News‎ > ‎

Penilaian yang Mengejutkan

diposting pada tanggal 14 Jun 2016 16.16 oleh Jejen Musfah FITK
Go Cakrawala, 07 Juli 2015

Seorang dosen terkejut mendengar ketua sidang ujian promosi tesis yang membacakan IPK mahasiswa yang lulus dengan predikat kumlaude. Menurutnya, mahasiswa yang tidak mampu menjawab pertanyaan penguji dengan baik tidak pantas mendapatkan nilai kumlaude. Apalagi, kualitas tesisnya pun biasa-biasa saja.

Kejadian serupa berulang, dosen yang berbeda dengan di atas hampir saja menolak memberikan nilai ujian promosi tesis karena menurutnya si mahasiswa tidak layak lulus. Kecuali tidak mampu menjawab pertanyaan, kualitas tesisnya pun masih memerlukan perbaikan mendasar: teknis dan substansi.

Singkatnya, para dosen menilai: nilai IPK mahasiswa saat kelulusan tidak mencerminkan kompetensinya. Kumlaude hanya pantas diberikan kepada mahasiswa yang benar-benar pintar atau “menonjol”. Siapa yang salah? Ada apa dengan sistem, prosedur, dan standar penilaian mahasiswa?

Tidak semua dosen terkejut—apalagi secara berlebihan, termasuk saya. Begini, penilaian tesis (8 sks) hanya satu aspek dari IPK akhir, lainnya adalah nilai mata kuliah pada semester I, II, dan III. Maka, meskipun nilai tesisnya 75 (B) misalnya, mahasiswa akan tetap kumlaude karena sudah punya modal IPK perkuliahan di atas 3.6.

Sekarang jelas siapa yang berperan dalam mengantarkan mahasiswa memeroleh kumlaude di akhir masa studinya: dosen sendiri. Ada kesan, dosen terlalu murah memberikan nilai A kepada mahasiswa pascasarjana. Maka, dosen harus hati-hati memberikan nilai A kepada mahasiswa, pun saat akan memberikan nilai C atau D. Jika tidak, kejadian di atas akan sering terulang: mahasiswa dengan kecerdasan biasa-biasa saja mendapatkan kumlaude. “Sakitnya tuh di sini” (sambil nunjuk dada).        

Tugas-tugas perkuliahan pascasarjana umumnya makalah, book review, dan mini riset. Masalahnya, penilaian makalah atau esai cenderung lebih besar faktor subjektivitas dosen daripada faktor objektivitasnya. Nilai akhir mata kuliah adalah gabungan antara kehadiran, keaktifan di kelas, dan kualitas tugas-tugas tersebut, baik individu maupun kelompok. Sesungguhnya, tidak sulit menilai apakah mahasiswa tertentu berhak mendapatkan nilai A, B, C, atau D.

Jika standar makalah yang baik adalah yang memiliki  kriteria: referensi berbahasa asing dan analisis penulis misalnya, dan makalah mahasiswa tidak memenuhi kedua atau salah satu unsur tersebut, maka untuk nilai UTS dan UAS atau salah satunya adalah di bawah nilai A. Meskipun nilai formatif mahasiswa A, maka nilai akhir mata kuliahnya tetap di bawah A, karena dari UTS dan UAS-nya atau salah satunya tidak mendapat nilai A.

Tentu nilai akhir mata kuliah sangat tergantung kepada pemberian bobot formatif, UTS, dan UAS oleh masing-masing dosen: apakah 4, 3, dan 3, atau 2, 3, dan 5, atau 3, 3, dan 4, atau lainnya. Intinya, dosen tidak seharusnya terlalu murah dan/atau mahal dalam memberikan nilai kepada mahasiswa.

Memberikan nilai A salah jika tidak sesuai dengan kompetensi mahasiswa. Memberikan nilai C apalagi D kepada mahasiswa yang hanya lemah (kurang tepat) dalam menjawab soal esai dan/atau makalahnya kurang analisis dan referensi asing, tetapi rajin mengikuti kuliah—aktif maupun tidak aktif, juga salah. Dosen perlu menghargai usaha mahasiswa hadir di kelas, keaktifan, dan perilaku baiknya selama perkuliahan.

Jika di atas cerita tentang kemurahan dosen, bukan berarti tidak ada cerita sebaliknya. Di kampus ada (jarang sekali) dosen yang mahal atau pelit dalam memberikan nilai. Ia tidak segan memberikan nilai C dan D kepada mayoritas mahasiswa. Ia mungkin punya kriteria penilaiannya sendiri. Di Indonesia dikenal ungkapan, “Dosen Killer”; “Nilai A hanya untuk malaikat”.

Pertanyaannya adalah, apakah sebagian besar mahasiswa tidak pandai atau tidak menguasai materi? Jika mayoritas mahasiswa tidak mendapat B atau A, apakah materinya yang sulit, apakah mata kuliahnya tidak disukai mahasiswa, apakah mahasiswanya tidak pandai, apakah cara mengajarnya tidak menyenangkan, apakah mahasiswa tidak menyukai dosennya, atau apakah standar penilaian dosen yang terlampau tinggi?    

Dosen yang mendapati nilai mahasiswa di bawah B, mungkin bisa memberi mereka tugas tambahan berupa perbaikan makalah atau membuat makalah baru yang lebih bagus—tentu bagi mahasiswa yang mau saja. Memberikan nilai yang rendah kepada mahasiswa tanpa kesempatan untuk memperbaiki akan menghambat kemajuan mahasiswa di masa depan.

Sarjana dengan IPK di bawah 3.00 tidak akan mampu melanjutkan ke magister—beberapa PT swasta ada yang menerima IPK 2.75. Demikian pula magister dengan IPK di bawah 3.00 tidak bisa melanjutkan ke doktoral. Dengan memberikan nilai yang wajar—tidak berlebihan dan tidak berkurangan, seorang dosen memberikan peluang mahasiswa untuk berkembang dan maju bahkan melebihi kemampuan dosennya.     

Dosen pemurah (bukan sangat murah) dalam memberikan nilai biasanya disayangi mahasiswa, bahkan saat mahasiswa sudah lulus. Pada saat perkuliahan mahasiswa merasa nyaman belajar. Sebaliknya, dosen yang pelit nilai tidak disukai mahasiswa, terutama setiap kali dosen masuk dalam kelas perkuliahan.

Mahasiswa merasa waktu sangat lama berlalu karena tegang, dan mereka ketakutan karena khawatir ditunjuk maju ke depan kelas untuk mengerjakan latihan soal. Jika tidak bisa menjawab, dosen akan menganggapnya tidak rajin dan lain sebagainya. Demikianlah, gaya mengajar dan perilaku dosen killer tidak mendidik mahasiswa.           

Akhirul kalam, penilaian mahasiswa sebisa mungkin mencerminkan kemampuan mahasiswa pada mata kuliah tertentu. Dosen menilai mahasiswa secara objektif, berdasarkan data perkuliahan, pemberian tugas, dan ujian. Dengan demikian, tidak ada penilaian publik bahwa dosen-dosen di Prodi X sangat murah dalam memberikan nilai, atau sebaliknya, para dosen di Prodi Y sulit memberikan nilai A (saya pikir, di kampus sedikit dosen yang pelit nilai, yang banyak dosen yang moderat).

Selamat menilai para dosen di akhir semester genap ini. Pasti meja kerja tuan dan puan penuh dengan tumpukan tugas mahasiswa. Pemberian nilai mengandung pendidikan bagi mahasiswa. Penilaian bukanlah hadiah atau apalagi hukuman kepada mahasiswa. Penilaian harus mencerminkan kemampuan dan usaha mahasiswa selama empat bulan bersama dosen di kelas. Semoga kita menjadi pendidik dan pembimbing yang bijak bagi mahasiswa dan mahasiswi kita di kampus.               Selamat berbuka puasa.

  

Comments