News‎ > ‎

Pemimpin Sungguhan, Pemimpin Stempel

diposting pada tanggal 15 Feb 2015 20.40 oleh Jejen Musfah FITK
Dimuat di Koran Harian Cakrawala Makassar, Senin, 16 Februari 2015

Tidak ada satu pun lembaga pendidikan yang visinya tidak bagus. Visi adalah cita-cita lembaga yang memang mesti bagus dan tinggi. Masalahnya, sangat sedikit lembaga pendidikan yang berhasil mewujudkan visinya. Visi hanya manis di bibir dan indah dalam tulisan, namun lemah dan rendah dalam pencapaian.  

Alasan klasik biasanya dialamatkan pada ketiadaan atau keterbatasan dana. Bagaimana program bisa jalan jika tidak ada dana? Dana sangat diperlukan untuk pengadaan fasilitas, operasional, dan perekrutan sumber daya manusia sebuah lembaga pendidikan. Masuk akal bukan? Pertanyaannya, apakah lembaga pendidikan yang punya fasilitas, sumber daya, dan dana operasional besar pasti bisa mewujudkan visinya? 

 

Krisis pemimpin

Kecuali dana, mewujudkan visi lembaga memerlukan sentuhan pemimpin. Orang bisa saja menduduki jabatan pemimpin tapi belum tentu kinerjanya menunjukkan bahwa ia benar-benar pemimpin sejati (the real leader). Pemimpin yang tidak mampu mewujudkan visi lembaganya tidak bisa disebut pemimpin (leader), seperti kata Warren G. Bennis, “Leadership is the capacity to translate vision to reality.” Ia disebut pemimpin by the jure not by the fact. 

Kelemahan pendidikan kita paling utama adalah minimnya pemimpin. Mengapa sulit menemukan sosok pemimpin? Pertama, memang tidak ada (krisis) sosok yang memenuhi kriteria sebagai pemimpin. Kedua, jika pun ada orang yang memenuhi kriteria sebagai pemimpin, ia belum tentu bisa terpilih sebagai pemimpin. Inilah kelemahan sistem sekaligus budaya pemilihan pemimpin di lembaga pendidikan kita, dari tingkat dasar, menengah, hingga perguruan tinggi.     

Seperti jabatan di pemerintahan, pemilihan pemimpin di lembaga pendidikan lebih besar faktor politiknya dibanding faktor profesionalitas—sebut saja misalnya integritas dan kapabilitas. Sehingga muncul adagium, “jabatan politis bukan jabatan profesionalitas.” Meski ada kemungkinan orang yang menjabat punya integritas dan kapabilitas, sistem tersebut lebih sering memunculkan orang “nomor dua”, bahkan “nomor tiga.” Yang terpilih bukan orang terbaik yang dimiliki lembaga, tapi siapa yang dikehendaki kubu mayoritas.

Jika sistem dan budaya ini tak segera dirubah pada satu sisi, dan kelompok mayoritas mengalami krisis kader yang berpotensi menjadi pemimpin pada sisi yang lain, maka lembaga pendidikan kita akan sulit mewujudkan visinya. Alih-alih mampu bersaing di level regional dan internasional, lembaga pendidikan kita akhirnya hanya sibuk mengurusi aspek administratif pendidikan—bukan mutu dan pengembangan pendidikan.               

           

Tiga kriteria

Sulitnya menemukan sosok pemimpin sungguhan dalam dunia pendidikan setidaknya bisa diukur dari tiga hal berikut. Pertama, pemimpin adalah pembuat kebijakan. Tentu bukan sekedar membuat kebijakan, tetapi kebijakan yang selaras dengan visi lembaga. Tidak harus baru, kebijakan lama bisa dilanjutkan selama itu bagus.

Jangan salah, tidak sedikit pemimpin yang membiarkan kebijakan-kebijakan lembaga tidak selaras dengan visi. Alasannya bermacam-macam, mulai dari (yang favorit) tidak ada dana, tidak disetujui pihak yang berwenang, tidak ada tenaga pelaksana, hingga tidak ada fasilitas. Sebenarnya, alasan utama kejumudan pemimpin adalah tiadanya kemauan baik (political will) untuk maju dan berkembang.

Jadi, alasan-alasan di atas bisa benar adanya, tapi justeru di sinilah masalahnya: pemimpin harus bisa mencari jalan keluar bukan sebaliknya menyerah dengan keadaan (status quo), meski bisa saja solusi itu salah. Dikatakan, “A genuine leader is not a searcher of consensus but a molder of consensus.” Sepanjang kebijakan itu relevan dengan visi lembaga, pemimpin harus mengambil langkah tegas mewujudkannya.       

Pilihan seorang pemimpin adalah melanjutkan kebijakan lama yang baik, menghapus kebijakan yang tak relevan, atau melahirkan kebijakan baru (original). Mempertahankan kebijakan yang tak relevan dengan visi menunjukkan kelemahan pemimpin. Dalam mengambil keputusan, ia bisa saja salah, maka perlu diskusi untuk menghasilkan keputusan bersama. Ken Robinson menulis, “If you’re not prepared to be wrong, you’ll never come up with anything original.”    

Kedua, pemimpin berbuat yang benar. Peter Ducker menulis, “Management is doing thing right; Leadership is doing the right things.” Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa sangat terbuka pilihan bagi seorang pemimpin melakukan sesuatu atau tidak. Di sinilah perbedaan sekaligus kelebihan seorang pemimpin. Bawahan hanya bisa bicara atau berpendapat, sedangkan pemimpin punya kewenangan membuat keputusan (kebijakan).    

Kemampuan menghasilkan kebijakan yang pro-visi inilah yang ditunggu dari seorang pemimpin. Sebut saja misalnya penerbitan jurnal ilmiah, penguatan bahasa asing, penulisan karya ilmiah, penelitian, pengembangan konsorsium dosen, untuk PT. Sedangkan di sekolah adalah penulisan karya ilmiah, pelatihan guru, kebersihan sekolah, dan pemberian kesempatan kuliah.

Lebih dari sekedar kemampuan membuat kebijakan yang pro-visi, pemimpin bahkan dituntut mampu melahirkan inovasi. Steve Jobs mengatakan, “Innovation distinguishes between leader and a follower.” Di sinilah terlihat bahwa sedikit sekali pemimpin di lembaga pendidikan. Hampir tidak terdengar inovasi yang lahir dari civitas akdemik kampus maupun sekolah. Pada saat yang sama, sudah lama terdengar bahwa kampus dan sekolah menerapkan ISO (International Organization for Standardization). Lagi-lagi terbukti bahwa pemimpin kita bukan pemimpin sungguhan, tapi pengikut.    

Pencapaian lembaga tidak bisa diukur dari kelemahan sumber daya manusianya, tetapi kepemimpinan. Karena menurut Brian Tracy, “Leadership is to get extraordinary achievement from ordinary people.” Jadi, lebih baik memiliki pemimpin yang hebat dengan bawahan yang kemampuannya biasa-biasa saja, dibanding memiliki banyak bawahan yang hebat tapi pemimpinnya biasa saja.

Pemimpin bisa menjadikan bawahan yang biasa menjadi hebat dan kreatif, sedangkan pemimpin stempel (katakanlah demikian) bisa menjadikan bawahan yang hebat menjadi biasa atau tidak berkembang.        

Ketiga, pemimpin itu inspiratif. Mengapa pemimpin bisa mengubah bawahan—seperti dijelaskan di muka? Karena ia menginspirasi bawahan untuk punya mimpi, belajar, menjadi dirinya sendiri, dan bekerja. Bukan sebaliknya, mematikan mimpi, menghalangi belajar, dan menolak berpikir kreatif dan inovatif. John Quincy Adams berujar, “If your actions inspire others to dream more, learn more, do more, and become more, you are a leader.”

Hasil penelitian dosen tidak bisa “bicara” di level nasional maupun internasional karena manajemen penelitian di kampus tidak disiapkan secara matang. Bagaimana perencanaan penelitian, prosesnya, dan evaluasinya. Kualitas riset tidak hanya tentang kapasitas peneliti, melainkan ketersediaan waktu dan dana. Terkait waktu ada dua hal: Apakah waktu penelitian cukup panjang, atau apakah peneliti memiliki waktu yang cukup untuk menulis (fokus).

Kecuali penelitian, pengajaran dan pengabdian masyarakat perlu terus dikembangkan agar maksimal. Meski evaluasi dosen sudah sering dilakukan, tindak lanjut hasil evaluasi belum dilakukan, sehingga problem yang sama terulang di semester berikutnya. Inilah sedikit dari banyak kelemahan yang dihadapi pemimpin di PT.

Di tengah minimnya jumlah profesor, doktor, dan karya ilmiah yang bermutu, dibutuhkan pemimpin yang membuka peluang seluas-luasnya bagi guru dan dosen untuk melanjutkan studi dan melakukan penelitian. Jangan ada terdengar lagi dosen yang gagal presentasi makalah di luar negeri atau dosen tidak segera kuliah S-3, karena tidak ada dana.

            Kunci keberhasilan lembaga pendidikan adalah kualitas kepemimpinan pemimpinnya. Kita tidak bisa menilainya dari latar belakang pendidikannya—luar atau dalam negeri—atau pengalamannya di masa lalu, tapi dari kerja nyata selama masa kepemimpinannya. Sejarah yang akan membuktikan, apakah seseorang itu pemimpin sungguhan atau pemimpin stempel. Sejarah tak pernah bohong.
Comments