News‎ > ‎

Nilai Edukasi Idul Fitri

diposting pada tanggal 14 Jun 2016 16.24 oleh Jejen Musfah FITK UIN Jakarta
Go Cakrawala, 27 Juli 2015

Ramadhan diawali dengan salat tarawih, salat witir, dan puasa. Umat Islam di seluruh dunia berpuasa sebulan penuh. Idul fitri adalah hari penutup Ramadhan. Hari kemenangan, karena berhasil menaklukan hawa nafsu; hari kembali suci, karena membersihkan diri dan Allah mengampuni dosa-dosa muslim yang berpuasa.

Keberhasilan manusia dalam puasa Ramadhan diukur dari kemampuannya mengendalikan diri, terutama dalam menjaga persaudaraan sesama muslim. Tradisi mudik, bermaaf-maafan (halal bihalal), silaturahmi, dan ziarah kubur pada hari raya idul fitri, jangan hanya sebatas simbol yang tak mewujud dalam perilaku muslim sehari-hari.

Tradisi di atas meniscayakan seorang muslim mudah memaafkan bukan pendendam, penyayang bukan perusak atau pelaku kekerasan, dan qanaah bukan rakus harta. Sudah berpuluh kali Ramadhan, puasa, dan idul fitri dijalani seorang muslim, namun perilaku mereka menunjukkan bahwa puasa dan tradisi dalam lebaran hanya sekedar ritual tanpa makna.

Pertama, sebagian umat muslim adalah pendendam, tidak mudah menerima kekalahan. Pada saat pemilihan rektor di perguruan tinggi, acapkali pihak yang kalah tidak mau menerima hasil pemilihan yang sudah dilakukan secara “demokratis”. Bukannya menerima dengan lapang dada, malah mencari kelemahan sang pemenang.

Maka, pemilihan pimpinan puncak PT bukannya membawa kebaikan bagi kampus dan kemajuan pendidikan, malah sebaliknya menimbulkan konflik antar calon, bahkan para pendukunya. Tidak jarang, penyelesaian konflik harus melibatkan pemerintah pusat, karena internal kampus tidak kunjung mampu menyelesaiannya alias deadlock—untuk tidak mengatakan chaos.

Seorang muslim cendekia selaiknya memandang jabatan sebagai amanah yang tidak mudah dilaksanakan. Karena itu, ia tidak akan pernah meminta-minta jabatan apa pun, apalagi memperjuangkannya “mati-matian”. Tugas utama dosen adalah mengajar, meneliti, dan pengabdian masyarakat (tri dharma).

Hanya dengan sikap seperti itu, menang-kalah dalam pemilihan rektor tidak ada bedanya. Ia akan kembali mengajar, meneliti, dan mengabdi, dan tidak perlu melakukan upaya apa pun yang mencederai keutamaan seorang muslim. Bukankah dikatakan, orang yang kuat adalah yang mampu memaafkan meskipun dirinya benar.

Pemilihan rektor memang proses politik, yang pasti dipenuhi strategi memenangkan calon oleh pendukungnya masing-masing. Karena itu, ia rawan manipulasi dan upaya-upaya yang mengarah pada pelanggaran konstitusi dan moral. Karena kemungkinan sama-sama melakukan manufer politik itulah, seharusnya dosen siap menang-kalah, berjiwa lapang, termasuk memaafkan jika merasa “dizalimi”.            

Kedua, sebagian generasi muda muslim adalah pelaku kekerasan, bahkan sanggup membunuh sesamanya dengan beragam senjata tajam. Tawuran sudah menjadi tradisi di kalangan pelajar dan mahasiswa muslim Indonesia, yang belum mampu dicarikan solusinya hingga saat ini. Pun saat masa orientasi siswa/mahasiswa baru, kekerasan kerap terjadi di sekolah/kampus meski sudah banyak korban sebelumnya.

Di mana nilai kasih sayang kepada sesama saudara yang merupakan makna instrinsik silaturahmi dan halal bihalal umat muslim pada saat dan setelah lebaran? Generasi muda muslim seharusnya menebarkan kasih-sayang kepada sesama, sehingga terwujud suasana kondusif dalam mencari ilmu dan pengembangan potensi. Alih-alih tawuran, mereka seyogyanya berlomba-lomba dalam meraih prestasi akademik dan non-akademik.

Setiap manusia adalah bersaudara, meskipun berbeda-beda agama, suku, dan bahasa. Sebagai saudara, para pelajar dan mahasiswa seharusnya saling menyayangi dan melindungi satu sama lain, meskipun beda sekolah dan kampus, bahkan berbeda pandangan. Kesalahpahaman bisa terjadi kapan saja antar mereka, tapi pemecahannya bukan dengan jalan kekerasan melainkan dengan dialog-damai dan akal sehat.         

Ketiga, umat muslim jauh dari sifat qanaah—merasa cukup dengan rezeki yang halal. Kasus korupsi dana pendidikan lazim terjadi seperti pengurangan dana bantuan operasional sekolah (BOS), sertifikasi guru, dan pembangunan ruang kelas baru (RKB). Korupsi dana pendidikan terjadi karena manusia rakus harta, gaya hidup mewah, dan budaya hidup instan dalam meraih kekayaan.

Tradisi ziarah kubur setelah salat Idul Fitri di Indonesia sesungguhnya mengajarkan umat muslim untuk belajar dari keadaan mayat yang tak membawa hartanya sedikitpun. Sekaya apa pun seseorang, ketika sudah mati hanya kain kafan putih dan amalnya yang akan menemani di alam kubur. Hartanya akan menjadi warisan keluarganya. 

Jadi buat apa kaya jika hasil korupsi, menipu, dan memeras. Kematian mengajarkan manusia agar cerdas dalam memperoleh dan mendristibusikan harta. Harta harus diperoleh dengan cara yang halal dan memberikannya kepada yang berhak jika berlebih. Seorang muslim tidak dilarang menjadi kaya-raya, asal diperoleh dengan cara-cara yang halal. Jika tidak sanggup menjadi kaya dengan cara halal, ia tidak boleh mengeluh, karena toh hidup hanya sementara.

Demikianlah, Idul Fitri dan tradisi yang menyertainya mengajarkan seorang muslim untuk menjadi manusia yang berkarakter baik. Karakter pemaaf dan welas-asih akan menciptakan kehidupan yang damai, aman, dan tenteram. Kondisi ini penting bagi proses pendidikan, di mana para dosen menjadi contoh baik dan para siswa berangkat dan pulang sekolah tanpa perlu merasa cemas sedikit pun.  

Sedangkan karakter merasa cukup (qanaah) akan menghasilkan kehidupan yang saling mempercayai. Orang-orang akan bahagia karena haknya tidak dikurangi. Para pemimpin tenteram hatinya karena merasa tidak melanggar aturan. Qanaah seorang pemimpin akan menghindarkannya dari korupsi.

Korupsi pendidikan tak seramai korupsi dalam politik dan ekonomi, tetapi bukan berarti dibiarkan terus terjadi. Budaya korupsi pendidikan bisa dicegah melalui perbaikan mental pemimpin dan pelaksana pendidikan dari pusat hingga daerah. Di hari fitri ini, semoga mereka sadar bahwa, korupsi melahirkan sikap antipati dan pudarnya kepercayaan publik terhadap para pemimpin. Tidak ada duka yang lebih dalam kecuali saat pemimpin kehilangan kepercayaan bawahannya.

Mohon maaf lahir-bathin, semoga puasa kita diterima. Semoga puasa, lebaran, tradisi halal bihalal, dan ziarah kubur, mampu melahirkan muslim dengan mental baru: pemaaf, menyayangi sesama, dan qanaah. Inilah tiga pilar mental muslim sebagai pondasi kokoh terciptanya negeri yang aman-damai-sentosa, dalam lindungan Allah Swt.              

        

Comments