News‎ > ‎

Paradoks Internet

diposting pada tanggal 14 Jun 2016 15.28 oleh Jejen Musfah FITK
Go Cakrawala, 13 April 2015

 Kebutuhan manusia yang paling dasar tidak lagi hanya udara, air, makanan, tidur, seks, dan rumah, melainkan internet. Lihat saja bagaimana manusia abad ini hidup, sejak bangun tidur hingga menjelang tidur. Di rumah, di kantor, di bus, di bandara, di stasiun, di restoran, di mall, di terminal, di sekolah, dan di kampus, semua orang tak lepas dari internet melalui perangkat smart phone, laptop, dan tablet.  

Tulisan ini menjelaskan bagaimana pengaruh internet dalam pembelajaran civitas akademik kampus. Internet berdampak baik bagi kehidupan manusia, termasuk pendidikan, khususnya konsep belajar. Pertama, pengetahuan melimpah. Sepanjang ada koneksi internet, maka beragam pengetahuan bisa kita dapatkan dalam hitungan detik, seperti jurnal, e-books, e-paper, dan youtube. Dulu, experience is the best teacher, sekarang, google is the best teacher (Amin Muhammad, 2013).

Kedua, belajar kapan dan di mana saja. Cukup membawa smart phone, orang bisa belajar saat menunggu bus atau pesawat, antri di bank, atau mengisi waktu luang di taman atau café kampus. Hal ini karena membawa smart phone atau tablet lebih simpel dibanding membawa buku, majalah, atau jurnal. Kampus, mall, restoran, bandara, dan hotel menyediakan fasilitas internet, sebagai jawaban atas kebutuhan masyarakat akan internet yang sangat tinggi.   

Kecuali dampak baik tersebut, internet juga memiliki dampak buruk dalam pembelajaran di kampus. Pertama, plagiasi. Informasi, pengetahuan, dan data yang melimpah seperti dijelaskan di atas alih-alih membuat mahasiswa dan dosen produktif, malah menjadikan plagiasi tumbuh subur di kalangan kampus. Makalah, skripsi, tesis, disertasi, dan artikel ilmiah bukan karya asli, melainkan copy paste dari internet, dengan variasi plagiasi yang beragam—25 persen, 50 persen, 75 persen, hingga 100 persen. Menurut data Kemendikbud, kasus plagiat atau biasa disebut copy paste (copas) pada proses sertifikasi dosen mencapai 808 kasus di tahun 2013. Plagiasi bahkan dilakukan oleh guru besar atau profesor.  

Kedua, media sosial. Mahasiswa dan dosen minim akses jurnal ilmiah, e-books, dan informasi lain yang terkait bidang ilmu mereka. Sebaliknya, mereka sangat aktif (eksis) di media sosial, seperti Facebook, BBM, WhatsApp, dan Twitter. Fokus di media sosial bisa membuat mereka melupakan pentingnya membaca jurnal dan sumber-sumber akademik lainnya. Media sosial bagus dan bermanfaat sepanjang digunakan untuk berbagi ilmu dan informasi, dan tidak berlebihan.

Mengapa plagiasi sangat tinggi dan senang eksis di media sosial? Plagiasi dan media sosial marak karena budaya baca dan menulis belum terbentuk di kalangan civitas akademik kampus. Sebaliknya, mereka senang curhat di media sosial tinimbang mengisi waktu dengan membaca dan menulis. Makalah, skripsi, dan tesis misalnya, minim ide, sintesis, dan analisis penulis. Dengan kata lain, “karya ilmiah” tersebut hanya berisi pendapat orang atau copy paste.

Critical thinking belum terbentuk di kalangan civitas akademik kampus karena model pendidikan kita masih satu arah (teacher centered). Siswa dan mahasiswa tidak diajarkan pemecahan masalah. Celakanya, kampus-kampus kita sepertinya belum serius menangani soal plagiasi ini. Aturan tentang plagiasi ada namun mahasiswa dan dosen bergeming. Budaya baca juga sangat rendah. Sangat jelas terlihat pemandangan di kampus-kampus kita, mereka tidak sedang membaca, tapi main hape, ngobrol, nonton film (Korea) di laptop, dan lain sebagainya.

Menurut survey UNESCO, minat baca masyarakat di Negara-negara ASEAN adalah yang paling rendah di dunia. Hanya ada 1 orang dari 1.000 orang di Indonesia yang memiliki minat baca yang tinggi. CSM (Center for Social Marketing) menjelaskan, perbandingan banyaknya buku yang dibaca oleh siswa SMA di beberapa negara, Indonesia menempati tempat terendah. Untuk siswa SMA di Amerika Serikat, jumlah buku yang wajib dibaca sejumlah 32 judul, Brunei 7 buku, Singapura 6 buku sedangkan Indonesia 0 buku.

 

Enam Program  

Internet belum dimanfaatkan maksimal oleh civitas akademik kampus untuk berkarya, sehingga melahirkan inovasi, kreativitas, dan produktivitas. Kondisi ini masih bisa diperbaiki dengan melahirkan program yang bertujuan mengembangkan budaya baca dan menulis civitas akademik kampus. Meskipun yang terbaik tentu harus dimulai dari rumah dan sekolah atau sejak kecil.  

Pertama, perpustakaan kampus dibuat senyaman mungkin. Koleksi buku dan jurnal lokal dan internasional terbaru diperbanyak. Hal ini agar mendukung tagihan karya ilmiah yang harus memakai buku baru (10 tahun terakhir) dan berbahasa asing. Perpustakaan dibuka sampai malam. Lokasinya harus strategis sehingga mudah dijangkau oleh mahasiswa dan dosen. Lomba resensi buku diadakan setiap tahun untuk mahasiswa dan dosen.

Kedua, sediakan taman baca dan ruang baca di lingkungan kampus. Ketiga, adakan pelatihan dan pembiasaan Bahasa Inggris untuk civitas akademik kampus. Problem mendasar mahasiswa dan dosen tidak atau malas mengakses sumber-sumber berbahasa asing seperti jurnal ilmiah dan e-books adalah karena Bahasa Inggris mereka lemah. Baru baca satu kalimat atau satu paragraf sudah mumet. Akhirnya, tidak jadi baca. 

Keempat, workshop menulis karya ilmiah bagi mahasiswa dan dosen. Tidak semua orang berbakat menulis, maka perlu dilatih secara intensif. Kelima, jumlah halaman karya ilmiah mahasiswa berbasis kualitas bukan kuantitas. Kurangi halaman, karena mendorong plagiasi. Yang penting bukan jumlah halaman, tapi temuan penelitian. 

Keenam, kampus mengadakan sosialisasi dampak negatif internet—termasuk media sosial—melalui spanduk, poster, orientasi mahasiswa baru, dan dosen di kelas. Sebaliknya, kampus mendorong penggunaan jurnal internasional untuk menulis karya ilmiah.

Paling tidak, enam hal inilah yang perlu dilakukan kampus agar internet berdampak positif bagi civitas akademik kampus. Pengaruh buruk internet diminimalisir dengan cara mendesain program agar mereka bisa memilih isi yang tepat dan memanfaatkannya untuk produktivitas berkarya dalam bidang akademik. Dengan demikian, internet memanusiakan, mencerdaskan, dan memudahkan belajar generasi abad ini, bukan sebaliknya.

Albert Einstein menulis, “I fear the day that technology will surpass our human interaction. The world will have a generation of idiots.” Ya, lihat saja: kita satu kampus, satu kantor, atau satu rumah tapi jarang bertegur sapa. Bahkan mungkin, kita satu meja makan atau satu tempat tidur, tapi tak saling bertukar cerita. Kita terlanjur cinta mati kepada telepon pintar daripada manusia di sekitar kita.

Paradoks internet itu adalah bahwa ia mencerdaskan generasi suatu bangsa pada satu sisi, namun bisa membuat generasi suatu bangsa teraleniasi dan bodoh pada sisi yang lain. Selamat merenung tuan dan puan.    

     

Comments