News‎ > ‎

Pendidikan Islam Rahmat bagi Bumi

diposting pada tanggal 12 Jun 2016 15.46 oleh Jejen Musfah FITK UIN Jakarta   [ diperbarui12 Jul 2016 06.39 ]

Kata Pengantar buku Pendidikan Islam;  Memajukan Umat dan Memperkuat Kesadaran Bela Negara, Jakarta: Prenada, 2016.  

Lembaga Pendidikan Islam (LPI) seperti pesantren, madrasah, dan PTKI (Perguruan Tinggi Keagamaan Islam), harus mengalami kemajuan dari masa ke masa. Kemajuan LPI bukan sesuatu yang given atau taken for granted, tetapi diusahakan dengan sungguh-sungguh oleh umat Islam dengan dukungan tim yang solid dan manajemen yang matang. Indikator kemajuan LPI itu setidaknya mencakup keunggulan dalam ilmu pengetahuan dan karakter alumni.

Pertama, LPI harus melahirkan lulusan yang kompeten dalam ilmu sains seperti Biologi, Fisika, Matematika, Kimia, dan Teknologi-Informasi. Alasan mengapa umat Islam perlu menguasai sains adalah karena potensi manusia itu beragam, manusia diberi akal untuk berpikir dan meneliti, umat Islam tidak bisa hanya—dalam waktu lama—menjadi pengguna (user) atau penerima manfaat kemajuan sains hasil karya non-muslim, tetapi harus menemukan dan melahirkan karya sendiri di bidang sains—seperti zaman keemasan Islam masa lalu, dan Al-Quran mendorong umat Islam untuk memiliki keseimbangan ilmu agama dengan ilmu sains, agar kehidupan di dunia ini semakin baik sesuai nilai-nilai Islam.    

Kecuali usaha melahirkan alumni LPI yang menguasai ilmu-ilmu sains, LPI juga harus mampu mempertahankan keunggulan alumni dalam penguasaan ilmu-ilmu agama seperti Al-Quran, Hadits, Fikih, Sejarah Kebudayaan Islam, dan Bahasa Arab. Orientasi kepada ilmu sains tidak boleh melupakan umat Islam untuk juga mempertahankan bahkan memajukan ilmu-ilmu agama yang akan tetap dibutuhkan oleh umat Islam, demi menjaga keseimbangan hidup di dunia dan di akhirat kelak.

Ada kesan, energi sebagian umat Islam di perguruan tinggi habis untuk mengenalkan, memikirkan, dan memajukan ilmu sains untuk kalangan muslim, sehingga ilmu agama terabaikan. Akibatnya, kaderisasi ulama di Indonesia berjalan sangat lamban, bahkan di ujung kepunahan. Hal ini terjadi karena pergeseran orientasi masyarakat terhadap pendidikan di satu sisi, dan kurang perhatian lembaga pendidikan Islam dan Kementerian Agama (pemerintah) pada sisi yang lain.   

Kedua, LPI harus mampu melahirkan alumni yang mampu mempertahankan karakter baik, yang terbukti mampu dilakukannya selama dalam masa pembinaan di lingkungan LPI. Di pesantren dan madrasah, santri dan siswa menjalankan ibadah wajib dan sunnah dengan baik, menghormati guru, senior, dan orangtua. Mereka tidak pernah terlibat tawuran dan perbuatan anarkis, bahkan berperilaku santun dan rendah hati kepada siapa pun di sekitarnya, sehingga masyarakat bangga dan menghormati mereka. Santri dan siswa madrasah identik dengan kesalehan spiritual dan emosional.    

Alumni LPI harus menunjukkan konsistensi karakter baik di dunia kerja mereka masing-masing—pada level apa dan mana pun, bukan terbawa arus sistem dan lingkungan yang buruk. Bahkan, alumni LPI harus menjadi teladan baik di lingkungan kerjanya masing-masing, apakah sebagai pimpinan maupun sebagai bawahan. Alumni pesantren dan madrasah harus mampu membuktikan konsistensi dalam menjalankan nilai-nilai moral dan Islam dalam kondisi apa pun, tanpa harus takut kehilangan jabatan dan materi.

Alumni pesantren dan madrasah memiliki ciri khas, yaitu patuh kepada Allah Swt., menjalin hubungan baik dengan sesama manusia—apa pun agama, suku, ras, warna kulit, dan bahasanya, dan memelihara alam atau lingkungannya. Ciri khas pembentukan karakter islami ini tidak boleh luntur dan harus terus diperjuangkan oleh pesantren dan madrasah, meskipun zaman terus berubah dan semakin jauh dari nilai-nilai Islam. Justeru, di sinilah letak perjuangan sekaligus peran strategis pesantren dan madrasah, yaitu melahirkan masyarakat dan generasi pemimpin yang memiliki integritas dan kompetensi di bidangnya masing-masing.

Agar lembaga pendidikan Islam bagus, unggul, dan maju, setidaknya tiga hal perlu diperhatikan. Pertama, guru pesantren dan madrasah harus kompeten dan punya integritas tinggi. Mereka minimal sarjana, mengajar mata pelajaran sesuai dengan latar belakang pendidikannya, mengikuti berbagai macam pelatihan di dalam dan di luar madrasah, memiliki sertifikat pendidik, dan pembelajar sepanjang hayat. Singkatnya, guru-guru dipilih berdasarkan standar yang tinggi; individu yang terbaik di antara banyak yang baik.

Mereka juga berpegang pada integritas, seperti bertanggung jawab, disiplin, jujur, penyayang, sabar, dan syukur. Mereka mencurahkan tenaga dan pikiran—bahkan harta—untuk kemajuan pendidikan, khususnya keberhasilan santri dan siswa. Orientasi mereka menjadi guru adalah menyebarkan ilmu pengetahuan demi masa depan peserta didik, bukan mengharapkan kelimpahan materi—apalagi mengambil dana pesantren atau madrasah untuk kepentingan pribadi, dengan cara-cara yang korup dan kotor.          

Kedua, kurikulum pesantren dan madrasah memadukan keseimbangan antara ilmu agama dan ilmu sains. Pengelompokkan siswa ke dalam bidang IPA, IPS, Agama, atau Bahasa harus merupakan analisis ilmiah, sehingga kelak mereka mampu kuliah di perguruan tinggi bagus, dan akhirnya menjadi pakar di bidangnya masing-masing. Perpustakaan, laboratorium sains, dan laboratorium bahasa di pesantren dan madrasah harus bermutu sangat baik, sehingga belajar-mengajar menjadi efektif dan menyenangkan.

Kecuali itu, kurikulum pesantren dan madrasah mengajarkan nilai-nilai Islam, dan kewajiban santri dan siswa mempraktikkan nilai-nilai tersebut saat ini dan di masa mendatang, di mana pun dan kapan pun. Nilai-nilai Islam tersebut seperti, saling menghargai, toleran, rendah hati, dermawan, tidak sombong, tidak memfitnah, dan tidak iri dan dengki.      

Ketiga, pesantren dan madrasah dikelola dengan manajemen terbuka. Aspek keuangan dan administrasi tenaga pendidik dan tenaga kependidikan misalnya, dikelola dengan sistem terbuka dan transparan. Dengan demikian, pesantren dan madrasah mendapatkan kepercayaan masyarakat dan orang-orang yang berpihak kepada keduanya.

Pengelolaannya diserahkan kepada orang-orang yang kompeten di bidangnya masing-masing. Kepala sekolah, bendahara, bagian perpustakaan, bagian informasi dan teknologi, dan hubungan masyarakat misalnya, dipilih berdasarkan kemampuannya masing-masing, sehingga mereka mampu menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik.

Kesungguhan dalam menyiapkan dan mengembangkan guru, kurikulum, dan manajemen tersebut, akan melahirkan lembaga pendidikan Islam unggul, yang melahirkan muslim yang unggul pula. Selanjutnya, pendidikan Islam benar-benar menjadi rahmat bagi penduduk bumi dan bumi itu sendiri.   

Comments