News‎ > ‎

Orientasi Baru Orientasi

diposting pada tanggal 14 Jun 2016 16.22 oleh Jejen Musfah FITK UIN Jakarta
Republika, 25 Juli 2015

Akhir Juli ini siswa baru akan memulai sekolah, dari SD, SMP, hingga SMA. Di sekolah akan tersua wajah-wajah suka-cita, terutama para siswa dan para orangtua yang mengantarkan anaknya di hari pertama sekolah. Siswa akan bertemu dengan teman-teman baru, dan orangtua berharap para guru mampu mendidik anaknya dengan baik.

Sejarah menunjukkan, sekolah tak luput dari kekerasan senior ke yunior, khususnya pada masa orientasi siswa (MOS—selanjutnya disebut orientasi siswa). Tidak hanya menyebabkan luka fisik dan psikis yang ringan dan sedang, orientasi siswa tidak jarang menyebabkan hilangnya nyawa siswa baru. Misalnya, pada 2009, Roy Aditya Perkasa, siswa SMAN 16 Surabaya, dan pada 2011, Amanda, siswa SMAN 9 Ciputat, keduanya meninggal saat orientasi siswa.

Suka-cita orangtua yang belum redup, berganti air mata duka. Anak tercinta mereka harus kehilangan kesempatan menimba ilmu dan meraih masa depan karena tindak kekerasan para seniornya di sekolah yang baru saja dikenalnya. Sepertinya, kepala sekolah, guru, dan siswa tidak pernah belajar dari kejadian masa lalu.

Tidak satu pun siswa senior yang merencanakan menyakiti apalagi membunuh siswa yuniornya. Tetapi model orientasi siswa berikut bisa menjadi pemicu terjadinya kekerasan panitia terhadap siswa baru, karena itu patut dihindari. Pada musim orientasi siswa 2015 ini, guru perlu meyakinkan kepada panitia siswa bahwa model ini harus dibuang jauh-jauh.

Pertama, berpakaian tidak seperti orang normal alias gila. Diketahui bersama bahwa, siswa-siswi baru kerap diminta memakai atribut ini dan itu sejak dari rumah hingga ke sekolah. Alih-alih melatih karakter keberanian dan kebersamaan siswa, hal ini malah jauh dari sikap mendidik. Saya tidak bisa memahami bagaimana para guru membiarkan siswa-siswi baru berpenampilan seperti itu. Mereka bukan badut atau lainnya yang bisa dijadikan bahan olok-olok dan tertawaan di sekolah.      

Kedua, membawa sejumlah minuman, snack, dan sembako. Meski minuman dan makanan tersebut untuk disumbangkan ke pihak lain atau bakti sosial, hal tersebut memberatkan bagi siswa miskin. Siswa miskin terpaksa memenuhi kemauan sekolah, meski tidak sanggup. Jelas dalam Permendikbud No. 55 Tahun 2014 tentang Masa Orientasi Peserta Didik bahwa, sekolah dilarang memungut biaya apa pun dari siswa. Sekolah gagal paham bahwa hal di atas merupakan bentuk lain dari pungutan ke siswa. 

Ketiga, kegiatan dan hukuman fisik yang berlebihan, seperti berjemur, push up, dan sit up dalam waktu yang lama. Hal ini untuk menghindari kelelahan fisik berlebihan yang bisa berujung fatal. Sebelum orientasi, apakah sekolah memiliki rekam jejak kesehatan siswa? Saya yakin sebagian besar sekolah tidak. Hukuman fisik harus dihentikan, meskipun sebelumnya panitia siswa mengalaminya sebagai budaya yang telah berlangsung lama. Stop budaya “balas dendam”.

Keempat, guru menyerahkan orientasi sepenuhnya kepada panitia siswa. Tanpa pendampingan dan kontrol dari guru, orientasi siswa bisa merupakan ajang “unjuk kekuasaan dan kekuatan” senior kepada yuniornya. Perilaku negatif yang tidak diharapkan sebelumnya, bisa terjadi kapan saja, terutama saat siswa baru melakukan kesalahan atau pelanggaran. Melalui pendampingan guru, budaya balas dendam dan kekerasan senior kepada yunior di awal masa sekolah diharapkan hilang secara perlahan.

Orientasi Baru

Diperlukan orientasi siswa model baru, dari yang berisi dendam, kebencian, dan kekerasan ke budaya akademis. Guru tidak boleh lupa bahwa tujuan orientasi siswa di antaranya adalah mengenalkan sekolah, cara belajar, dan pengenalan diri kepada siswa. Karena itu, saya menyarankan kegiatan orientasi siswa sebagai berikut.

Orientasi pertama ilmu pengetahuan. Kegiatan orientasi siswa didesain untuk menumbuhkan kecintaan siswa kepada ilmu pengetahuan, bidang ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, ilmu pengetahuan bahasa, maupun ilmu pengetahuan agama. Guru bisa mengajak siswa baru menonton film ilmu pengetahuan, kemudian mendiskusikan kandungannya. Video berisikan temuan terbaru dalam bidang teknologi sains misalnya, akan menarik minat siswa.     

Orientasi kedua cinta belajar. Orientasi siswa akan sangat berkesan dan berarti jika mampu melahirkan kecintaan siswa terhadap belajar. Guru bisa menghadirkan ilmuwan, pakar, atau penemu kelahiran Indonesia yang dikenal dunia karena kepakaran atau temuannya. Sang pakar diminta menceritakan kepada siswa baru bagaimana perjuangannya dalam menemukan karya-karya baru (genuine) atau inovatif, yang ujungnya pasti karena cinta belajar. Pakar tersebut bisa saja peneliti, dosen, guru, pengusaha, mahasiswa, atau bahkan siswa.    

Orientasi ketiga menemukan potensi siswa. Gambaran seperti apa orang yang sukses di dunia ini perlu disampaikan kepada siswa. Kesuksesan seseorang dalam bidangnya masing-masing ditopang oleh potensi yang dilatih menjadi kompetensi. Setiap orang dilahirkan membawa potensi dan keunggulannya sendiri-sendiri.

Inilah yang perlu disadarkan kepada siswa, bahwa jangan minder kalau lemah dalam bidang tertentu. Sebaliknya, temukan dan rawatlah potensi setiap siswa yang beragam itu melalui bimbingan dan pendidikan di dalam dan di luar sekolah. Guru bisa menjelaskan teori sembilan kecerdasan jamak yang dikembangkan oleh Howard Gardner, dari Harvard University.        

Orientasi keempat cinta kebaikan. Menjadi manusia pintar saja tidak cukup, siswa harus diajarkan pentingnya budi pekerti. Siswa harus diajarkan dan dibiasakan budi pekerti seperti kejujuran, kebersihan, toleransi, kemandirian, gotong-royong, rendah hati, dan antri. Orientasi siswa bisa dilakukan dengan perpaduan 30 persen teori dan 70 persen praktik tentang budi pekerti tersebut.

Mengajak siswa baru membersihkan lingkungan sekolah misalnya, bukanlah hal tabu dan menyimpang. Kemudian, diadakan permainan yang bertujuan menciptakan keakraban antara siswa senior dengan siswa yunior. Senior menyayangi yunior, dan yunior menghormati senior. Tradisi kekerasan yang selama ini muncul diarahkan ke tradisi penghargaan terhadap orang lain.    

Akhirul kalam, semoga orientasi siswa tahun ini tidak menyisakan duka bagi para orangtua. Kepala sekolah dan guru bertanggung jawab mendesain kegiatan ini nirkekerasan. Masa tiga atau lima hari orientasi siswa adalah masa kritis siswa baru di awal kehadirannya di sekolah baru. Di hari-hari awal ini, kepala sekolah wajib menyajikan setiap kegiatan menjadi momen yang menyenangkan dan menginspirasi siswa.                        

Comments