News‎ > ‎

Takwa dan Gerakan Seribu

diposting pada tanggal 14 Jun 2016 16.15 oleh Jejen Musfah FITK UIN Jakarta
Go Cakrawala, 24 Juli 2015

 Melihat foto-foto para sahabat yang sedang umroh di laman facebook bukan hal baru dan asing lagi bagi kita. Tawaran umroh berseliweran melalui media cetak dan media sosial. Hasilnya, ibadah umroh sudah menjadi tren di kalangan kelas menengah muslim. Fenomena baru ini layak disambut positif, tetapi juga patut dikritisi dari aspek makna takwa, khususnya dalam konteks keindonesiaan.

Singkatnya, apakah muslim yang sering pergi umroh sudah bisa dikatakan sebagai orang yang bertakwa? Demikian juga, apakah fenomena antusiasme muslim Indonesia dalam berhaji menandakan ketakwaan—sebagaimana yang dimaksudkan dalam ajaran Islam? Jika tidak, apa alasan dan bagaimana meluruskan paham muslim Indonesia ini?       

Dimensi Takwa

Di antara dimensi ketakwaan seorang muslim adalah kesalehan spiritual dan kesalehan sosial. Indikator kesalehan spiritual adalah menjalankan salat, puasa, zakat, haji, dan umroh. Sedangkan di antara indikator kesalehan sosial adalah infak, sodakoh, dan menyantuni anak yatim. Tidak sempurna ketakwaan seseorang jika hanya memiliki kesalehan spiritual, namun lemah dalam kesalehan sosial.  

Umat muslim Indonesia yang mampu sangat antusias menjalankan ibadah haji dan umroh. Meski wajib haji hanya satu kali, muslim kaya bisa berangkat ke tanah suci dua kali, tiga kali, bahkan lebih. Muslim kaya tidak perlu antri lama, seperti jamaah haji reguler yang harus menunggu sembilan hingga 12 tahun, karena mampu membayar di atas rata-rata.        

Antusiasme muslim dalam berhaji dan berumroh—terutama di Ramadhan, tidak berbanding lurus dengan antusiasme mereka dalam menjawab problem-problem kemasyarakatan, seperti kemiskinan dan mutu madrasah. Berapa banyak anak-anak yang tidak bisa madrasah karena faktor ekonomi, dan berapa banyak fasilitas belajar madrasah yang sangat tidak memadai, seperti ruang kelas belajar, papan tulis, perpustakaan, dan toilet?

Ketimpangan sikap keberagamaan umat muslim itu karena pemahaman mereka yang keliru tentang makna takwa. Seolah sudah menjadi hamba saleh dengan menjalankan ritual spiritual, padahal abai terhadap problem-problem sosial. Takwa adalah kesediaan muslim menyelesaikan persoalan sosial di samping kepatuhan dalam menjalankan ritual spiritual.

Inilah tantangan muslim Indonesia abad ini. Paradigma muslim seperti ini harus berubah atau diubah ke pemahaman Islam yang holistik atau komprehensif. Bahwa Islam mendorong umatnya untuk memecahkan problem-problem sosial dan pendidikan. Memberikan beasiswa, membangun toilet, dan membangun perpustakaan lebih bermakna daripada pergi haji dan umroh berkali-kali.

Meluruskan Paham

Para dai dan daiah perlu meluruskan paham umat muslim yang lebih mementingkan kesalehan spiritual daripada kesalehan sosial ini, mulai dari majlis taklim, khutbah Jumat, tabligh akbar, hingga program keagamaan di televisi. Bukan tidak ada dai yang menjelaskan pentingnya kesalehan sosial, tetapi seperti apa dan bagaimana wujudnya memerlukan penjelasan yang lebih kontekstual sesuai dengan kondisi masyarakat dan pendidikan Nusantara.

Jika pahala dan manfaat umroh misalnya, hanya untuk muslim yang melaksanakannya, maka manfaat memperbaiki dan menyediakan fasilitas pendidikan adalah untuk masyarakat luas yang pahalanya jelas tidak sedikit. Muslim kelas menengah saatnya merangkul (atau dirangkul) madrasah yang kondisi fasilitasnya sangat jauh dari standar.

Kepala sekolah atau yayasan membuka diri terhadap kontribusi masyarakat yang bertujuan memajukan pendidikan madrasah, bukan sebaliknya menutup diri. Kepercayaan masyarakat harus diikuti dengan pengelolaan madrasah dengan prinsip-prinsip tanggung jawab, transparan, keadilan, dan sesuai aturan.           

Gerakan Seribu

Ketika negara tidak sanggup menyediakan fasilitas pendidikan yang layak, maka peran serta masyarakat merupakan suatu kewajiban yang tak bisa ditawar sedikitpun. Bukan karena Indonesia negara miskin (sungguh Indonesia negara kaya-raya), tetapi karena para eksekutif dan legislatifnya hanya berpikir kepentingan pribadi dan golongannya saja. Rakyat dilupakan, meski dalam bicaranya selalu mengatasnamakan rakyat.    

Sebagai aktualisasi kesalehan sosial, saya menyerukan pentingnya banyak gerakan yang muncul dari bawah (bottom up), di mana masyarakat mulai peduli dan berkontribusi terhadap mutu pendidikan, khususnya pendidikan dasar. Sebut saja misalnya, “Gerakan Seribu Toilet Madrasah”, “Gerakan Seribu Perpustakaan Madrasah”, “Gerakan Seribu Ruang Kelas Baru”, dan “Gerakan Satu Juta Papan Tulis”.

Saya yakin ini bukan ide baru. Di luar sana, entah di mana, yang pasti di Bumi Pertiwi kita, sudah ada gerakan peduli mutu pendidikan. Hanya saja, di Ramadhan kali ini, bersama kita mewujudkan cita mulia peduli mutu pendidikan dasar ini melalui aktualisasi kesalehan sosial yang lebih nyata, sebagai wujud ketakwaan kepada Allah Swt.

Di negeri yang jamaah haji dan umrohnya besar ini kita menemukan fakta fasilitas madrasah yang jauh di bawah standar—negeri maupun swasta. Ironis, padahal Islam mengajarkan keseimbangan dalam perilaku saleh, dimensi spiritual dan dimensi sosial. Bersediakah seorang muslim menukar biaya umroh yang kedua dan ketiga  mereka dengan satu perpustakaan madrasah atau satu toilet madrasah?

Bila diperlukan, perpustakaan diberi nama sesuai dengan nama penyandang dananya.  Bukan untuk riya atau pamer, tetapi penghargaan kepada sang dermawan. Ini tidak akan menghapus pahala kebaiknnya di sisi Allah Swt. Ditulis atau tidak, Allah Maha Mengetahui apa yang ada dalam hati setiap hamba-Nya. Karena itu, lebih baik ditulis atau diberi nama, sebagai bukti gerakan peduli pendidikan dari umat muslim Indonesia.

Siapa peduli mengawali kampanye gerakan-gerakan ini semasif ajakan agen-agen travel untuk umroh dan haji ke tanah suci? Ada banyak pilihan paket, dari hotel bintang dua hingga hotel bintang lima. Semakin banyak bintang, semakin nyaman pelayanan dan fasilitasnya, tentu harganya juga lebih mahal. Karena yang berminat banyak, anda harus rela antri. Setor uang down payment dulu, berangkat tahun depan atau dua tahun kemudian.

Untuk gerakan seribu di atas, bisa menyodorkan konsep paket A, B, hinga C, di mana setiap paket punya harganya sendiri-sendiri. Untuk Gerakan Seribu Toilet misalnya, paket A = Rp 12.000.000, paket B = Rp 10.000.000, dan paket C = Rp 8.000.000. Ini sekedar contoh, di mana hitungan pasti perpaket disesuaikan dengan kondisi wilayah masing-masing.

Demikianlah, tidak ada yang salah dengan antusiasme muslim terhadap haji dan umroh. Uang-uang mereka, hasil jerih payah mereka. Untuk apa uang mereka adalah hak mereka. Dikatakan banyak orang, bahwa setiap orang yang pernah ke Tanah Suci pasti rindu untuk pergi lagi ke sana. Tetapi, apa kata dunia, muslim Indonesia banyak yang kaya (buktinya rajin haji dan umroh), tetapi fasilitas madrasahnya sangat kurang dan memprihatinkan. Jangankan fasilitas, gaji gurunya pun dalam sebulan hanya Rp 250.000. What?!         

               

 

Comments