News‎ > ‎

Senja Kelam Dosen

diposting pada tanggal 14 Jun 2016 15.17 oleh Jejen Musfah FITK UIN Jakarta
Go Cakrawala, 11 Agustus 2015

Indonesia tidak hanya kekurangan dosen, tapi juga minim dosen yang bergelar doktor, apalagi profesor. Menurut data Kemenristek Dikti, dosen saat ini jumlahnya kurang dari 160.000 orang. Jumlah ini jauh dari cukup karena tidak sebanding dengan jumlah mahasiswa yang mencapai 5,4 juta orang.   

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dari sekitar 186.000 dosen di PT negeri dan swasta, hingga tahun 2014, masih 23,8 persen yang berpendidikan S-1. Dosen yang sudah S-2 sebesar 62,9 persen, dan S-3 baru sekitar 13,3 persen. 

 

Empat Kelemahan

Setidaknya ada empat faktor penyebab minimnya dosen yang bergelar doktor. Pertama, kemampuan Bahasa Inggris dosen lemah. Ini tidak mengherankan, karena tidak ada syarat standar minimal kemampuan bahasa dosen saat perekrutan. Parahnya, tidak ada upaya peningkatan bahasa dosen, baik atas inisiatif dosen sendiri maupun perguruan tinggi (PT). Padahal, bisa jadi PT punya cukup dana.  

Karena itu, meski beasiswa dalam dan luar negeri berlimpah, tapi sedikit dosen yang memenuhi kualifikasi beasiswa tersebut. Penghalang utamanya adalah skor TOEFL dosen di bawah 500. Serapan beasiswa program doktoral (S3) yang disediakan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) hanya capai 40%. Dari 5.000 beasiswa/tahun yang disediakan, hanya 2.000 beasiswa yang terserap. Penyebabnya, banyak peserta program ini belum berkualitas.

Kedua, kemampuan menulis dan riset dosen lemah, sehingga tak percaya diri kuliah doktoral. Kecuali menulis disertasi, di beberapa PT mahasiswa diwajibkan memiliki artikel yang diterbitkan di jurnal internasional. Referensi disertasi harus menggunakan buku dan jurnal berbahasa asing. Alih-alih menyiapkan kemampuan menulis dan riset sejak dini, dosen cenderung “kalah sebelum berperang”. Banyak dosen yang sedang menempuh studi doktoral namun terbentur penulisan artikel jurnal dan disertasi alias menjadi “mahasiswa abadi”.      

Ketiga, kemampuan finansial dosen lemah. Gaji dosen PNS golongan IV/A berada di kisaran 5 jutaan, tidak akan cukup membiayai kuliah dari kantung sendiri. Apalagi dosen non-PNS. Gaji dosen umumnya sudah teralokasikan untuk angsuran rumah, sepeda motor, atau mobil. Dengan biaya per-semester 8 juta, plus biaya lain-lainnya, kuliah doktoral membutuhkan dana lebih dari 100 juta. Suatu nominal yang cukup membuat dosen berpikir keras antara melanjutkan studi atau cukup S-2 saja.         

Keempat, dosen terjebak zona nyaman. Setidaknya ada tiga indikasi: (1) dosen enggan meninggalkan jabatan struktural di kampus, internal maupun eksternal; (2) dosen terjebak proyek di luar kampus; (3) dosen terlalu banyak mengajar. Acapkali dosen tidak hanya mengajar di satu kampus.

Tiga hal ini melenakan dosen untuk menyelesaikan studi hingga tingkat doktoral. Dalam kadar tertentu, bahkan menjauhkan dosen dari jati diri sebagai akademisi. Dosen yang menjabat di kampus misalnya, walaupun mendapatkan tunjangan jabatan dan lainnya, kewajibannya datang ke kampus tiap hari dan menangani tugas-tugas administratif, acap kali membuat dosen tak punya banyak waktu membaca, menulis, dan riset.

Tiga zona nyaman itu tak mudah dilepaskan dosen karena terkait rupiah. Dosen yang melanjutkan studi dengan status tugas belajar akan kehilangan sejumlah pemasukan, seperti tunjangan fungsional dan sertifikasi dosen. Hanya dosen nekat yang berani melanjutkan kuliah, tanpa beasiswa penuh dari pemerintah.       

 

Tiga Solusi

Muara dari setiap kelemahan dosen tersebut adalah motivasi belajar dosen yang lemah. Belajar sepanjang hayat sebagai ciri seorang pendidik tak tampak pada diri dosen. Diakui, tak mudah menumbuhkan minat belajar dosen, kecuali ada kebijakan dari atas (top down) yang dimaksudkan merangsang para dosen melanjutkan studinya. Saya pikir belum terlambat, pemerintah dan para pimpinan PT mengambil solusi berikut.                 

Pertama, pelatihan bahasa dan riset. Kampus secara bertahap mengkarantina dosen-dosen untuk belajar bahasa asing, baik di dalam maupun di luar negeri, sebagai persiapan memperoleh beasiswa S-3. Kemampuan bahasa tanpa keterampilan menulis dan riset tidak cukup, maka kegiatan kampus difokuskan pada penguatan writing and research skills dosen. Peningkatan kemampuan riset akan lebih sulit dibanding kemampuan bahasa, karena yang pertama membutuhkan setidaknya penguasaan metodologi dan substansi sekaligus writing skills.       

Kedua, dosen yang tak kunjung menyelesaikan studinya menandatangani pakta integritas, yang berisi kesanggupan menyelesaikan studi. Sangat elok kalau dosen melepaskan jabatan strukturalnya di kampus demi fokus menulis disertasi. Statuta PT mungkin perlu dikaji, di antaranya adalah syarat menjadi dosen dan menduduki jabatan struktural kampus harus berpendidikan S-3.

Ketiga, memberikan hadiah kepada dosen yang selesai S-3. Meski gelar doktor merupakan “tangga pertama” menuju profesor—yang tunjangannya “lumayan besar”, dan syarat mutlak untuk kenaikan jabatan lektor kepala (IV/A), keduanya tak mampu memotivasi dosen untuk meneruskan studi ke jenjang S-3. Karena itu, memberi hadiah bagi dosen yang sukses menjadi doktor bisa dicoba. Intinya, program kreatif perlu dilahirkan untuk memacu semangat dosen meraih gelar doktor.

Akhirul kalam, apa pun program pemerintah dan PT untuk mendorong dosen kuliah S-3 tidak akan berhasil jika motivasi dosen sendiri lemah. Motivasi dari dalam penting karena tidak mudah kuliah sambil bekerja atau berkeluarga. Waktu perlu dibagi antara tugas kuliah dengan tugas keluarga. Kesungguhan dosen dalam meraih gelar doktor adalah cermin kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan, meski seribu rintangan menghadang. 

Dosen semestinya tidak puas hanya dengan bergelar magister, bahkan doktor dan profesor sekalipun. Ia harus terus meningkatkan pengetahuan, kompetensi mengajar, dan risetnya sesuai perkembangan zaman. Disebutkan, “If you’re not willing to learn no one can help you. If you’re determined to learn, no one can stop you.”

Ketika dosen tidak tertarik meneruskan kuliah, tidak merasa perlu meningkatkan kemampuan berbahasa asing, dan tidak tertarik melakukan riset, di situ saya merasa senja kelam dosen benar-benar terjadi.               

Comments