News‎ > ‎

Pendidikan Nir Inovasi

diposting pada tanggal 23 Feb 2015 23.05 oleh Jejen Musfah FITK UIN Jakarta   [ diperbarui 26 Mar 2015 23.41 oleh siti.nurhasanah@uinjkt.ac.id ]

Dimuat di Harian Cakrawala, Senin, 23/2/2015

Education’s purposes is to replace an empty mind with an open one.” Malcolm S. Forbes

Jokowi percaya bahwa revolusi mental merupakan jawaban atas permasalahan yang menerpa bangsa ini. Ia percaya bahwa perubahan paradigma masyarakat lah yang akan membawa bangsa ini bergerak ke arah masa depan yang gemilang, baik di sektor pendidikan, ekonomi, politik, maupun peradaban. Tidak ada hal lain yang mampu mengubah cara pandang masyarakat menjadi lebih baik dan hebat kecuali melalui sektor pendidikan.

Perbaikan mental masyarakat negeri ini berarti perbaikan menyeluruh pendidikan kita. Segenap daya dan dupaya, dari pemerintah, komunitas sekolah, hingga pemangku kepentingan, harus dikerahkan untuk perbaikan kualitas pendidikan kita yang keadaannya sangat menyedihkan. Ibarat cermin, pendidikan kita dipenuhi keretakan di mana-mana, tinggal menunggu waktu kehancurannya.

Namun kita belum terlambat. Masih ada waktu untuk memperbaiki keretakan cermin pendidikan kita. Pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada karir, tetapi melahirkan pemecah masalah, pencipta, dan penemu, seperti dikatakan William Deresiewicz, “The true purposes of education is make minds, not careers.”

Di antara ikhtiar perbaikan pendidikan itu adalah menjawab pertanyaan, keterampilan apakah yang diperlukan generasi muda pada abad 21 ini? Faktanya, keterampilan membaca, menulis, dan berhitung (calistung) tidak cukup menjadikan bangsa ini maju.   

 

Empat Keterampilan

Ada empat keterampilan abad 21 yang perlu diberikan sekolah kepada siswa sejak dini (Zulama Modern Learning, 2015). Pertama, melahirkan pemikir (critical thinker). Proses pembelajaran tidak melulu hafalan tapi melatih siswa untuk menyampaikan gagasannya. Jika ia setuju dengan gagasan orang lain apa alasannya, dan jika tidak setuju apa alasannya. Siswa juga dilatih untuk melihat persoalan dari sudut pandang yang berbeda. Martin Luther King berkata, “The function of education is to teach one to think intensively and to think critically.”

Guru bisa meminta siswa menyampaikan idenya tentang masalah-masalah aktual seperti kemacetan, banjir, dan tawuran. Kelak, melalui strategi dan metode pembelajaran seperti ini diharapkan lahir banyak pemikir yang mampu memecahkan masalah-masalah (solving problem) masyarakat dan bangsa, seperti korupsi dan pemerataan guru.

Ketidakberhasilan bangsa ini mengatasi masalah pemerataan guru, tawuran, banjir, kemacetan, dan korupsi, karena kita kekurangan pemikir. Got adalah tempat saluran air tapi kita membuang sampah di sana. Trotoar adalah tempat pejalan kaki tapi kita mendirikan warung di atasnya. Budaya antri itu baik tapi kita sukanya menyalip dan tergesa-gesa. Hidup hanya sebentar tapi kita menumpuk harta seolah hidup seribu tahun lamanya.    

Jika ia tidak menjadi pakar atau pejabat negara kelak, setidaknya ia bisa menyelesaikan masalah-masalah yang ada di lingkungannya, keluarga, atau dirinya sendiri. Kemampuan menyelesaikan masalah sangat penting agar orang tetap bahagia, karena selalu berpikir baik (positf thinking) dalam melihat setiap masalah. Berat dan sulit bagi orang lain suatu masalah, tidak bagi seorang pemikir. Albert Einstein menulis, “Education is not the learning of facts, but the training of the mind to think.”     

Kedua, melahirkan komunikator (communicator). Siswa dilatih menyampaikan ide secara lisan dengan baik (understanding and communicating ideas). Siswa tidak boleh merasa takut salah. Ia harus percaya diri bahwa menyampaikan gagasan lebih baik daripada diam. Dalam konteks ini, pepatah diam itu emas (silent is gold) tidak berlaku.

Lihatlah bagaimana kelas kita. Ketika guru meminta siswa menjawab atau mengajukan pertanyaan, respon siswa sangat lamban dan sedikit sekali yang bertanya atau menjawab, karena siswa kita tidak (dilatih) percaya diri. Alih-alih memberikan kesempatan siswa aktif bertanya dan menjawab, guru kita malah lebih dominan dalam pembelajaran.

Lihat pula bagaimana cara wakil rakyat di Senayan menyampaikan pendapat atau cara sebagian kecil putra bangsa ini dalam acara Indonesia Lawyers Club (ILC) salah satu tv swasta. Komunikasi lisan mereka sangat sangat buruk. Seperti apa buruknya sudah menjadi pengetahuan bersama. Saya khawatir, keburukan lisan merupakan tanda kedangkalan pengetahuan. Maya Angelou berujar, “When you know better, you do better.”

Ketiga, melahirkan kolaborator (collaborator). Sedikit sekali siswa yang memiliki keterampilan jamak, seperti bisa menggambar, menyampaikan pendapat, dan berhitung. Guru bisa mengelompokan siswa berdasarkan ragam kecerdasannya, sehingga mereka bisa bekerjasama menjadi tim yang saling menguatkan. Kemampuan bekerja dalam tim sangat penting bagi siswa (working with others).

Ia harus terbiasa menerima perbedaan individu, dan melihatnya sebagai kekuatan bukan kelemahan apalagi sumber perpecahan. Tim adalah tempat belajar bagi dirinya sekaligus bagi orang lain. Jadi, ada saatnya ia belajar dari kelebihan orang lain, dan pada saat lain orang lain yang belajar pada dirinya.   

Kelemahan semangat berkolaborasi terlihat dari lemahnya konsorsium dosen di program studi, asosiasi keilmuan dosen, dan jurnal ilmiah di perguruan tinggi. Dosen kita bergerak maju sendiri-sendiri. Pintar, besar, dan terkenal sendiri-sendiri. Akhirnya, dosen kita berhasil secara individu, sementara lembaganya tenggelam secara perlahan. Padahal, tidak ada karya hebat atau inovasi tanpa kolaborasi yang kuat.     

Keempat, melahirkan penemu atau pencipta (creator). Siswa diajarkan tidak cepat puas terhadap apa yang sudah ada saat ini. Ia dilatih menemukan hal baru untuk menjawab persoalan demi hidup yang lebih baik. Siswa dilatih menjadi inovator mulai dari hal-hal yang sederhana hingga yang kompleks(producing high quality work).

Bangsa ini seharusnya belajar dari kemajuan bangsa-bangsa lain. Tidak selamanya menjadi bangsa pengimpor tapi pengekspor. Semua yang ada di sekitar kita merupakan produk lari luar, dan kita bangga dengannya. Mobil dan motor kita dari Jepang, yaitu Toyota, Honda, dan Suzuki; Mobil dan handphone dari Korea Selatan, yaitu KIA, Hiundai, dan Samsung; Laptop dan handphone dari Amerika, yaitu Apple.

Steve Jobs melalui Apple mampu mengubah kecintaan dan persepsi masyarakat dunia terhadap warna putih. Lihatlah misalnya, bagaimana orang Indonesia menyukai warna putih untuk mobil, handphone, dan laptopnya. Ini merupakan contoh kecil bagaimana dahsyatnya kekuatan kreasi dan inovasi.

Contoh lainnya adalah Korea Selatan yang mampu menenggelamkan perusahaan Nokia yang berjaya selama satu dekade lebih (?), dengan melahirkan handphone pintar Samsung plus (yang dengan cerdik menggandeng) Android. Kehebatan Samsung bukan saja perangkatnya berbasis Android, tetapi produknya teruji waktu tahan banting. Maka, meski harganya selangit, produsen tetap berduyun-duyun membelinya. Masyarakat sudah percaya (trust) kepada Samsung.

Akhirnya, bangsa ini akan tetap tertinggal di belakang bangsa-bangsa lainnya jika tidak mengubah orientasi pendidikannya, yaitu melahirkan generasi yang kreatif dan inovatif. Bangsa lain maju karena selalu berpikir maju tiga langkah dan memikirkan suatu hal yang tidak dipikirkan oleh bangsa lain. Mereka juga bangsa yang tidak takut melakukan kesalahan, seperti Albert Einstein katakan, “A person who never made a mistake never tried anything new.”

 

Dua Penguatan  

Maka, diperlukan penguatan setidaknya dalam dua hal berikut. Pertama, tingkatkan dana riset. Dana riset tidak saja untuk operasional tetapi untuk pendirian laboratorium di sekolah dan perguruan tinggi. Dana riset juga digunakan untuk merekrut peneliti-peneliti muda handal, sekaligus memberikan kesejahteraan hidup mereka. Lembaga-lembaga riset, negeri maupun swasta, dihidupkan dengan perhatian yang maksimal, mulai dari kesejahteraan peneliti hingga fasilitasnya.                  

Kedua, perbaiki gaji guru. Dengan gaji besar, pemerintah dan yayasan bisa merekrut guru-guru yang berbakat. Guru yang mengajarnya menggunakan metode, strategi, dan pendekatan yang melahirkan siswa yang kreatif dan inovatif. Abdul Kalam menulis, “Learning gives creativity, creativity leads to thinking, thinking provides knowledge, knowledge makes you great.”

Akhirul kalam, Aristotle menulis, “Educating the mind without educating the heart is no education at all.” Kreativitas dan inovasi tidak boleh bebas nilai. Kemajuan teknologi dan ilmu di tangan pribadi yang baik akan membawa kemaslahatan bagi manusia. Sebaliknya, di tangan pribadi yang buruk akan menghancurkan manusia dan peradabannya. Pendidikan melahirkan generasi yang pintar sekaligus saleh. Wallahu a’lam.

Comments