News‎ > ‎

Skripsi yang Terbuang

diposting pada tanggal 14 Jun 2016 14.36 oleh Jejen Musfah FITK
Amanah, 28 Maret 2016

Pemusnahan skripsi yang dilakukan oleh perpustakaan UIN Alauddin Makassar, sempat membuat terkejut masyarakat. Mereka tidak habis pikir mengapa kampus bisa berbuat demikian. Skripsi hasil kerja keras mahasiswa selama satu semester atau lebih dibuang seolah tidak bernilai. Pemusnahan skripsi mungkin tidak hanya dilakukan oleh kampus tersebut, kampus-kampus lainnya di republik ini juga melakukan hal yang sama. Bukan hanya skripsi, tesis, dan disertasi juga bisa jadi mengalami nasib serupa.

Apakah membuang karya ilmiah mahasiswa (skripsi, tesis, disertasi) dalam bentuk hard copy adalah hal yang salah, tidak baik? Kebijakan skripsi di kampus kita perlu segera direvisi. Kampus harus merupakan lembaga pertama dan utama yang mendukung program go green, peka terhadap isu pemanasan global, dan menciptakan kampus hijau. Penggunaan kertas di kampus tidak berorientasi pada hemat kertas, paperless.     

Pertama, skripsi lebih berorientasi pada kuantitas bukan kualitas. Wajib bersampul tebal, minimal 60 halaman, 2 spasi, tidak bolak-balik, adalah contohnya. Saya sering menguji skripsi dengan ketebalan lebih dari 150 halaman, karena lampirannya yang beragam. Tidak ada yang salah dengan ketebalan asal berkualitas, berisi. Skripsi mahasiswa sering tebal karena berisi banyak kutipan dari berbagai penulis tetapi minim ide. Sulit menemukan analisis mahasiswa dalam skripsi.    

Berapa rim kertas dihabiskan oleh satu orang mahasiswa dalam delapan semester, untuk membuat makalah dan menulis skripsi? Berapa rim kertas dihabiskan prodi, fakultas, dan rektorat, dalam setahun, untuk undangan, pengumuman, pamflet, brosur, dan penjadwalan ujian? Pernahkah dekan dan rektor melihat hal tersebut sebagai masalah besar, sehingga melahirkan program penghematan kertas di kampus?

Seiring bergulirnya waktu, jelas skripsi mahasiswa akan menumpuk di perpustakaan prodi, fakultas, dan universitas, sementara bangunan kampus lamban mengalami perluasan. Mahasiswa silih berganti melahirkan skripsi sementara gedung kampus semakin sempit karena jumlah mahasiswa dan dosen terus bertambah. Menyortir skripsi merupakan pilihan tak terelakan. Sungguh sayang jika skripsi bagus dan belum didaringkan dibuang atau terbuang.            

Kedua, sudah lebih dari 10 tahun, banyak perguruan tinggi negeri dan swasta yang mendigitalisasi skripsi dalam bentuk pdf dan mengunggahnya di sumber elektronik (e-resources) kampus. Tidak hanya abstrak, kadang dalam bentuk utuh skripsi. Skripsi, tesis, dan disertasi bisa diunduh siapa saja yang memerlukan sebagai bahan referensi. Demikian juga dengan jurnal. Sekarang, kita mudah memperoleh artikel-artikel hasil penelitian yang kita butuhkan, karena jurnal sudah wajib daring (online).

Masalahnya, apakah semua skripsi, tesis, dan disertasi otomatis akan dimuat di laman tersebut? Jika kita sepakat bahwa tidak semua karya ilmiah mahasiswa memenuhi kriteria standar sebuah karya ilmiah, apakah tidak sebaiknya memilih yang baik dan terbaik saja yang diunggah ke website. Sehingga, apa yang akan diunduh, dibaca, dan dijadikan referensi oleh mahasiswa, dosen, peneliti, dan pegiat pendidikan di republik dan belahan bumi lainnya adalah benar-benar sesuatu yang bernilai dan bermutu, bukan abal-abal—apalagi hasil plagiasi. Kita belum serius memerangi plagiasi di kampus, bukan?              

Oleh karena itu, pertama, skripsi, tesis, dan disertasi lebih berorientasi kepada kualitas daripada kuantitas. Revisi fisik skripsi mencakup: sampul tipis, penggunaan kertas dua sisi, dan cukup 15 hingga 25 halaman saja—dalam format artikel ilmiah. Tesis dan disertasi bisa dibuat aturan khusus. Revisi substansi skripsi mencakup: kaya referensi, penguasaan metodologi, ketajaman analisis/ ide penulis, dan ketepatan penarikan kesimpulan.   

Kedua, pemilihan karya ilmiah mahasiswa yang layak publikasi di website atau di jurnal. Dosen pembimbing dan penguji bisa menjadi tim penilai kelayakan publikasi tersebut (menjadi sarjana tidak identik dengan kemampuan menulis ilmiah yang baik). Karya ilmiah mahasiswa yang bagus bukan saja perlu dimuat di website, tetapi diterbitkan di jurnal sehingga orang bisa mudah menemukan dan membacanya; tingkat keterbacaannya luas.     

 

Comments