News‎ > ‎

Sekolah yang Tak Dirindukan

diposting pada tanggal 14 Jun 2016 15.14 oleh Jejen Musfah FITK
Amanah, 08 Oktober 2015

Menanamkan budi pekerti tidak cukup hanya diajarkan, tetapi dibiasakan. Itulah inti Permendikbud No 21 tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Bahwa penanaman nilai dimulai dari diajarkan dan dibiasakan, kemudian menjadi kebiasaan, sehingga menjadi budaya. Pembentukan nilai dilakukan melalui jalur non-kurikuler, seperti sekolah wajib melaksanakan upacara, nyanyi, baca, dan doa.

Penumbuhan budaya baik di sekolah tidak mudah. Nilai-nilai baik diajarkan oleh guru tapi tidak dipraktikkan, maka yang terjadi adalah kegagalan menahun. Nilai-nilai baik hanya tertulis di buku-buku pelajaran, dinding-dinding sekolah, ceramah guru, dan arahan pembina upacara, namun tidak wujud di lingkungan sekolah. Berikut adalah empat contoh budaya yang sangat sulit ditemukan di banyak sekolah kita.    

Pertama, budaya bersih dan rapih. Banyak guru yang mengabaikan kebersihan dan kerapihan sekolah, seperti toilet, taman, ruang kelas, ruang guru, dan lingkungan sekolah. Jarang ada tempat sampah, tidak ada wastafel, saluran air mampet, dan debu menebal di meja dan jendela kelas adalah kondisi nyata sekolah.

Kondisi ini menyebabkan lingkungan sekolah kotor dan tidak nyaman untuk belajar dan bermain. Siswa tidak betah berada di sekolah. Dampaknya, sekolah kurang diminati kecuali dari keluarga yang tidak mampu. Keluarga kelas menengah tidak akan rela menyekolahkan anaknya di sekolah seperti ini.    

Kedua, budaya sehat. Jajanan anak-anak sekolah tidak sehat, guru, staf, dan kepala sekolah merokok di sekolah, dan tidak ada lapangan olahraga yang memadai di sekolah. Makanan tidak sehat bukan saja dijajakan di luar sekolah, bahkan di kantin sekolah. Jajanan tidak sehat menimbulkan penyakit. Guru merokok mengajarkan anak untuk merokok. Anak-anak yang tidak mendapat fasilitas olahraga, selain tidak sehat, juga mematikan bakat anak dalam bidang olahraga tertentu.  

Ketiga, budaya penghijauan. Halaman sekolah minim pepohonan, bunga, dan rumput, sehingga gersang dan panas, terutama pada siang hari dan musim kemarau. Sekolah dipenuhi debu, sehingga tidak nyaman bagi warga dan pengunjung sekolah. Belajar pun tidak efektif karena kondisi ruangan kelas yang panas. Pembangunan fasilitas sekolah tidak berorientasi penghijauan.  

Keempat, budaya baca. Sekolah tanpa ruang perpustakaan khusus sangat banyak bisa ditemui, bahkan di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Sulit menemukan pemandangan anak-anak membaca buku di lingkungan sekolah pada saat guru tidak hadir atau saat istirahat. Tidak ada fasilitas membaca di lingkungan sekolah. Budaya baca sulit tumbuh, karena fasilitas tidak ada dan atmosfir akademik tidak berkembang.     

Kegagalan sekolah mewujudkan budaya tersebut merupakan cermin bahwa guru masih memiliki karakter pemalas, cuek, munafik, egois, dan boros. Mengapa guru tidak membiasakan budaya-budaya baik padahal mereka bukan sekedar tahu tapi memahaminya? Menurut saya, karena komitmen dan kreativitas guru lemah. Sekolah diisi oleh guru-guru yang tidak profesional, meskipun sudah bersertifikat. Kepala sekolah tidak kompeten dan visioner karena pemilihannya bukan berdasarkan kompetensi, integritas, dan prestasi kinerja, tapi kolusi, korupsi, dan nepotisme.

Guru-guru di sekolah bukan orang yang dilahirkan dan/atau dididik menjadi guru yang profesional. Di banyak sekolah, tak jelas kriteria untuk menjadi guru. Banyak guru lulusan SMA, lulusan lembaga pendidikan guru abal-abal, dan lulusan fakultas non-keguruan yang tidak pernah mendapatkan pendidikan dan latihan keguruan. Guru kompeten tidak mau mengajar di sekolah dengan kondisi budaya buruk seperti di atas, karena memilih sekolah yang lebih baik dari beragam aspek, termasuk penghonoran.        

Mewajibkan sekolah melakukan pembudayaan kegiatan tertentu saja tidak cukup. Pemerintah perlu memperbaiki mutu guru sebagai kunci keberhasilan gerakan habituasi nilai-nilai baik.     Pertama, pelatihan guru secara merata yang bertujuan mengubah sikap, dari tidak peduli menjadi peduli pembentukan karakter; dari tidak kreatif menjadi kreatif.

Komitmen dan kreativitas merupakan kunci pembudayaan nilai-nilai di sekolah. Guru yang memiliki keduanya mampu mendesain kegiatan-kegiatan yang terkait pembudayaan, meski keuangan sekolah tidak terlalu besar. Pembudayaan nilai baik gagal total karena sekolah minim dana sekaligus minim guru yang kreatif dan berkomitmen.

Kedua, pembenahan lembaga pencetak guru (LPTK). Banyak LPTK abal-abal yang melahirkan banyak guru tidak kompeten, karena proses perkuliahannya tidak sesuai standar. Guru-guru alumni LPTK jenis abal-abal ini yang berkiprah di sekolah-sekolah yang nilai pembudayaannya sangat buruk. Guru yang sekedar mengajar tapi tidak mendidik siswa dengan kegiatan non-kurikuler.

Betapa pun seriusnya LPTK melaksanakan PLPG atau PPG, tanpa pembenahan LPTK-LPTK penyuplai bakal calon guru, kegiatan PLPG atau PPG hanya akan merupakan kegiatan pemborosan uang negara yang tidak jelas hasil dan dampaknya. Jumlah LPTK yang dapat dipercaya jauh lebih sedikit daripada LPTK yang tidak jelas.               

Kecuali itu, pemerintah bertanggung jawab memberikan bantuan fasilitas pendidikan yang standar kepada sekolah-sekolah secara adil, merata, dan tanggung jawab. Tidak mendahulukan negeri dari swasta, tidak memprioritaskan sekolah milik ormas tertentu dari sekolah yang dimiliki ormas lainnya, dan tidak mengambil keuntungan sedikit pun dari segala bentuk bantuan ke sekolah.    

Perubahan pola pikir guru melalui pelatihan perlu diikuti dengan bantuan fasilitas pendidikan dari pemerintah, terutama sekolah yang menampung mayoritas anak-anak dari keluarga miskin. Banyak sekolah yang didirikan bukan untuk meraup keuntungan dari orangtua siswa, melainkan murni untuk membantu anak-anak miskin. Sekolah-sekolah inilah yang harus menjadi prioritas pemerintah. Kelengkapan fasilitas pendidikan sangat mendukung gerakan penumbuhan budi pekerti.

Akhirul kalam, saat ini terdapat 53 juta siswa, 20 % dari total jumlah penduduk. Siswa-siswi tersebut tersebar di sekolah-sekolah yang mutunya beragam. Menarik pesan Mendikbud Anies Baswedan saat mengisi buku tamu di SDN 01 Lebak Bulus Pagi, Jakarta Selatan, Senin (27/7) pagi. “Jadikan sekolah ini taman pembelajaran yang menantang tapi menyenangkan. Kepala sekolah dan guru pancarkan darimu keteladanan budi pekerti untuk anak didik semua.”

Saya yakin, sekolah yang tidak bersih dan rapih, tidak sehat, tidak hijau oleh pepohonan, bunga, dan rumput, dan tidak punya perpustakaan yang memadai, sangat tidak menyenangkan bagi siswa. Benar, mereka mengikuti persekolahan setiap hari, tapi aktivitas belajar di dalam dan di luar kelas dilakukan sebagai rutinitas tanpa makna, sehingga tidak ngangeni. Tidak ada pilihan lain bagi siswa kecuali menerima takdir belajar di sekolah yang serba kekurangan fasilitas pendidikan. Sekolah mereka, adalah sekolah yang tak dirindukan.

 

 

 

 

 

 

 

                                                                                                                               

Comments