwan. Hongkong urutan ke-26 dan Malaysia urutan ke-34. Indonesia tidak masuk ke dalam 50 besar, hanya urutan ke 67 aspek manufacturing capability.      

 

Program strategis

Data tersebut tidak menggembirakan. Kunci mutu PT ada pada pimpinan PT. Mereka mestinya langsung bekerja dengan membuat program-program strategis. Pertama, pelatihan bahasa asing. Pelatihan intensif bahasa asing di dalam maupun di luar negeri akan membantu dosen untuk mendapatkan beasiswa S-3 di uar negeri, menulis artikel ilmiah dalam bahasa asing, atau beasiswa post-doktoral.

Dosen yang kemampuan bahasa asingnya bagus diwajibkan mengajar menggunakan bahasa tersebut. Dalam jangka waktu tertentu, PT di Indonesia harus menggunakan Bahasa Inggris dalam perkuliahan, menulis makalah, website, dan aspek-aspek lainnya. Sangat aneh, dosen dituntut bisa go international tapi tak pandai bahasa asing, baik lisan maupun tulisan. Di pesantren modern saja diwajibkan berbahasa asing dalam percakapan sehari-hari, mengapa di kampus-kampus kita tidak menerapkan sistem yang sama.        

Kedua, beasiswa S-3. Beasiswa S-3 akan mendorong dosen segera kuliah karena ada kepastian biaya. Dosen dengan status single income akan merasa berat jika harus kuliah dengan biaya sendiri. Belajar membutuhkan ketenangan dan fokus. Fokus mahasiswa pascasarjana terbelah antara studi dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan domestiknya. Beasiswa yang memadai bisa membuat dosen fokus belajar, sehingga bisa selesai tepat waktu. Ini menguntungkan bagi PT. Keterlambatan atau kegagalan banyak dosen dalam menyelesaikan kuliah merupakan kesalahan dosen dan PT.   

Ketiga, pelatihan menulis karya ilmiah. Tidak semua dosen terampil menulis karya ilmiah. Kendala bahasa, membuat dosen tidak bisa menikmati karya ilmiah di jurnal internasional. Jika banyak dosen mempublikasikan karyanya di jurnal internasional, maka jumlah profesor akan bertambah.

Pertanyaannya, benarkah semua dosen harus bisa menulis karya ilmiah? Orang yang bisa menulis belum tentu cara mengajarnya lebih baik dibanding orang yang tidak bisa menulis. Mungkin diperlukan pembagian dosen yang tugasnya mengajar dan dosen dengan tugas utama meneliti. Dosen pertama memiliki keterampilan mengajar dan dosen kedua memiliki keterampilan menulis karya ilmiah. Dosen pertama disebut dosen pengajar dan yang kedua disebut dosen peneliti.

Tuntutan tugas dosen sebagai pengajar dan peneliti tidak bisa mendorong PT kita menjadi PT kelas dunia. Di luar negeri, dosen bisa menghasilkan karya ilmiah karena mengajarnya sedikit, atau dibebaskan mengajar untuk sementara waktu untuk menulis (sabbatical leave). Faktanya, tidak semua orang bisa menjadi pengajar yang bagus, sebagaimana tidak semua orang bisa menulis karya ilmiah. Setahu saya, syarat untuk menjadi dosen (saat perekrutan) tidak harus pandai menulis dan pandai mengajar. Tiba-tiba, PT mewajibkan dosen menulis dan meneliti tanpa memberikan pelatihan khusus dan terstruktur, jelas tidak akan berhasil.        

Keempat, post-doktoral ke luar negeri. Penyegaran sangat penting bagi dosen yang doktor atau profesor. Prioritas program ini adalah dosen lulusan dalam negeri. Tujuannya agar mereka berwawasan internasional. Kerjasama penelitian antara dosen dalam dan luar negeri akan berhasil jika dosen kita menguasai bahasa dan budaya akademik mereka.

Tidak perlu merasa rendah diri untuk belajar kepada PT Barat, karena faktanya, PT kita jauh tertinggal dari PT mereka. Ini adalah periode kita belajar kepada Barat, hingga akan tiba waktunya mereka juga akan belajar kepada kita. Karena kita memiliki apa yang mereka tidak miliki, demikian juga sebaliknya. Misalnya budaya dan sumber daya alam yang kita miliki merupakan hal yang menarik bagi pengembangan ilmu pengetahuan.        

Keempat program tersebut sudah ada di Kemenag dan Kemendikbud, namun kuota pertahunnya sangat terbatas. PT harus membuat sendiri program pengembangan dosen melalui dana pemerintah atau dana PT sendiri. Jika dosen dibiarkan bersaing sendiri untuk mendapatkan beasiswa di Kementerian, akan dibutuhkan waktu yang lama untuk peningkatan mutu dosen.

Kelima, pembukaan program magister dan doktor. Jika jumlah dosen bergelar doktor dan profesor sudah memadai, maka pembukaan program S-2 dan S-3 akan berjalan mulus. Ciri PT kelas dunia adalah program pascasarjananya lebih besar daripada program sarjananya. Keenam, menambah jumlah dosen. Jumlah dosen harus mencukupi sehingga proses belajar dan penelitian di PT akan berjalan sesuai yang diharapkan.   

Inilah enam program prioritas yang harus dilaksanakan oleh pimpinan PT. Pengembangan aspek pendidikan lainnya tidak bisa diabaikan, karena semuanya saling terkait dan mempengaruhi satu sama lain. Mutu dosen akan berpengaruh terhadap kinerja pendidikan dan pengajaran serta pengabdian kepada masyarakat.

Dibutuhkan pemimpin yang memiliki kemauan memajukan lembaga. Pemimpin dituntut berpikir kreatif dan inovatif. Cirinya adalah kerja nyata melalui pengembangan dosen dan penelitian. Jika tidak, maka PT kelas dunia hanya akan menjadi mimpi yang tidak pernah jadi kenyataan. Where are you going world class university?    

Comments