News‎ > ‎

Raibnya Mahkota Anak

diposting pada tanggal 14 Jun 2016 14.48 oleh Jejen Musfah FITK UIN Jakarta
Republika, 19 Maret 2016 

Baru-baru ini, kita disuguhi fakta baru tetapi sebenarnya sudah lama juga terjadi di kalangan generasi muda kita. Pernikahan dini terpaksa dilakukan oleh anak-anak muda kita di Sleman, Yogyakarta karena hamil di luar nikah. Sementara tingkat aborsi di Jakarta juga sangat tinggi. Lalu media sosial dihebohkan oleh kasus gaya pacaran anak sekolah yang mengunggah foto-foto tidak layak mereka di halaman Facebook.  

Generasi muda Indonesia layu sebelum berkembang karena terjebak pergaulan bebas atau pacaran. Alih-alih belajar dengan baik di masa muda, mereka malah memprioritaskan pacaran. Masa depan mereka gelap karena kesempatan belajar mereka tertunda bahkan terhenti karena menjadi ayah atau ibu di usia dini. Perilaku anak muda tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor.   

Pertama, acara televisi  sangat tidak mendidik. Tayangan film, sinetron, reality show misalnya, berisi kisah percintaan anak remaja dan dewasa. Acara-acara genre tersebut disukai orang tua juga anak-anak. Ratingnya tinggi. Banyak iklan. Akhirnya, pacaran menjadi hal biasa di mata anak-anak. Pacaran tidak dianggap hal tabu dan terlarang.

Anak remaja tidak malu pacaran di depan publik—di mall, di bioskop, atau di taman, bahkan saat mereka masih berseragam sekolah. Meski kerap ditegur KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia), pemilik stasiun televisi bergeming. Demi pundi-pundi rupiah, mereka tetap menayangkan acara-acara yang tidak mendidik generasi muda.  

Kedua, muatan pornografi mudah diakses oleh siswa melalui beragam situs di internet. Akses pornografi dilakukan siswa di warung internet atau melalui gawai yang mereka miliki, pada jam setelah sekolah bahkan pada jam sekolah (membolos). Kebiasaan mengakses konten pornografi membuat siswa terdorong mencoba-coba atau meniru perilaku yang sesungguhnya terlarang bagi mereka.

Ketiga, media sosial berperan meningkatkan intensitas dan gaya pacaran anak-anak, baik melalui tulisan, gambar, maupun video. Kemudahan mendapatkan gawai dari orang tua dan membeli kuota internet membuat siswa mudah pacaran secara daring (online). Dari pacaran daring ini siswa kemudian tertarik untuk mencobanya melalui praktik-nyata.

Keempat, pendidikan seks masih dianggap tabu di sekolah, di rumah, dan di masyarakat. Akibatnya, pemahaman siswa terkait pendidikan seks sangat lemah. Gaya pacaran siswa sudah melewati batas, sehingga bisa menimbulkan hamil. Aborsi kadang menjadi pilihan mereka. Keberanian bertindak yang melanggar norma agama dan sosial tersebut, karena siswa tidak paham dengan baik dampak pergaulan bebas, baik bagi kesehatan reproduksi maupun bagi masa depan mereka.

Kelima, hubungan antara orang tua dan anak tidak erat dan harmonis. Perhatian orang tua terhadap anak sangat kurang. Tidak ada komunikasi yang tulus dan hangat antara ayah-ibu dan anak-anak, minimal di dua hari libur, Sabtu dan Minggu. Orang tua tidak tahu senang-sedih dan prestasi-gagal anak di sekolah. Akhirnya, sandaran anak ketika menghadapi masalah bukan orang tua melainkan teman dekatnya.

Kerenggangan hubungan tersebut dikarenakan kedua orang tua terlalu sibuk kerja di luar rumah, kurang memahami cara mendidik anak, atau sikap acuh terhadap perkembangan dan teman-teman dekat anak. Kegagalan menciptakan kehangatan hubungan orang tua dengan anak terjadi pada mereka yang berpendidikan tinggi dan baik (well educated) dan mereka yang tidak berpendidikan (not well educated).

Kelima faktor pembentuk perilaku anak itu harus segera dilawan dengan kerjasama berbagai pihak yang peduli dengan masa depan kualitas generasi muda kita. Pertama, orang tua membatasi penggunaan gawai dan menonton televisi  anak-anak di rumah. Mereka mengajarkan anak apa saja yang boleh ditonton dan dibaca, dan apa saja yang tidak boleh. Kadang-kadang mengontrol penggunaan gawai dan mendampingi anak-anak menonton televisi  harus dilakukan orangtua.

Orang tua juga harus memiliki hubungan yang baik dengan anak-anak. Kecuali kebutuhan fisik berupa makanan, pakaian, dan permainan, anak-anak juga membutuhkan kasih-sayang tulus dari ayah-ibu. Kebersamaan saat makan, menonton televisi, belajar bersama, jalan-jalan ke mall, dan berlibur, merupakan momen dan waktu berharga untuk merajut kedekatan orang tua dan anak-anak. Pada saat tersebut orang tua bisa menjadi pendengar yang baik tentang kondisi anak pada satu sisi, dan memberikan nasihat pada sisi yang lain.       

Kedua, guru mengajarkan pendidikan seks sesuai norma agama dan sosial. Jika menghilangkan pacaran di kalangan pelajar adalah hal sulit, maka mengajarkan batasan-batasan pacaran adalah hal yang paling logis. Daripada membiarkan anak memaknai sendiri perasaan suka sesama jenis di antara mereka, sebaiknya guru memberikan panduan yang sesuai syar’i.

Kampanye bagaimana bahayanya pacaran di usia dini di sekolah perlu dilakukan terus-menerus, baik melalui ceramah, baliho, pamplet, maupun media sosial. Guru bersama orang tua dan siswa membuat pakta integritas “anti pacaran”. Gerakan ini harus dibungkus dengan baik, termasuk pendekatannya, sehingga anak-anak tidak reaktif dan emosional tetapi menerimanya dengan akal sehat.  

Ketiga, pemilik stasiun televisi hanya menayangkan acara-acara yang mendidik. Tontonan negatif terbukti berpengaruh buruk terhadap perilaku anak-anak dan remaja. Program yang mendatangkan iklan banyak tidak harus terkait percintaan remaja-dewasa dan mengumbar aurat par excellent. Sinetron “Si Doel Anak Sekolah”, “Para Pencari Tuhan”, dan “Preman Pensiun”, adalah beberapa contohnya.  

Pengusaha televisi, KPAI, badan sensor film, penulis skenario, produser, budayawan, dan akademisi perlu berkumpul membincang arah pembentukan karakter generasi muda Indonesia melalui televisi. Dengan demikian, televisi bukan sebagai tujuan memperoleh kekayaan pemiliknya semata, tetapi sebagai alat meningkatkan kualitas sumber daya manusia RI, lima hingga sepuluh tahun ke depan.

Pentingnya masa depan anak bagi Mendikbud, Anies Baswedan, dibuktikan dengan membentuk Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga, sebagai panduan orang tua dalam mendidik anak. Jangan karena kemajuan teknologi dan informasi, salah asuhan orang tua dan guru, dan tontonan tidak bermutu, anak-anak terlibat dalam pergaulan bebas yang berujung pada raibnya mahkota keperawanan dan keperjakaan mereka.

Saatnya memulai usaha bersama menyelematkan generasi muda dari pengaruh buruk teknologi dan lingkungan, dan memandu mereka berpegang kepada ajaran agama dan nilai-nilai luhur bangsa ini. Menanamkan ajaran agama dan nilai-nilai baik sejak dini di rumah dan di sekolah merupakan akar kuat kepribadian anak agar kelak mereka mampu bertahan dari berbagai godaan jin dan manusia.                       

Comments