News‎ > ‎

Plagiasi dan Joki Skripsi

diposting pada tanggal 14 Jun 2016 16.05 oleh Jejen Musfah FITK UIN Jakarta
Republika, 10 Juni 2015

Wacana penghapusan skripsi yang dilontarkan oleh Menristek Dikti, M. Nasir, menarik ditanggapi. Adapun alasan penghapusan skripsi adalah maraknya praktik plagiasi dan joki skripsi. Sesungguhnya, plagiasi dan joki skripsi adalah isu lama yang sulit diberantas. Namun, ide penghapusan skripsi bagi sarjana merupakan hal baru bagi sebagian besar kampus di Indonesia.   

Plagiasi dan joki skripsi terjadi karena lemahnya kemampuan menulis mahasiswa, mudahnya melakukan plagiasi, dan maraknya joki skripsi. Pertama, tidak semua orang dilahirkan dengan bakat menulis. Kelemahan menulis mahasiswa terlihat saat membaca makalah karya mahasiswa, dari semester pertama bahkan saat mereka semester ketujuh.

Meski hampir semua mata kuliah selama tujuh semester mewajibkan mahasiswa membuat makalah, keterampilan menulis mahasiswa masih rendah. Jika dalam satu semester mahasiswa menulis dua makalah saja, maka di semester tujuh, mereka sudah menulis 14 makalah. Seharusnya, menulis skripsi di semester delapan bukan masalah besar bagi mahasiswa.   

Kedua, skripsi dan makalah dengan tema apa pun mudah didapat mahasiswa dari internet. Besar kemungkinan, mahasiswa tidak terlatih menulis, karena mereka mendapatkan makalah dari internet. Akibatnya, mereka mengalami kesulitan saat menulis skripsi.    

Ketiga, jasa pembuatan skripsi sangat mudah ditemukan oleh mahasiswa di sekitar kampus. Ketika skripsi menjadi syarat kelulusan, maka mahasiswa memanfaatkan jasa pembuatan skripsi tersebut, karena tidak mau lama-lama kuliah atau terkena dropout.

 

Budaya Instan  

Plagiasi dan joki skripsi merupakan peristiwa luar biasa yang mengarah pada budaya instan dan ketidakjujuran di kalangan mahasiswa. Apa pun alasannya, mahasiswa jelas terjangkit budaya instan. Dengan kata lain, meraih tujuan atau sukses tanpa mau bersusah payah. Maka, tidak bisa menulis bisa jadi bukan alasan tunggal mahasiswa melakukan plagiasi dan memakai joki skripsi, melainkan budaya instan tadi.

Mahasiswa juga sudah terbiasa dengan ketidakjujuran. Mengklaim makalah dan skripsi sebagai karya sendiri, padahal mengunduh dari internet. Kesibukan dan keterbatasan waktu dosen membuat praktik plagiasi di kalangan mahasiswa tidak terdeteksi. Jika dosen mengajar empat kelas dan setiap kelas ada 40 mahasiswa, maka ia harus memeriksa 160 makalah (minimal sekali) dalam satu semester.

Karena itu, diperlukan gerakan budaya anti plagiasi dan kejujuran di kampus. Selain penerbitan buku anti plagiasi dan papan peringatan, setiap dosen menanamkan pentingnya karakter jujur kepada mahasiswa. Dengan demikian, mahasiswa memiliki kekuatan dari dalam dirinya sendiri untuk tidak melakukan plagiasi dan menggunakan joki, meskipun kesempatan terbentang di hadapannya.             

 

Bimbingan Skripsi

Apakah penghapusan skripsi merupakan pilihan tepat? Menurut saya, skripsi tidak perlu dihapus, tetapi kampus memberikan alternatif pilihan kepada mahasiswa untuk memilih jalur non-skripsi, yaitu mengikuti dua hingga tiga mata kuliah yang sks-nya setara skripsi. Kebijakan alternatif ini untuk menjawab lamanya masa studi akibat penulisan skripsi.

Diperlukan sistem perkuliahan yang memungkinkan mahasiswa selesai tepat waktu, yaitu empat tahun. Pertimbangannya adalah kemampuan menulis mahasiswa dan biaya yang besar jika berlama-lama kuliah. Memaksakan skripsi sebagai satu-satunya syarat kelulusan tidak sesuai dengan kondisi obyektif mahasiswa. Karena itu, kebijakan berikut bisa dipertimbangkan.     

Pertama, bimbingan skripsi dilakukan klasikal dan terjadwal seperti perkuliahan. Seminggu sekali dosen dan mahasiswa bimbingannya (maksimal 10) bertatap muka di kelas. Dosen memeriksa skripsi, memberikan bimbingan, dan berdiskusi dengan mahasiswa. Di luar jadwal bimbingan tersebut, mahasiswa wajib menggali data (melalui membaca buku dan jurnal atau ke lapangan), dan menulis. Dengan demikian, perkembangan penulisan skripsi mahasiswa terkontrol. Adapun masa bimbingan klasikal ini adalah 16 kali tatap muka atau empat bulan.

Di antara masalah skripsi adalah sulitnya menemui dosen, lambannya koreksi skripsi dari dosen, standar mutu skripsi yang tinggi dari dosen, mahasiswa malas ke kampus atau menemui dosen, dan mahasiswa tidak tekun dan teliti. Akar semua masalah tersebut adalah karena mahasiswa “berjuang” sendirian di satu sisi, dan ego dosen pada sisi yang lain. Dengan sistem klasikal, baik dosen maupun mahasiswa, tidak punya alasan untuk tidak hadir.

Melalui bimbingan klasikal, diharapkan problem-problem tersebut teratasi. Sistem baru ini juga memungkinkan terjadinya evaluasi terhadap kinerja bimbingan dosen terhadap skripsi mahasiswa di setiap akhir semester—sebagaimana perkuliahan biasanya. Selama ini, bisa dikatakan tidak ada evaluasi kinerja bimbingan sebagaimana dimaksud. Dosen yang “tidak adil” terhadap mahasiswa seperti “tak tersentuh”. Evaluasi itu misalnya, bisa dilihat dari jumlah pertemuan yang dihadiri dosen dalam bimbingan skripsi klasikal.     

Sebagai contoh, mahasiswa selalu berhasil dalam mengikuti mata kuliah dengan pembelajaran klasikal selama tujuh semester. Bedanya, bimbingan skripsi klasikal jumlah mahasiswanya lebih kecil daripada mahasiswa kelas kuliah biasa. Setiap dosen bisa jadi memiliki dua atau lebih kelas bimbingan skripsi.                     

Kedua, tugas makalah pada mata kuliah sebagai latihan menulis. Rambu-rambu berikut bisa dipertimbangkan: makalah individual bukan kelompok, mengutip intisari pendapat orang lain bukan paragraf utuh, dan menuliskan pendapat pribadi bukan kumpulan kutipan. Dari aspek sumber, mahasiswa dikenalkan dengan artikel-artikel jurnal terakreditasi nasional maupun internasional.

Dosen berperan sebagai korektor makalah mahasiswa. Ini membutuhkan usaha lebih—untuk tidak mengatakan kecintaan—dari dosen. Masalahnya, tidak semua dosen punya keterampilan menulis dan mengoreksi. Di sini, kampus punya pekerjaan rumah dua sekaligus, yaitu meningkatkan keterampilan menulis mahasiswa sekaligus dosennya.

Ketiga, bagi mahasiswa yang terbukti tidak sanggup mengikuti bimbingan skripsi klasikal, diberikan pilihan untuk mengikuti kelas non-skripsi atau melanjutkan bimbingan skripsi di semester berikutnya. Dua atau tiga mata kuliah pengganti skripsi itu mewajibkan mahasiswa menulis makalah, namun dengan bimbingan intensif dari dosen. Bedanya dengan skripsi, makalah tersebut tidak diujikan di hadapan sejumlah penguji, tetapi cukup dosen pengampu mata kuliah yang memberikan penilaian.

Demikianlah, beberapa ide untuk mengatasi maraknya plagiasi dan joki skripsi di kalangan kampus. Singkatnya, skripsi tidak perlu dihapuskan karena melatih mahasiswa memecahkan masalah dengan cara yang ilmiah atau berpikir logis. Di samping melatih mahasiswa menulis sejak awal semester, juga penting menanamkan sikap jujur kepada mahasiswa. Sebesar apa pun godaan untuk melakukan plagiasi atau menggunakan joki skripsi, jika punya integritas, mahasiswa akan bisa mengatasinya.

Plagiasi dan joki skripsi adalah masalah besar dunia pendidikan. Dibutuhkan keberanian besar pula untuk melahirkan kebijakan melawan keduanya.                     

Comments